Mendulang Permata dari Lautan Taqwa

Taqwa adalah wasiat Allah -Azza wa Jalla- kepada generasi ummat-umat terdahulu dan kepada umat sekarang sampai akhir zaman. Ini tergambar dalam firman Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (yang artinya):

“Sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. (QS. An-Nisaa’: 131).

Al-Imam Al-Hafizh Abul Faroj Ibnu Rajab Al-Hanbaliy -rahimahullah- berkomentar saat menjelaskan sebuah hadits agung tentang taqwa, “Wasiat ini adalah wasiat yang agung lagi menyimpulkan seluruh hak-hak Allah, dan hak-hak para hamba, sebab hak Allah atas para hamba-Nya adalah mereka bertaqwa kepada-Nya dengan sebenarnya. Taqwa adalah wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu dan belakangan”. [Lihat Iqozhul Himam min Jami’ Al-Ulum wal Hikam (hal. 242), karya Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy]

Nah, apa itu taqwa?! Kita sering mendengar kata “TAQWA” di atas mimbar-mimbar dari lisan para dai-dai. Cuma banyak diantara kita yang tidak memahami kandungan faedah yang berkilau bagaikan intan pertama yang terpendam di dalam kata “taqwa”. Permata taqwa itu perlu kita gali dari tempatnya, sehingga kita mengenal arti taqwa, keutamaan taqwa, kedudukan taqwa, pilar-pilar taqwa, dan buah dari taqwa.

Banyak diantara kita yang sering melihat dan mendengar permata taqwa ini dari orang-orang (dai-dai) yang menjajakannya. Tapi ia tak mengerti permata taqwa yang hakiki dan sebenarnya, bahkan ia hanya mendengar dan melihat permata taqwa yang palsu, dan bukan sebenarnya. Sebab orang-orang yang menjajakan permata tak mengerti hakikat permata yang ditawarkankannya. Mungkin si dai itu sendiri tak mengerti permata yang asli dan palsu sehingga ia terus-menerus mengelabui manusia karena kejahilannya.

Pembaca yang budiman, disinilah pentingnya menggali makna dan rahasia taqwa agar kita mendulang keutamaan dari lautan taqwa. Para ahlul ilmi (ulama) telah mengutarakan pengertian dan makna taqwa. Nah, kali ini kita perlu menukil pengertian taqwa dari para ahlul ilmi :

Al-Imam Ar-Roghib Al-Ashfahani mendefenisikan, ”Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa , dengan cara meninggalkan apa yang dilarang, dan hal itu menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.” [Lihat Al-Mufrodat fi Ghoribil Qur’an(hal. 545)].

Al-Imam An-Nawawi mendefenisikan taqwa dengan, ”Mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya.” [Lihat Tahrir Alfazh At-Tanbih (hal. 322)].

Al-Imam Ibnu Rojab-rahimahullah- berkata, “Taqwa seorang hamba kepada Allah, ia membuat pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang ia takuti dari Robb-nya berupa kemarahan, murka, dan siksaan-Nya; pelindung itu akan menjaga dirinya dari hal tersebut. Sedang ia (pelindung itu) adalah melakukan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi kedurhakaan kepadaNya”. [Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam (1/158)]

Seorang tabi’in, Tholq bin Habib-rahimahullah- berkata, “Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu) dari Allah karena mencari pahala di sisi Allah, dan engkau meninggalkan maksiat berdasarkan cahaya (ilmu) dari Allah, karena takut terhadap siksaan-Nya”. [Lihat Ar-Risalah At-Tabukiyyah (hal.10)]

Dari beberapa buah makna yang diutarakan oleh para ahli ilmu tersebut, kita bisa memetik faedah bahwa taqwa memiliki beberapa pilar:

Melakukan Ketaatan karena Mengharap Pahala di sisi Allah
Meninggalkan dan Menjauhi Maksiat karena Takut kepada-Nya.
Mengilmui Ketaatan yang akan Dikerjakan, dan Maksiat yang ia Jauhi.

Barangsiapa yang mengaku bertaqwa, namun ia tak melakukan ketaatan (seperti, sholat), maka ia tak mungkin akan mencapai puncak taqwa. Ini adalah peringatan bagi orang-orang sufi yang mengaku bertaqwa, walaupun tak lagi mengerjakan sholat!!

Demikian pun, siapa saja yang mengaku bisa bertaqwa dengan sempurna, sedang ia berlumur dosa. Demi Allah, ini hanyalah khayalan dari setan!! Seorang yang mau mencapai puncak taqwa harus meninggalkan maksiat. Jika ia terlanjur bermaksiat, maka ia segera memperbaiki dirinya dan meninggalkan maksiat serta bertobat kepada Allah dengan menyesali dosa maksiat tersebut, dan menggantinya dengan kebaikan dan amal sholeh.

Inilah yang digambarkan oleh Allah -Ta’ala- dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (QS. Ali Imron: 133-136).

