Kehidupan Syaikh Albaani Setelah Menikah

Pada sebuah pertemuan ,seseorang bertanya kepada Syaikh apakah ayahnya memberi bantuan finansial kepadanya setelah menikah atau dalam bentuk bantuan lainnya?

Maka Syaikh Al-Albaani menjawab: saya menikah dengan usaha saya sendiri, saya menikah dan ayah saya tidak terlibat, ia juga tidak mengunjungi saya, atau memberi selamat padaku atas pernikahanku, atau meminta Allah untuk memberkati saya. Kadang kala dia datang ke tokoku, tapi ia tidak akan masuk.

Mungkin dia mengatakan bahwasanya dia telah berbeda madzhab denganku, yang mana hal ini ingin ditujukan kepada saya. Suatu ketika dia berkata kepadaku, “Saya tidak menyangkal bahwa saya banyak mendapatkan manfaat darimu” dan saya adalah anaknya yang paling kecil, dan saya tau benar tentang beliau (ayahku), bahwa dia merasa beruntung. Karena dia, seperti syaikh-syaikh yang lain (bermadzhab hanafi) biasa pergi ke masjid yang ada kuburannya, dan saya biasanya berkata kepada beliau, “wahai ayahku, hal semacam ini dan semacam itu tidak diperbolehkan”. Demikian pula (dia dianugrahi) pengetahuan tentang hadits yang shahih dan lemah. Dia adalah orang yang dituakan dan menjadi ketua komunitas arna’ut. Hal itu menjadikannya tidak suka dengan anaknya yang dianggapnya telah menyimpang dari komunitasnya. Jadi kejadian inilah yang merupakan awal mula dari petualanganku dalam menuntut ilmu dan selanjutnya menjadi awal kemandirian dalam hidup saya.

Namun secara asal bahwa majalah Al-Manaar yang membuka jalan bagi saya untuk menggeluti ilmu hadits.

(syaikh abu ishaq) alhuwainy : tapi apakah yang anda tulis pertama yaitu ar-raud an nadir?

Al-albani : ya benar, itu adalah tulisan pertama yang saya buat, karena apa yang saya salin dari kitab al-mughni dan saya tulis komentar di atasnya, hal itu belum bisa disebut sebagai tulisan pertama saya

Kemudian alkhuwaini menanyakan kepada beliau mengenai metode beliau dalam menyusun tulisan ar-raud an-nadhir

Metode saya yaitu dengan mengumpulkan hadits yang sejalur sesuai perawinya, seperti cara yang dilakukan di musnad. Jadi saya menambahkan pada hal yang umum dalam musnad dan menyusun hadits serupa sesuai dengan urutan abjad, dan dalam hal ini butuh pada ketekunan dan keahlian. Dan kemudian setelah saya menyelesaikannya, saya menambahkan semua hadits yang serupa dan membuat indeks sesuai abjad. Ini adalah cara saya dalam menyusunnya.

APAKAH AL-BANI TIDAK MENTAATI AYAHNYA?

Al-Huwaini: Mengenai ayahmu, apakah dia mengasingkanmu sampai akhir hidupnya?

Al-Albaani: Aku katakan kepadamu: bahwa ia datang kepadaku di toko dan memberi salam, tapi dia enggan masuk.

Al-Huwaini: tapi syaikh, apakah hal ini tidak dikatakan sebagai pembangkangan terhadap orang tua?

Syaikh al-banipun tertawa dan kemudian berkata : Beberapa orang berprasangka dan mungkin berpikir demikian, namun kenyataannya merekapun mengatakannya kepadaku, tanpa ragu-ragu lagi tidak mungkin ada seorang ulama di dunia ini mengatakan : “Berpegang teguh dengan Sunnah, namun bertentangan dengan pemahaman ayah, dianggap sebagai ketidaktaatan terhadap orang tua” karena dalam pandangan para ulama ketidakpatuhan terhadap orang tua adalah menentang ayah dengan menentang perintahnya dan memberontak terhadapnya tanpa adab dan tanpa adanya satu alasan syar’ie (ijtihad) dibalik penentangannya, yang menjadikan pendorong untuk mengikuti kitab dan sunnah. Maka saya tidak berpikir bahwa seseorang yang adil akan memandang ini sebagai ketidakpatuhan (terhadap orang tua) karena jika tidak, maka Ibrahim, عليه السلام, akan [dianggap] tidak patuh kepada ayahnya. Tentu saja, seseorang mungkin mengatakan: “itu sih [masalah] kesyirikan dan monoteisme [tauhid].” Maka aku berkata: ya, tapi ini juga adalah [masalah] Sunnah atau ta’ashub, sehingga tidak diperbolehkan.

Kemudian al-Huwaini bertanya kepada Syaikh mengenai bagaimana dia bisa mengatur waktu antara bekerja dan menuntut ilmu?

Alhamdulillah ini adalah suatu nikmat dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, yang telah memberikan kemampuan kepada saya untuk melakukannya.

Seperti yang saya katakan: saat aku akan bersama ayahku di tokonya dulu, saya akan mengambil kesempatan dari setiap waktu luang, ketika tidak ada pekerjaan, akupun pergi ke pasar untuk mencari buku dan membacanya. Kemudian saya berpikir bila saya punya toko sendiri maka saya akan lebih leluasa untuk membaca. Dan alhamdulillah sepertinya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung menganugrahi aku untuk merasa puas dengan apa-apa yang Allah berikan kepadaku dari penghasilanku bekerja meskipun sedikit, terutama ketika aku membangun toko dan rumahku sendiri, sehingga saya bisa lega untuk tidak dipusingkan dengan membayar sewa toko dan sewa rumah.

Dan aku berkata kepadamu sekarang : ketika saya berpisah dari rumah orang tua saya setelah saya menikah, maka saya berusaha hidup mandiri dengan toko dan pekerjaanku sendiri, ‘dan Yang Maha Pemurah (Alloh, Al Kariim) berkata, ‘Ambillah…” pelanggankupun bertambah jumlahnya, dan karena hal tersebut (keuangan meningkat) saya dapat membeli sebidang tanah,,,sebuah rumah yang sederhana, sehingga saya terbebas dari membayar sewa. Kemudian beberapa hal (secara finansial-pendapatan beliau) meningkat dan beberapa diantara mereka memberiku pinjaman (mungkin maksud beliau tanpa bunga) dan maka aku pun membeli sebidang tanah beserta perabotnya, lalu tidak ada yang tersisa dari hal tersebut, kecuali saya gunakan untuk memberi makan diriku sendiri, istriku, dan kemudian anak-anakku.

[Diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian (terjemahan ini jauh dari sempurna) oleh abu sufyan allumbuky dari http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=26528