Posted by mas rozy on 08:44
ADALAH drh Erma Safitri MS berhasil menemukan teknik mengurangi masa moulting (rontok bulu) dan mengeram ayam arab dan ayam kampung dengan serum antiprolaktin. ”Dengan teknik yang kami temukan, berhasil memperpendek masa moultingnya menjadi 7 hari saja. Artinya, setelah 7 hari lewat, ayam arab itu bisa bertelur kembali. Apalagi, ayam arab jantan mampu membuahi 5 ayam arab betina dalam tempo hanya 15 menit. Kondisi ini membantu peningkatan produktivitas telur ayam arab,” kata drh Erma Safitri MS setelah setahun meneliti ketika menempuh S2 Fakultas Kedokteran Hewan Unair Surabaya.
Salah satu keunggulan ayam ras petelur dibanding ayam buras (kampung) dan ayam arab adalah kemampuannya bertelur dalam tempo relatif lama. Karena ayam buras dan arab secara alamiah ada proses moulting (rontok bulu) dan mengeram (untuk ayam kampung). Pada fase moulting dan mengeram, ayam buras dan arab tak bisa bertelur. Kondisi ini mengakibatkan produktivitas telur ayam buras dan ayam arab lebih rendah dibanding ayam ras.
Biasanya masa moulting kedua jenis ayam tersebut selama 60 hari sampai 75 hari. Artinya, praktis dalam tempo tersebut, ayam buras dan arab tak akan bertelur. ”Dengan teknik yang kami temukan, kami berhasil memperpendek masa moulting ayam arab menjadi 7 hari saja. Artinya, setelah 7 hari lewat, ayam arab itu bisa bertelur kembali. Apalagi, ayam arab jantan mampu membuahi 5 ayam arab betina dalam tempo hanya 15 menit. Kondisi ini membantu peningkatan produktivitas telur ayam arab,” kata drh Erma Safitri MS saat ditemui Suara Merdeka di kampus Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Surabaya, Senin pekan lalu.
Dia mengemukakan, penelitian untuk memperpendek masa moulting ayam arab dan buras itu dia lakukan selama setahun untuk tesis program S2 bidang reproduksi ayam. Di bawah bimbingan Prof Dr drh Ismudiono (Dekan FKH Unair), dia berhasil menemukan serum antiprolaktin yang disuntikkan ke tubuh ayam arab dalam dosis tertentu untuk menghambat dan memperpendek masa moulting. ”Sampel penelitian yang saya gunakan adalah ayam arab, bukan ayam buras. Tapi, saya yakin hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan dan diadaptasikan ke ayam buras. Sebab, banyak ciri-ciri pada ayam arab yang paralel dengan ayam buras,” jelasnya.
Mengapa mengambil sampel ayam arab, bukan ayam buras? Erma Safitri menjelaskan, sebenarnya pengembangan ayam arab di Jatim cukup banyak. Sejak tahun 1990, telah dikembangkan peternakan ayam arab di Malang, Jember, Kediri, dan Tulungagung. Ayam arab awalnya kurang diminati, tapi setelah diketahui produktivitas telurnya lebih tinggi dibanding ayam buras dan menyamai produktivitas ayam ras, sementara perawatannya lebih mudah dan ekonomis, maka banyak peternak Jatim mengembangkan budidaya ayam arab. ”Harga satuan telurnya dihitung per butir, bukan kiloan seperti harga telur ayam ras. Jadi, nilai ekonomisnya sama dengan telur ayam buras. Selain itu, telur ayam arab memiliki bentuk, warna, dan kandungan gizi yang mirip dengan telur ayam buras. Telur ayam arab juga bisa digunakan untuk campuran jamu seperti telur ayam buras,” tambahnya.
Tiga Fase Moulting
Ayam arab betina siap bertelur pada usia 4-5 bulan. Periode bertelur ayam arab sama dengan ayam ras, yakni tiga kali periode produksi selama 30 bulan. Setelah periode bertelur, pada umur 14-16 bulan ayam arab mengalami fase moulting yang pertama dan berjalan selama 60-75 hari. ”Dan dalam siklus kehidupannya, ayam arab mengalami fase moulting sebanyak tiga kali. Yakni, moulting pertama umur 14 atau 16 bulan, kedua umur 24 bulan, dan ketiga umur 30 bulan atau 32 bulan.
Selama fase moulting ayam arab berhenti telur dan jika ini dibiarkan secara alamih akan memerlukan tempo 80 hari untuk bertelur kembali. Biasanya, setelah moulting kedua dan habis bertelur, ayam arab dan ayam buras langsung dijual pemiliknya karena produktivitas telurnya sudah menurun,” ujarnya.
