Memasuki bulan Rajab ada baiknya saya memposting artikel yang berkaitan dengan Isra’ mi’roj.Yaitu tempat dimana Rasulullah SAW pertama kali berpijak dari muka bumi menuju Sidratul Muntaha,Masjidil Al-Aqsho (Kota Al-Quds).

Kota Al-Quds memiliki beberapa nama lain, diantaranya Jerusalem, Ur Salim, Elia, Baitul Maqdis, dan Baitul Muqoddas. Di kota inilah terdapat Masjid Al-Aqsho.

Kota ini mempunyai satu kawasan yang disebut sebagai Kota Lama Al-Quds (Al-Quds Al-Qodiim / The Old City of Jerusalem). Kawasan ini dikelilingi oleh tembok yang berada dalam kawasan Al-Quds Timur (perlu diketahui bahwa Al-Quds yang sekarang dibagi menjadi Al-Quds Timur dan Al-Quds Barat), sehingga bagian selain Kota Lama yang ada dalam kota Al-Quds disebut sebagai ‘Kota Baru Al-Quds’. Sederhananya, Al-Quds yang sekarang adalah Kota Lama Al-Quds yang telah diperluas.

Baitul Maqdis atau Baitul Muqoddas sendiri lebih tepat diartikan Kota Lama daripada Al-Quds secara keseluruhan yang ada saat ini, karena Baitul Maqdis atau Baitul Muqoddas adalah istilah lama, yang diantaranya bisa kita dapati dalam hadits-hadits Rosulullah saw. Istilah lama tentu saja harus dimaknai sesuai dengan zamannya pula, yakni zaman dimana Al-Quds masih hanya seluas Kota Lama. Kesimpulannya, Baitul Maqdis yang sekarang adalah juga Kota Lama Al-Quds.

Perhatikan peta Al-Quds di bawah ini. Kawasan dalam kurva hitam yang ada dalam peta adalah Kota Lama. Kita umpamakan kurva hitam tersebut adalah pagar Kota Lama. Adapun kotak persegi-empat yang ada didalamnya adalah Al-Harom Asy-Syarif, Masjid Al-Aqsho.

Kota Lama Al-Quds terbagi dalam empat wilayah yaitu Kampung Islam, Kampung Yahudi, Kampung Kristen dan Kampung Armenia (Kristen juga). Di bawah ini adalah peta Kota Lama, dimana terlihat lebih jelas bagian-bagian Kota Lama. Kotak persegi empat di sebelah kanan adalah Al-Harom Asy-Syarif (Masjid Al-Aqsho).

Di dalam Kota Lama inilah terdapat satu petak tanah berbentuk persegi-empat yang disebut sebagai Al-Harom Asy-Syarif (Masjid Al-Aqsho).

Masjidil Aqsho dalam gambar ini adalah seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yaitu dibatasi oleh dinding-dinding berbentuk segi empat. Dengan demikian, Masjidil Aqsho adalah keseluruhan bagian dalam petak segiempat tersebut.

Masjidil Aqsho adalah keseluruhan bagian yang ada dalam kotak berwarna hijau. Dinding-dinding Masjidil Aqsa berimpitan dengan garis hijau.

Tampak Masjidil Aqsho berada di tengah Kota Lama dan Kota Baru.

Pada saat Rosululloh saw melaksanakan perintah Alloh swt berupa Isra’ dan Mi’raj, Masjidil Aqsho sedang berada dalam kekuasaan Romawi. Umat Islam baru bisa membebaskan Al-Quds pada masa Khalifah Umar bin Khothob ra. Ketika Umar ra sampai di Al-Quds, kondisi Masjidil Aqsho dikisahkan agak kotor dan kurang terawat. Maka Umar ra pun membersihkan dan membangun sebuah masjid sederhana di dalam kompleks Masjidil Aqsho.

Pada masa Bani Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pembangunan beberapa bangunan masjid di dalam kompleks Masjidil Aqsho. Dan pada tahun 691 M, ia mulai membangun Masjid Qubbah Ash-Shokhroh, yang kita kenal dengan dinding segi-delapan dan kubah emasnya.

Pembangunan masjid tersebut selesai pada tahun berikutnya, 692 M. Masjid ini dibangun diatas Batu Mi’roj, yakni batu yang diyakini menjadi pijakan Rosululloh saw ketika bertolak naik ke langit dalam peristiwa Mi’roj.

Selanjutnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pembangunan masjid lainnya, yang baru bisa diselesaikan pada masa pemerintahan anaknya, Khalifah Al-Walid, pada tahun 705 M. Masjid ini kemudian dikenal sebagai Al-Jaami’ Al-Aqsho atau Masjid Qibli . Tetapi umat Islam sekarang sudah terbiasa menyebutnya sebagai Masjidil Aqsho, sedangkan hakikatnya Masjidil Aqsho adalah keseluruhan wilayah Al-Harom Asy-Syarif seperti penjelasan dan gambar di atas.

Pemberian nama masjid ini dengan Masjidil Aqsho itulah yang seringkali menimbulkan kebingungan, “Yang manakah yang disebut sebagai Masjidil Aqsho? Apakah Al-Jaami’ Al-Aqsa atau Al-Harom Asy-Syarif?”

Tidak ada larangan, baik dalam Al-Qur’an, hukum fiqh maupun fatwa ulama, dalam hal menyebut Al-Jaami’ Al-Aqsho atau Masjid Qibli sebagai Masjidil Aqsho. Yang sangat tidak tepat adalah membatasi Masjidil Aqsho sebagai Masjid Qibli saja, padahal Masjidil Aqsho adalah keseluruhan areal Al-Harom Asy-Syarif, dimana Masjid Qibli adalah bagian dari Masjidil Aqsho (Al-Harom Asy-Syarif). Begitu juga Masjid Qubbah Ash-Shokhroh pun termasuk bagian dari Masjidil Aqsho, bahkan pelataran-pelataran yang ada dalam kompleks Al-Harom Asy-Syarif adalah juga bagian dari Masjidil Aqsho.

untuk lihat fotonya http://forum.vivanews.com/internasional/381390-al-quds-dan-al-aqsho-untuk-yang-belum-tahu-perbedaan-antara-keduanya.html