Banyak yang mengatakan jika menonton bola merupakan hal yang sia-sia dan cenderung menghabiskan waktu saja serta menjadikan seseorang lalai dalam ibadah kepada Allah azza wajalla. Hal ini bisa diterima karena dalam pandangan seorang muslim sejati apalagi dalam pandangan sufi (sufi beneran, bukan SUka FIlm), apapun yang menjadikan seseorang lalai dari ingat Allah harus ditinggalkan.
Memang, dari pengamatan yang saya lakukan banyak di antara penonton bola yang terlalu larut dalam permainan di lapangan. Sedikit sekali yang menjadikan menonton sepak bola menjadi ladang pahala. Lho, apa bisa?
Maka, ikutilah panduan menonton sepakbola ala saya, haha:
Jika pertandingan pada malam hari atau lebih dari tengah malam, (misalnya pertandingan malam ini Jerman vs Portugal pukul 01.45) usahakan tidur setelah shalat isya’, kemudian bangun membaca doa bangun tidur dan berwudlu lalu shalat tahajjud. Anda yang tidak pernah shalat tahajjud, akan terbantu dengan adanya tontonan sepakbola. Usahakan sebelum tidur minum air hangat tiga gelas atau lebih plus madu tiga sendok.

Jika para komentator sedang ngoceh karena acara belum mulai, lebih baik Anda gunakan untuk membaca al-Qur’an. Karena saya yakin Anda dalam seharian sibuk belum sempat membaca al-Qur’an. Begitu juga saat pertandingan babak pertama usai, tidak usah mendengar komentator tetapi gunakan lagi membaca al-Qur’an. Karena boleh jadi, para komentator itu lebih cerdas Anda dalam menganalisa sepakbola.

Ketika mulai kick of tiupan peluit pertama dimulai ucapkanlah basmalah, ketika pemain menggiring bola ucapkan tasbih terus menerus (kalau belum terbiasa bisa sambil membawa tasbih, hehe..), ketika terjadi gol ucapkan dengan keras Alhamdulillaah atau Allahu Akbar…, ketika ada pemain yang ditandu keluar lapangan (la ilaaha illallaah).

Jika Anda yang sudah punya istri, usai melihat pertandingan sepakbola bisa membangunkankan sang istri untuk berhubungan intim suami istri. Dan itu berpahala besar juga. Haha..
Semoga saya dan Anda mampu mengamalkannya.
Salam Cinta Indonesia, Salam Olahraga….

sumber : http://www.kompasiana.com/arifkhunaifi