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Mu’adz,

حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada; iringilah (tutupilah) kejelekan itu dengan kebaikan, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik, niscaya hal itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan itu”. [ HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (1987). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (97)]

Allah -Ta’ala- menyifati orang-orang yang bertaqwa dengan mempergauli makhluk dengan kelakuan baik, seperti berinfaq, menahan amarah, memberi maaf kepada mereka. Jadi, Allah menggabungkan dua hal dengan menggambarkan mereka dengan sifat memberikan infaq, dan menahan beban gangguan orang lain. Sedang ini adalah puncak kebaikan akhlaq yang diwasiatkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada Mu’adz. Kemudian Allah menyifati mereka bahwa mereka, apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak terus-menerus di atas dosa. Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang bertaqwa terkadang terjadi pada diri mereka dosa-dosa besar (yakni perbuatan keji), dan dosa-dosa kecil (yakni, menzholimi diri sendiri). Tapi, mereka tidak terus-menerus di atas dosa-dosa itu; mereka segera mengingat Allah setelah terjadinya hal itu, dan memohon ampunan kepada-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Sedang tobat itu adalah tidak terus-menerusnya seseorang di atas maksiat. [Lihat Iqozhul Himam (hal. 250) karya Salim Al-Hilaliy]

Seorang yang mengingat Allah, kebesaran, kerasnya siksaan Allah akan melahirkan kesadaran untuk segera rujuk dan bertobat kepada Allah pada saat itu juga, memohon ampunan dari-Nya, dan tidak lagi terus di atas maksiat. [Lihat Al-Muntaqo min Jami’ Al-Ulum (hal. 250)]

Allah -Ta’ala- berfirman (yang artinya),

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa godaan dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”. (QS. Al-A’raaf: 201).

Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Al-Qurosyi -rahimahullah- berkata, “Allah -Ta’ala- mengabarkan tentang orang-orang bertaqwa dari kalangan hamba-hamba-Nya yang kepada-Nya dalam perkara yang Dia perintahkan, dan meninggalkan sesuatu yang Dia larang, bahwa bila mereka ditimpa godaan setan, maka mereka mengingat siksaan Allah, pahala yang besar, janji, dan ancaman-Nya. Kemudian mereka pun bertobat, sadar, berlindung kepada Allah, dan rujuk kepada Allah dalam waktu yang cepat”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (2/370) dengan sedikit tashorruf]

Ketika seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaknya seorang melakukannya karena mencari pahala di sisi Allah -Azza wa Jalla-, bukan karena mencari pujian, jabatan, KURSI, dan perhatian manusia!! Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”. (QS. Al-Anbiyaa’: 90).

Inilah tanda orang yang ikhlash dalam amalan ketaatannya; ia melakukan kebaikan karena mengharap pahala, dan meninggalkan maksiat karena cemas terhadap siksaan yang disediakan oleh Allah atas maksiat itu.

Keikhlasan dalam ketaatan dan ibadah adalah syarat diterimanya amal ibadah kita, karena syarat diterimanya pahala amal kita ada dua: IKHLASH dan ITTIBA’ (meneladani petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahlul ilmi [Lihat Tafsir Ibnu Katsir(1/156), dan Tahqiq Adab Al-Isyroh (hal.4)]

Selain itu, ketaatan yang kita akan lakukan, harus dilandasi fondasi ILMU SYAR’I, yakni ilmu wahyu yang tersimpan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana hal maksiat yang kita akan jauhi atau tinggalkan harus diilmui dan disadari bahwa itu adalah maksiat. Jadi, seorang yang mau bertaqwa haruslah mengamalkan ketaatan yang didasari oleh ilmu syar’iy, bukan hanya taqlid buta, karena boleh jadi -jika ia jahil-ia menyangka suatu perbuatan adalah amal ibadah dan ketaatan, eh ternyata amal buruk, seperti kondisi orang-orang yang melakukan DZIKIR JAMAAH dewasa ini, atau orang-orang yang membersihkan hatinya dengan lantunan musik!! Dikiranya amal sholeh, ternyata perbuatan baru yang tak ada tuntunannya dalam Islam!!!

Seorang yang meninggalkan maksiatpun harus atas dasar ilmu, karena boleh jadi ia meninggalkan suatu perkara ketaatan, karena ia mengiranya sebagai kemaksiatan, seperti sebagian orang, ada yang meninggalkan nikah karena alasan nikah itu adalah perkara yang menyibukkan dari mengingat Allah sehingga nikah itu seakan sebuah maksiat yang ditinggalkan. Padahal teladan kita, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menganjurkan kita menikahi wanita. Andaikan nikah terlarang, maka beliau pasti tak akan menikah dan tidak menganjurkannya.

Karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah menegur tiga sahabat yang tak mau nikah, sholat semalam suntuk, dan puasa terus-menerus,

أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟! أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لأَخْشَاكُمْ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ, لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّيْ وَأَرْقُدُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

“Kaliankah yang menyatakan begini dan begitu?! Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan paling bertaqwa kepada-Nya. Tapi, aku tetap berpuasa dan tidak puasa, sholat dan tidur, serta menikahi para wanita. Barangsiapa yang membenci sunnah (petunjuk)ku, maka ia bukan termasuk dari golonganku”. [HR. Al-Bukhoriy dalamKitab An-Nikah (9/104_ Fath), dan Muslim (1401)]

Disinilah nampak fungsi dan urgensi ilmu, sebab ia akan menuntun dan menjelaskan kepada kita antara yang baik dan yang buruk. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهًُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. [HR. Muslim dalam Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du’a (38)]

Seorang yang berilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga. Kenapa?! Karena dengan ilmunya, ia akan mengetahui sesuatu yang diperintahkan oleh Allah sehingga ia pun mengerjakannya; ia kan mengetahui juga perkara yang dilarang oleh Allah sehingga ia pun menjauhi dan meninggalkannya. Nah, inilah disebut orang “MUTTAQIN” (orang-orang yang bertaqwa). Semoga Allah menjadikan kita orang yang bertaqwa kepada-Nya, amin…

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 109 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).