Arab Saudi lirik investasi sektor pangan di Indonesia
KUTA: Arab Saudi berencana investasi di bidang pangan dan kebutuhan tenaga kerja profesional untuk di bidang perhotelan di Indonesia.

Deputi VI Kementerian Perekonomian Rizal Lukman mengatakan pemerintah Arab Saudi sepakat investasi di bidang pangan (integrated food estate).

“Beberapa komoditas yang akan dikembangkan adalah mie instan, beras, dan buah buahan dari Indonesia,” katanya dalam acara Kerja Samam isnis Arab Saudi-Indonesia, hari ini, 23 April 2012.

Untuk sektor tenaga kerja, Saudi Arabia membutuhkan TKI dari Indonesia yang diperjakan perhotelan. Maka dari itu setelah pertemuan one on one business yang dilakukan di Kuta itu rombongan dari Arab Saudi akan meninjau sekolah perhotelan yang ada di Bali yang sudah berstandar internasional.

Dia menjelaskan kerja sama antara pemerintahan Indonesia dan Arab Saudi selama ini bersifat saling melengkapi. Di samping impor minyak, dari segi perdagangan Arab Saudi memberikan kontribusi ekspor kategori nonmigas yang nilainya meningkat tajam 50% dalam empat tahun terakhir.

Adapun komoditas ekspor yang dibutuhkan Arab Saudi di antaranya CPO, rubber, cengkeh, tekstil dan garmen. Selain itu, impor minyak dari Arab Saudi menempati porsi 2/3 dari keseluruhan komoditas impor Indonesia.

Dengan jalinan kerja sama ini diharapkan juga akan meningkatkan hasil perdagangan yang selama setahun ini sebesar US$6,7 miliar menjadi US$10 miliar baik dari keuntungan sisi ekspor dan impor.

Pemerintah Indonesia berharap melalui kerja sama ini segera disosialisasikan rencana Bank Negara Indonesia (BNI) untuk membuka cabang di Jeddah selama kurun waktu enam bulan ke depan.

“Ini untuk memudahkan transfer uang di Arab Saudi bagi umat yang melakuan umroh maupun para TKI,” kata Rizal seraya menambahkan TKI di sana saat ini sebanyak 1,5 juta orang dan jemaah haji yang per tahunnya 200.000 jemaah.

Sementara itu, melaui pertemuan itu Kadin Indonesia yang Ketua Komite untuk Asia Tenggara dan Pertemuan Organisasi Negara-negara Islam, Fachry Thaib, menawarkan beberapa investasi di tempat rekreasi kawasan Jawa Barat, pembangunan infrastruktur dan hutan di daerah Subang dan Sumedang.

Investasi di hutan ini dimaksudkan untuk sektor pariwisata seperti pembangungan hotel. Karena di samping faktor alami, nuansa hutan untuk tracking sangat cocok dengan selera warga Arab Saudi.

Sementara itu Dewan Pemerintah Arab Saudi Abdul Azis Al Daud pertemuan tersebut untuk memberikan gambaran jelas dan membahas hambatan masing-masing negara. Kata dia dalam konteks sesama negara Islam yang terbesar di dunia, Indonesia dan Arab Saudi mempunyai ikatan satu sama lain.

“Maka dari jika warga Negara Indonesia yang ke Arab Saudi akan merasa di rumah sendiri sama seperti warga Negara Arab Saudi tinggal di Indonesia,” ungkapnya.(k51/Bsi)
bisnis.com