”Fase moulting terjadi pada ayam arab dan buras karena tingginya hormon prolaktin dalam tubuh ayam tersebut. Ini menyebabkan terjadinya regresi ovarium,” tambah Prof Dr drh Ismudiono. Prolaktin dapat digolongkan dalam bahan bersifat imunogen, sehingga bila disuntikkan secara berulang pada hewan dapat menginduksi timbulnya antibodi poliklonal antiprolaktin. Pemberian antiprolaktin diharapkan dapat bekerja secara spesifik terhadap prolaktin dengan cara menetralisir kerja prolaktin dalam darah, sehingga proses moulting dapat dihambat dan ayam dapat berproduksi telur kembali.
”Serum antiprolaktin ini bisa diproduksi massal dengan harga tak begitu mahal. Saya perkirakan hanya butuh uang Rp 400 sampai 500 untuk sekali suntik ke ayam arab atau buras dengan serum antiprolaktin. Nilai keuntungannya sangat tinggi,” jelas Prof Ismudiono.
Tanpa Menyakiti Ayam
Memang, di dunia kedokteran hewan selama ini dikenal beberapa metode untuk menghambat atau mengurangi fase moulting ayam. Pertama, tak memberi makan atau membatasi makan dan minum ayam. Kedua, memberi makan rendah nutrisi seperti protein, kalsium, dan natrium. Ketiga, penggunaan obat dan logam methalibure, chlormadinane, yodium dosis tinggi, diet aluminium dan seng. ”Selama ini, di Indonesia dipakai cara pertama dan kedua untuk menghambat moulting. Tapi dalam perkembangannya praktik seperti itu ditentang banyak organisasi keselamatan dan penyayang binatang,” tegas Prof Ismudiono.
Cara pertama dan kedua itu ditentang banyak kalangan penyayang binatang, karena pembatasan makanan bisa mengakibatkan stres pada ayam. Pada tingkatan selanjutnya fungsi imun pada ayam menurun dan ayam menjadi gampang terserang penyakit. Yakni jenis penyakit salmonella enteridis (SE). ”Karena itu, sejak tahun 2000 lalu, telah dilarang pembatasan makanan dan minuman pada ayam yang sedang moulting,” tambah Erma Safitri.
Selain itu, kata Erma Safitri, pembatasan makanan dan minuman pada ayam saat fase moulting menurunkan sel T di dalam peredaran darah ayam. Sehingga menyebabkan penurunan reaksi kekebalan dan meningkatkan kepekaan terhadap suatu penyakit, terutama SE yang sangat berbahaya, karena bersifat zoonosis. ”Perusahaan fast food besar dunia, seperti Mc Donald’s Corporation sejak tahun 2000 yang diikuti Raja Burger dan Wendy’s International pada tahun 2001 melarang pembelian telur dari induk ayam yang mendapat pembatasan pakan dalam mengatasi moulting,” jelas Erma Safitri.
Ia mengemukakan, penelitian selama setahun yang dia lakukan ditujukan untuk menghambat proses moulting tanpa menimbulkan penderitaan dan penurunan respon imun pada ayam. Yakni melalui pemberian serum antiprolaktin. Serum antiprolaktin ini dapat diproduksi dengan cara menyuntikkan isolat prolaktin yang berasal dari serum darah ayam arab fase moulting pada kambing. Sehingga harapan untuk dapat meningkatkan produksi telur dan populasi ayam arab secara cepat dapat terlaksana tanpa menyakiti atau menyiksa dan menurunkan fungsi imun ayam itu sendiri.
”Hanya dibutuhkan serum antiprolaktin dengan dosis 200 mikrogram untuk sekali suntik ke ayam yang sedang moulting. Dalam tempo seminggu setelah disuntik, ayam akan bertelur lagi,” jelasnya.
Prof Ismudiono mengakui, hasil temuan mahasiswi S2 bimbingannya tersebut merupakan ”revolusi” di dunia kedokteran hewan. Sebab, kini telah ditemukan metode dan strategi lain dalam menghambat dan memperpendek masa moulting ayam petelur. Tanpa mengakibatkan timbulnya penyiksaan dan penurunan kekebalan tubuh akibat pembatasan pakan dan minum pada ayam. Apalagi, serum antiprolaktin yang dibutuhkan untuk menghambat masa moulting bisa diproduksi secara massal dengan harga murah. ”Sebelum temuan ini dipraktikkan secara massal di lapangan, kami akan patenkan hasil temuan ini kepada lembaga terkait. Sehingga, hak kekayaan intelektual si penemu dan lembaganya dihargai kalangan luar,” katanya.
”Memang, banyak rekan di FKH Unair menyebut tesis S2 ini layak untuk penelitian S3 (disertasi). Ya, saya sangat bersyukur atas keberhasilan ini. Tapi, tanpa dukungan rekan-rekan FKH dan Prof Ismudiono, tak mungkin saya bisa melakukan semua ini,” kata Erma Safitri merendah.(Ainur Rohim-35)