ان الحمد لله نحمده تعالى و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهدي الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
أشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله صلى الله عليه وسلم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران :١٠٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء :١)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (#) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب 70-71)
أما بعد , عباد الله
ان أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
[

Sesungguhnya Allaah telah memberikan keni’matan kepada hamba-Nya dengan ni’mat yg sangat banyak,yg kalian tidak bisa menghitungnya lagi menentukan jumlahnya,dan Dialah Subhaanahu Wata’ala yg berfirman
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل :١٨)
Artinya :”dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs.An-Nahl:18)
Dan Dia Ta’ala jugalah yg mengkhususkan hambanya dengan macam-macam keni’matan kepada mereka yg Dia telah beri keni’matan dengan keni’matan yg khusus,karena agung perkaranya,dan tinggi kehormatan dan kedudukannya,dan besarnya kebutuhan mereka kepada keni’matan itu,dan dari keni’matan itu wahai para hamba-hamba Allaah adalah ni’matnya keamanan,sesungguhnya ni’matnya keamanan adalah salah satu ni’mat yg paling besar yg telah Allaah berikan kepada hambanya,untuk itu Allaah Subhaanahu Wata’ala telah memberikan hukuman kepada suatu kaum dengan hilangnya suatu keamanan darinya dikarenakan kekufurannya dan kema’siyatannya,dan sebagian dari mereka menguasai sebagian yg lainnya,dan orang-orang yg dzolim sebagian mereka menolong sebagian yg lainnya sebatas kekufurannya dan kema’siyatannya
Wahai para hamba Allaah
Sesungguhnya Allaah telah memberikan keni’matan ini kepada orang-orang kafir apa lagi kepada orang-orang yg beriman,maka Allaah telah memberikan keni’matan kepada penduduk mekkah dan Quraisy dengan apa- apa yg mereka lakukan dari perintah Allaah yg dengan sebab itu keamanan Haramnya dan Baitullaah Al-Haraam,sesungguhnya Allaah mengharamkannya dikarenakan kehormatannya dan Allaah menurunkan kepadanya suatu keamanan dengan doa yg dipanjatkan Ibrahim Alaihi As-Salaam
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا (ال عوران:٩٧)
Artinya:”Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; (Qs.Ali-‘Imron:97)
Dan telah shahih dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dari hadits Salamah bin ‘Ubaidillaah Al-Anshari Radiyallaahu Anhu,bahwasanya Rasulallaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”barang siapa yg mendapati dirinya diwaktu pagi hari dalam keadaan aman,sehat di badannya dan di disisinya ada makanan untuk sehari,maka dia seperti orang yg mempunyai dunia beserta isinya dan diriwayatkan juga dari hadits Abu Darda’ dan Ibnu Umar Radiyallaahu Anhum sema’na dengannya dan dihasankan Syaikh Albani Rahimahullaah di dalam Ash-Shahiihah
Dan juga Allaah Subhaanahu Wata’ala memberikan keni’matan terhadap yg dia kehendaki dengan keni’matan ini dan jika keni’matan ini sudah dicabut maka itu akan menjadi kemurkaan yg sangat yg tiada tandingannya kepada makhluk,pertumpahkan darah,dilanggarnya kehormatan demikian juga dirampasnya harta benda dan terjadi penganiayaan dan kebinasaan,apa-apa yg dengannya Allaah maha mengetahui akan hal itu,untuk itu wahai para hamba-hamba Allaah,penjagaan terhadap itu adalah termasuk dari kewajiban yg paling besar di dalam agama ini,dan mencegah dari apa-apa yg mengantarkannya kepada hilangnya keni’matan ini,ini diibaratkan salah satu asas dan ketetapan agama ini,maka untuk itu wahai para hamba-hamba Allaah,telah shahih hadits-hadits yg banyak dari Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam,untuk menjauhi fitnah dan memperingatkan dari apa-apa yg mengantarkan kepadanya,dan berniat menutup seluruh sebab yg mengantarkan kesana,dan termasuk dari itu adalah memberontak kepada penguasa yg Muslim,maka sesungguhnya itu walaupun telah tampak pada dirinya sesuatu kebinasaan atau sesuatu perbuatan dzolim dan ma’siyat,dan kedzoliman tidak diobati dengan kedzoliman yg lebih besar dari itu,dan kebinasaan tidak diobati dengan kebinasaan yg lebih binasa dari itu,dan kejelekan tidak diobati dengan kejelekan yg lebih banyak dari itu atau lebih binasa dari pada itu
Maka telah shahih hadits dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam,bahwasanya beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam mengabarkan,dan telah datang juga di Bab ini hadits-hadits yg sangat banyak,bahwasanya akan datang setelahku pemimpin yg mereka mengetahui darinya dan mereka mengingkarinya ,maka Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam mengabarkan dengan hadits-hadits ini:”bahwasanya suatu kaum akan memimpin manusia dan dari amalannya itu perkara-perkara yg patut diingkari,dan di hadits lain beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda:”kalian akan mendapati setelahku suatu monopoli[1] dan perkara-perkara yg kalian mengingkarinya,maka mereka berkata wahai Rasulallaah apakah yg kami lakukan,beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata:”dengarlah kalian dan ta’atlah.
