1. Mengusap muka setelah salam.(1)

2. Berdo’a dan berdzikir secara berjama’ah yang dipimpin oleh imam shalat.(2)

3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik secara lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar yang dha’if(lemah) atau maudhu'(palsu).
Contohnya :

– Sesudah shalat membaca “Alhamdulillah”
-Membaca Surat Al-Fatihah setelah salam
-Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.

4. Menghitung Dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagian maudhu'(palsu).(3) Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: ” Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid’ah.”(4)

Syaikh Bakr Abi Zaid mengatakan bahwa Berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Bhudha, dan perbuatan ini adalah bid’ah dhalaalah.(5)

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengna menggunakan jari-jari tangan :
Dari Abullah bin radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ” Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.”(6)

Bahkan, Nabi shallallahu alaihi wasallammemerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhanallah,alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari kiamat).(7)

5. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (dengna koor/berjama’ah)

Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (Qs. Al-A’raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi’i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.(8)

6. Membiasakan/merutinkan berdo’a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do’a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
(9)

7. Saling berjabat tangan sesudah shalat fardhu (bersalam-salaman). tidak ada seorang pun dari sahabat atau Salafus Shaleh radhiyallahu ‘anhum yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).(10)

Para ulama mengatakan: “Perbuatan tersebut adalah bid’ah.”(11)

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan ‘Ashar, maka perbuatan ini adalah bid’ah.(12)
Wallaahu a’lam bish Shawaab.

_____________________________________
(1) LIhat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 660 oleh Imam Al-Albani.
(2) Al-I’tishaam Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh salim al-halabi, Fataawa Al-Lajnah Ad-Daimah VII/188-189, as-Sunan wal Mub-tada’aat hal. 70 perbuatan bid’ah, (al-Qaulul Mubiin fii akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305)
(3) Lihat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 83 dan 1002.
(4) Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah I/185.
(5) As-Subhah Taariikhubawa Hukmuha, hal. 101 cet. I Daarul ‘Ashimah 1419 H – Syaikh Bakar bin ‘Abudillah Abu Zaid.
(6) Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486. shahihh at-Tirmidzi III/146 no. 2714, shahih Abu Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al-Baihaqi II/253.
(7) Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501 dan at-Tirmidzi no. 3486 dan al-Hakim I/157. Dhisankan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani.
(8) Fat-hul Baari II/326 dan al-Qaulul Mubiin hal. 305.
(9) Lihat Zaadul Ma’aad I/257 tahqiq al-Arna’ut. Majmuu’ Fataawa Syaikh bin Bazz XI/167, dan Majmuu’ Fataawa Rasaa-il ‘Utsaimin XIII/253-259.
(10) Tamaamul Kalaam fi Bid’iyyatil Mushaafahah ba’das salaam – Dt. Muhammad Musa Alu Nashr.
(11) Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal.293-294 Syaikh Masyhur Hasan Slaman
(12) Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits Ash-sgahiihah I/53.

sumber Refrensi: Do’a & Wirid – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas