PURWAKARTA, KOMPAS.com – Aquarina Wahyu Purwanti (17) atau biasa disapa Arin, setiap hari harus berjualan susu kedelai demi membiayai sekolahnya. Ketekunan dan kerja kerasnya itu mengantar Arin meraih beasiswa belajar di Amerika Serikat, sekaligus menarik minat sponsor untuk membiayai kuliah.
Juli 2012 ini, siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Purwakarta, Jawa Barat, itu baru saja kembali ke Tanah Air setelah satu tahun belajar di Springfield High School (SHC), Oregon, Amerika Serikat.

Dia bukan dari keluarga kaya atau sekolah menengah atas (SMA), sebagaimana kebanyakan peserta program pertukaran pelajar.

Selain mencicip belajar di SHC, Arin berkesempatan berjumpa dengan siswa dari sejumlah negara yang juga belajar di SHC. Sesuai bidang kompetensinya, yakni jurusan elektronika, Arin juga praktik langsung di Kelly’s Directional, perusahaan produsen perangkat elektronik di Oregon AS. Ini tentu kesempatan langka untuk seorang siswa SMK.

Satu tahun program belajar telah rampung dijalani Arin. Namun, Karl Grimes, orang tua asuh Arin yang juga Vice President Kelly’s Directional, menyatakan siap mensponsori Arin untuk melanjutkan kuliah di AS. Ini berkat prestasi akademiknya yang menonjol, seperti mata pelajaran matematika yang memperoleh nilai sempurna.

“Mereka siap menampung, kapan pun Arin mau kembali ke sana,” kata ibu Arin, Rimba Wahyuni (43).

Menurut Jaka Slamet Riyadi, Wakil Kepala SMKN 1 Purwakarta, prestasi akademik Arin menonjol dalam sejumlah mata pelajaran, terutama matematika dan bahasa Inggris. Dia juga berprestasi dalam olah vokal, karate, dan olimpiade sains tingkat lokal maupun regional.

Terus bergerak

Di balik segenap prestasi itu, Arin adalah siswa yang tangguh. Setiap pagi, sebelum masuk sekolah, dia harus menjual susu kedelai buatan ibunya ke warung-warung dan sejumlah rumah sakit di Kabupaten Purwakarta.

Ada ratusan kantong plastik berisi aneka rasa susu kedelai yang dia jajakan setiap pagi, sehingga tak jarang terlambat masuk ke kelas.

“Hasilnya, rata-rata Rp 10.000 per hari,” kata Arin.

“Dia mengambil keuntungan Rp 100 dari setiap kemasan. Hasil kerja itulah sumber uang sakunya,” tambah Rimba.

Sejak ayahnya, Purwoto Yuliardi (48), terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) tahun 2005 lalu, Arin dan keluarganya hidup serba seadanya. Namun, di balik kesusahan, pendidikan tetap utama.

Seperti bekal nilai yang selalu ditanamnya orang tuanya, Arin memegang prinsip “Jika kamu tak diam (terus bergerak), pasti akan mendapat sesuatu”.

Arin memang tak bisa diam. Di luar jam sekolah, dia mengorganisasi teman-teman di sekolahnya untuk memupuk kemampuan berbahasa Inggris lewat English Community of Vocational School. Dia juga aktif bersama pelajar lain di Kabupaten Purwakarta, mewadahi kreativitas remaja dalam berbagai kegiatan.

Arin bercita-cita melanjutkan studi di perguruan tinggi. Tawaran sponsor telah datang, tetapi dia tak ingin berpuas diri. Targetnya dalam waktu dekat, menularkan “virus” mengejar beasiswa ke teman dan adik kelasnya.
Editor :
Agus Mulyadi
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2012…Arin.Tembus.AS