Resep Ampuh Untuk Mengobati Kegalauan Yang Marak Di Dunia Maya

Sebelum kita membahas resep kegalauan, maka apa makna galau itu sebenarnya ?

GALAU, versi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V Halaman 407 (2008) : Galau berarti kacau (tentang pikiran); Bergalau berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); kegalauan berarti sifat (keadaan hal) galau. (http://gugling.com/2012/03/15/arti-galau-dalam-berbagai-versi-dan-tingkatannya/)

Ya, galau adalah suatu kekacauan, kegelisahan atau kekalutan, yang virus ini sedang mewabah hampir dikalangan pemuda, meskipun orang yang mengaku dewasapun terkadang terjangkit virus “GALAU” ini.

Sifat galau itu wajar, tapi terkadang ada sebagian yang tidak bisa meletakkan rasa galau ini pada tempatnya. Ekspresi kegalauan yang berlebihan itu muncul karena kurangnya rasa malu. Ya, “MALU” inilah obat dari kegalauan. Dan malu yang dimaksud disini bukanlah “MINDER” ataupun “TAKUT”. Tapi malu yang dimaksud disini adalah malu yang terpuji.

Rosulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda :

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستح فاصنع ما شئت
“Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka” (HR. Bukhari)

Maka orang yang kurang memilki rasa malu dia dengan leluasanya meluapkan kegalauannya di depan publik. Dengan kata lain, jika seseorang itu sudah tidak mempunyai rasa malu lagi, maka silakan dia mengumbar kegalauannya.

Malu ini adalah perhiasan bagi jiwa manusia dan mahkota dari akhlaq yang mulia. Dan malu ini adalah bukti yang jelas akan kesucian dan kebersihan dari kehormatan seseorang.

Bagaimana mungkin orang yang galau mengekspresikan kegalauannya di depan umum bisa dikatakan dia memiliki rasa malu pada saat itu? Padahal malu itu sendiri adalah bagian dari keimanan seseorang, dan salah satu modal yang berharga untuk menuju ke surga.

( الحياء من الإيمان ، والإيمان في الجنة )
“Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu berada dalam surga” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Bila kita tau malu itu adalah bagian dari iman, maka apa yang mengahalangi diri kita untuk memunculkan rasa malu ini dalam hati guna meredam kegalauan?
Orang yang menjaga sifat malunya, adalah orang yang membantu dirinya untuk menjadi orang yang bertaqwa, karena orang yang mempunyai rasa malu akan mendorong dirinya untuk selalu berbuat yang baik dan melindungi dirinya dari perbuatan yang hina. Dan malu inilah yang menjadi perisai bagi seseorang untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أشد حياء من العذراء في خدرها
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu dari pada perawan dalam pingitan.”

Maka orang yang hoby mengekspresikan kegalauannya, hendaknya dia mengingat pribadi Nabinya yang mulia shalallahu ‘alahi wasallam, sebab seluruh para nabi itu memilki rasa malu yang tinggi, karena memang malu ini adalah salah satu sifat yang terpuji. Bukankah kita semua mengaku pengikut setia beliau? Bukankah kita semua meyakini bahwa beliau suri tauladan yang baik bagi kita? Lalu kenapa masih galau??

Sebagai seorang yang mengaku sebagai hamba Allah, maka malu ini sangatlah penting, sebab malu itu sendiri telah Allah perintahkan melalui lisan rosulNya shalallahu ‘alahi wasallam :

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( استحيوا من الله حق الحياء ) ، قلنا : يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله ، قال : ( ليس ذاك ، ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى ، والبطن وما حوى ، ولتذكر الموت والبلى ، ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا ، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء ) رواه الترمذي
Dari ‘Abdullah bin mas’ud radiyallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” Kami berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami ini senantiasa malu Alhamdulillah”, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Bukan begitu, namun malu kepada Allah itu adalah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)

Maka malulah wahai kaum muslimin, malulah dalam bermaksiat kepada Allah, malulah untuk meninggalkan apa yang Allah wajibkan, dan malulah kepada manusia terhadap prilaku kedzaliman, prilaku yang buruk dan prilaku yang dapat menurunkan kehormatan dan kewibawaan. Dan sikap mengumbar kegalauan adalah salah satu sikap yang dapat menurunkan kehormatan dan kewibaan seseorang.

Jika tidak ada rasa malu lagi, maka silakan ekspresikan kegalauanmu.

Diintisarikan dari :
http://www.islamweb.net/media/index.php?page=article&lang=A&id=75077