JEDDAH – Merinding ‘disko’ atau badan sedikit bergetar seperti orang disko mungkin ungkapan yang sedikit unik untuk menggambarkan bagaimana rasanya masuk ke liang lahat, untuk menguburkan jamaah haji Indonesia.

Apalagi kondisi liang lahat di Arab Saudi ini berbeda dengan liang lahat kuburan yang terdapat di Tanah Air, lebih dalam mencapai 3 meter, lebih panas udaranya, dan juga di dalamnya terdapat beton yang sudah disiapkan untuk jenazah.

Pengalaman inilah yang pernah didapatkan Kasi Kesehatan Daerah Kerja Jeddah, dr Indra Matrianda sewaktu menjabat sebagai Wakasub Daker Makkah bidang kesehatan tahun 2006 lalu. Dia mengurus penguburan salah satu jenazah jamaah haji Indonesia di Tempat Pemakaman Umum di Saraya, Makkah.

Pihak pengelola kuburan meminta dirinya untuk mengecek liang lahat yang disiapkan untuk jenazah, karena letaknya cukup dalam, dia pun turun dengan menggunakan tangga alumunium. “Saya mengurusnya dari Asar sampai Asar lagi,” ujarnya.

Setibanya di liang lahat, tubuhnya langsung bergidik. “Disuruh lagi enggak mau deh, serem saya. Tidak pernah melihat yang begitu,” ucap dr Indra menceritakan pengalamannya.

Apalagi sebelum itu, dia dimarahi keluarga jamaah haji yang meninggal. Karena tidak percaya sudah meninggal dia disuruh untuk melakukan EKG terhadap jenazah. “Saya membalasnya dengan senyum dan mengatakan jenazah sudah meninggal. Eh saya malah dimarahin. Karena dianggap tidak empati, akhirnya setelah saya jelaskan berkali-kali akhirnya keluarga ikhlas. Belakangan mereka minta maaf ke saya,” tuturnya.

Kuburan di Arab Saudi memang jauh berbeda dengan Tanah Air, selain liang lahatnya yang menurut dr Indra sedikit menakutkan. Ditambah lagi, setelah dimakamkan, tidak ada batu nisan di atasnya, sebagai tanda siapa yang berada di dalam kubur. Hanya seonggok tanah di atas yang menandakan itu kuburan dan dua buah batu di bagian kepala dan kaki.

Selain menyeramkan, mengurus penguburan di Arab Saudi tidak dikenakan biaya. Tidak seperti di Tanah Air yang diharuskan bayar sebelum dimakamkan, setelah tiga tahun penyewaan diperpanjang lagi, banyak biaya. “Kalau di sini pemakaman tidak bayar, gratis”.

Pria yang bertugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan Palembang ini juga memiliki juga nyaris saja meregang nyawa saat melempar jumrah tahun 2004 lalu. Petugas kesehatan yang sudah empat kali bertugas melayani jamaah haji ini nyaris saja terinjak-injak sewaktu tempat lempar jumrah masih satu lantai. “Saat itu saya takut sekali. Kemudian saya berdoa dan mencari sela untuk ke pinggir, Alhamdulillah saya terlepas dari kerumunan jamaah yang berdesak-desakan itu,” urainya mengenang.

Saat ini tempat melempar jumrah sudah memiliki empat lantai sehingga jamaah tidak perlu lagi berdesak-desakan untuk melempar jumrah. Sebagai Kasi Kesehatan, dia berharap jumlah jamaah yang meninggal pada tahun ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Semoga saja. (fer)http://haji.okezone.com