Sebenarnya ada pohon yang berpotensi menjadi solusi dari masalah tersebut,tapi masalahnya banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang hal tersebut.
Pohon apakah itu??.

Bambu merupakan jenis tanaman berkayu masuk dalam kategori keluarga rumput-rumputan sehingga ada yang mengistilahkan bambu sebagai rumput raksasa. Secara prospek ekonomis di masa depan bambu diistilahkan emas yang belum tergali. Istilah ini mengandung makna yang sangat dalam betapa sangat berharganya bambu jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Dari beberapa hasil penelitian bambu memiliki manfaat mulai dari untuk pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, seni dan estetika, kesehatan, budaya, politis dan sebagainya. Potensi manfaat yang sangat besar dikandung oleh sumberdaya bambu ini.

Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sesuai dengan jenis. Memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya ± 30 -100 tahun bahkan lebih, tergantung dari jenisnya. Ada jenis yang setelah berbunga langsung mati, kelebihannya pengembangbiakan secara generatif untuk jenis ini relatif sulit, namun pembiakan secara vegetatif sangat mudah. Jenis lain ada yang setiap tahunnya berbunga, kelebihannya pembiakan secara generatif relatif mudah dan vegetatif relatif sulit.

Secara fisik memiliki kelebihan yaitu serat panjang dan rapat, lentur tidak mudah patah, dinding keras dan sebagainya. Kecepatan pertumbuhan bambu dalam menyelesaikan masa pertumbuhan vegetatifnya merupakan tercepat dan tidak ada tanaman lain yang sanggup menyamainya. Dari beberapa hasil penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm per 24 jam, tergantung dari jenisnya. Sebuah keajaiban pertumbuhan yang tidak dapat ditemukan pada tanaman lain.Inilah yang anee maksud bahwa bambu berpotensi menjadi solusi kebutuhan manusia akan kayu.

Nilai lebih lain dari bambu dibandingkan kayu adalah sekali tanam produksi dapat dilakukan secara berulang-ulang, berbeda dengan kayu sekali tanam kemudian produksi selanjutnya perlu penaman lagi.

Sekitar 11 persen atau 170 dari 1.500 jenis bambu di dunia berada di Indonesia. Ini artinya, bahan baku rumah nan murah melimpah di negeri ini. Dengan perawatan yang baik sebelum dirakit, bangunan yang terbuat dari bambu bisa bertahan lama. Di Jepang, bangunan dari bambu bisa bertahan hingga 200 tahun, sedangkan di Jerman bambu bahkan bisa awet hingga 500 tahun. Namun sayangnya, di Indonesia yang kaya dengan tanaman bambu malah menganggap bangunan dari bambu tidak elegan. Bambu dinilai kampungan dan hanya cocok untuk orang miskin.
Oleh karena itu, tidak aneh jika banyak orang yang tidak paham menanam bambu, menebangnya, hingga cara mengawetkannya. Padahal dibandingkan dengan semen dan batu bata, bambu lebih tahan terhadap guncangan gempa, ekonomis, ramah lingkungan, dan awet.

Penebangan bambu sendiri harus dilakukan sebelum pukul 07.00 WIB. Saat waktu itu, bambu masih lapar dan belum mengolah bahan makanan dari sinar matahari. Hal itu juga dimaksudkan agar kualitas bambu baik dan tidak terserang bubuk. Bambu juga dilarang ditebang saat musim hujan dan bulan purnama karena kadar air dan gulanya tinggi sehingga mudah diserang hama. Bahkan, ada kepercayaan yang menyebutkan bahwa bambu hanya dapat ditebang pada hari Senin, Rabu, dan Minggu, sedangkan hari Jumat dan Sabtu adalah hari yang diharamkan untuk menebangnya. Setelah ditebang, bambu direndam selama tiga minggu dalam air yang berlumpur, lalu diawetkan.

Wajar bila bambu dijadikan material yang kokoh. Terbukti saat gempa, rumahnya masih berdiri tegak. Karena tidak bersentuhan langsung dengan tanah, bambu pun bebas dari rayap. Kekuatan bambu ini nyata ketika bom nuklir di Hirosima, Jepang. Bambu adalah satu-satunya tumbuhan yang mampu bertahan hidup dari gelombang radiasi bom nuklir di Hirosima.

Untuk membangun rumah, jenis bambu yang biasa digunakan diantaranya adalah bambu bitung, bambu petung, awi surat, dan awi tali. Anyaman bambu juga bisa menjadi pengganti tripleks sehingga bisa dilapisi juga dengan tembok. Kendati bambu merupakan bahan baku yang kokoh karena sifat lenturnya, tetapi perawatan yang singkat malah mengurangi kekokohan bambu.

Secara ekonomis, produk-produk yang berasal dasar dari bambu memiliki nilai yang cukup baik. Banyak produk-produk yang dihasilkan mencakup mulai dari sandang (serat untuk pembuatan pakaian, dll), papan (papan lembaran, lantai, meubel, dll), pangan (rebung kalengan, kripik, aneka jenis makanan olahan, dll), estetika&budaya (kertas budaya untuk sembahyang, pernik-pernik artifisial ruangan, dll), kesehatan (arang, vinegar, dll) dan sebagainya. Dengan pengolahan bertehnologi tinggi, bambu dapat dijadikan kertas kualitas nomor satu, bahan obat-obatan kesehatan berkualitas, dsb. Masih banyak lagi potensi bambu yang terpendam dan belum tergali, tentunya dibutuhkan suatu inovasi tehnologi kedepan guna dapat mewujudkan potensi tersebut.