Hukum Hormat Bendera

Di sebagian negeri-negeri Islam, ada kebiasaan yang sudah dianggap lumrah, yaitu memberikan penghormatan kepada bendera sambil diiringi dengan lagu kebangsaan.
Dalam rubrik fatwa kali ini, kami mengajak anda menyimak penjelasan dari seorang ulama’ negeri Syam yang dikenal dengan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah-.
Beliau pernah ditanya dengan sebuah pertanyaan, “Apa hukumnya berdiri di depan bendera serta apa hukumnya diam dari gerakan dan berdiri tegap di depan bendera di saat (kumandangkannya) lagu kebangsaan?”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata,
Perbuatan seperti ini tak ragu lagi, ia termasuk adat kebiasaan orang-orang Eropa kafir. Sementara itu kita dilarang taqlid (mengikut buta) kepada mereka dengan berbagai macam larangan, baik yang umum, maupun yang khusus. Pada hakikatnya tak boleh bagi negeri muslim manapun untuk mengadopsi (mengambil) sesuatu apapun dari adat kebiasaan kaum kafir. Tapi sebenarnya permasalahan ini kembali kepada orang-orang yang memiliki keputusan untuk tidak memberi izin bagi hal itu. Tak ragu lagi bahwa pemerintah muslim yang tak ada pemerintah lagi di atas mereka di dunia, dialah yang mampu mengubah dan kebiasaan ini dan adat-adat kaum kafir dengan kebiasaan yang islamiy. Adapun seorang yang menjadi pegawai atau tentara, sedang ia tak mampu, kecuali harus mengikuti aturan yang menyimpang dari Islam ini, maka disinlah akan tampak tingkatan (keimanan) manusia berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku telah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan dengan tangannya. Jika ia tak mampu (dengan tangannya), maka dengan lisannya. Jika ia tak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman”. [HR. Muslim (no. 49)]
Kami tahu bahwa problema seperti ini sering kali terjadi di sebagian negeri-negeri Islam, karena hal ini –sebagaimana yang kami katakan- adalah kebiasaan orang-orang asing. Sebagai contoh, di sebagian negeri Arab muslim, seorang tentara tak diizinkan untuk berjenggot. Jadi, manusia berada di atas tingkatan-tingkatan yang telah datang penyebutannya dalam hadits tadi.
Kebanyakan orang hari ini, ketika ia masuk dalam ketentaraan, maka mereka pun cukur jenggot. Itulah aturannya. Sebagian orang tak mau mencukurnya; mereka hanya mencukurnya karena kelemahan mereka. Sebagian lagi –tapi ini jarang sekali dan disini di Yordania dan Suriah ada contohnya-, ia tegar dan sabar mengalami siksaan dan pemenjaraan dan sebagainya. Setelah itu, Allah -Azza wa Jalla- tolong dia. Maka anda akan melihatnya sebagai tentara yang berjenggot, sedang ribuan orang lainnya tanpa jenggot.
Jadi, permasalahan seperti ini ada hubungannya dengan kekuatan iman pada diri seorang mukallaf. Orang ini dibebani untuk menghormati bendera dengan cara hormat yang tidak islamiy; tanpa ragu bahwa ia mampu untuk tidak memberi penghormatan. Tapi ia tahu bahwa di depannya ada penjara dan penyiksaan. Terkadang juga ada hal-hal lain yang kami tak tahu (misalnya, dipecat, –pent.). Maka mukmin yang kuat imannya akan bersabar. Kemudian tak ada setelah kesabaran, kecuali pertolongan sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah -Azza wa Jalla- kepada kaum beriman. Sebagian orang lagi ada yang tak mungkin, kecuali harus hormat bendera, sementara hatinya tetap ingkar terhadap gaya hormat ini. Demikianlah halnya kita harus tahu bahwa perkara seperti ini adalah perkara mungkar dan bahwa orang yang terpaksa melakukannya, –paling minimal- ia mengingkarinya dalam hati, karena tak ada lagi di balik itu iman sedikitpun sebagaimana yang telah diketahui dalam sebagian riwayat-riwayat shohih bagi hadits tadi”.

Soal Kedua:
“Apakah sekedar berdiri tegak di hadapan bendera akan merusak tauhid?”
Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- menjawab, “Ya, akan merusak Islam, syariat dan adab-adab islamiy. (Allah berfirman),
يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [المطففين:6]
“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthoffifin : 6)
Perbuatan ini (yakni, berdiri tegak depan bendera) lebih menyerupai pengagungan terhadap arca-arca. Karena, bendera ini hanyalah ibarat sehelai kain. Tapi itulah sikap taklid buta kepada orang-orang Eropa dan ini kita sayangkan!!”
[Sumber Fatwa: Duruus li Asy-Syaikh Al-Albaniy (7/23)-Syamilah]

Keterangan: Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- adalah salah seorang ulama hadits dari Yordania yang handal di bidangnya. Beliau banyak menelurkan hasil karya berupa tulisan dan artikel ilmiah. Diantara karya beliau yang banyak dipakai di dunia, kitab beliau Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah dan Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah. Beliau wafat pada tahun 1420 H.

http://pesantren-alihsan.org/hukum-hormat-bendera.html