Dan demikian pula dihadits lain,Nabi Shalallaahu Alaihi wasallam telah memperingatkan dari mengikuti mereka orang-orang yg merubah dan mengganti pergantian dan perubahan,dan Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwasanya yg mengingkarinya maka dia telah selamat dan bahwasanya yg meridhoi dan mengikutinya maka dia akan mendapat adzab di dunia dan di akhirat,dan disini kita mengetahui bahwasanya wajib bagi bagi kaum muslimin jika mereka melihat kejelekan dan kebinasaan yg kadang akan menjadi sebab terkena kejelekan dan kebinasaan yg lebih besar dari itu,maka janganlah kalian mengobati kejelekan dengan kejelekan yg lebih besar dan kebinasaan yg lebih besar dari itu,telah shahih Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam perintahnya untuk ta’at kepada pemimpin muslim semasih amalan itu dalam keta’atan kepada Allaah dan agar tidak memberontak kepadanya dan berma’siyat kepadanya,walaupun telah tampak baginya apa-apa yg tampak(dari ma’siyat dll -pent)semasih dia itu seorang muslim,maka sesungguhnya tidak boleh baginya untuk memberontak,dan mereka telah berkata:”wahai Rasulallaah tidakkah kita memeranginya,beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata:”tidak,semasih mereka menegakan shalat[2] dan beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata dihadits lain:”kecuali jika kalian melihat perbuatan kekufuran yg tampak yg kalian bisa jadikan itu alasan disisi Allaah,
Dan dengan ini diketahui bahwasanya tidak boleh memberontak kepada pemimpin muslim walaupun mereka melakukan kedzaliman,kesalahan,kemungkaran atau kejelekan,karena itu akan membawanya kepada kejelekan yg lebih besar dari itu,dan itu dari perkara yg tidak ada mashlahat untuk manusia tidak ada mashlahat di dalam agamanya dan dunianya,dan meskipun para ulama telah menerangkan bahwasanya itu walaupun terdapat di dalamnya perbuatan kekufuran yg tampak dan terdapat bukti di dalamnya jika seandainya pemberontakan itu menyebabkan kepada mafsadat yg lebih besar dari mafsadat yg dialaminya maka sesungguhnya itu tidak boleh.
Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullaah dibukunya ‘Ilaam Al-Muwaqqi’in:”dan telah tetap di dalam syari’at ini sesungguhnya tidak boleh merubah kemungkaran dengan apa-apa yg membawa kepada kemungkaran yg lebih besar darinya
Dan berkata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah di dalam bantahannya kepada rafidhah di dalam kitabnya di Minhaaj As-Sunnah An-Nabawiyyah:”dan tidaklah suatu kelompok yg memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam pemberontakannya dari kejelekan yg mereka dapatkan dan kepada masyarakatnya itu lebih besar dari kejelekan yg mereka ada di dalamnya.
Kemudian Rahimahullaah berkata:”dari apa-apa yg telah terjadi di dalam sejarah Islam dari fitnah dan cobaan di dalam bab ini,maka beliau memberikan isyarat kepada fitnah yg terjadi di zaman Yazid bin Mua’wiyah di ‘Aam harrah( tahun kesedihan –pent) dan apa yg terjadi di dalam fitnah Ibnul ‘Asy’ats dan Ibnul Muhallib maka sesungguhnya kalian mengetahuinya wahai hamba-hamba Allaah,barangkali dari kalian membaca apa yg telah di tulis di dalam sejarah,dari apa yg dilakukan Yazid bin Mu’awiyyah dari perkara-perkara kejelekan dan kebinasaan,sampai beberapa manusia memaksa untuk mempersiapkan pemberontakan kepadanya di Madinah,dan bangkitlah para shahabat pilihan Radiyallaahu Anhum,para Taabi’in Rahimahullah yg mengikuti mereka dengan kebaikan di dalam pengingkaran kemungkaran itu dan sesungguhnya tidak obati suatu kejelekan dengan kejelekan yg lebih besar dari itu,maka telah benar khabar di Shahih Al-Bukhari,bahwasanya Abdullaah Ibnu Umar Radiyallaahu Anhuma mempersiapkan dirinya dan pergi untuk menasehati mereka yg ingin memberontak kepada Yazid bin Mua’wiyyah dan itu adalah perbuatan yg tidak ditetapkan oleh Syari’at beliau Radiyallaahu Anhuma menyebutkan hadits-hadits yg banyak yg mana telah shahih dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam di dalam perintahnya untuk ta’at kepada pemimpin semasih dia adalah seorang muslim dan sesungguhnya orang yg melepaskan keta’atan kemudian dia mati maka itu adalah seperti mati jahiliyyah,seperti yg telah shahih dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam dan beliau Radiyallaahu Anhuma mengumpulkan anak-anaknya dan keluarganya seluruhnya dan berkata:”tidak ada seorangpun dari kalian yg melepaskan keta’atan,maka sesungguhnya aku menegakkan keta’atan seperti yg Allaah perintahkan kepadaku dan seperti yg diperintahkan Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam kepadaku atau seperti yg dikatakan Radiyallaahu Anhu.
Maka di dalam pemberontakan kelompok itu kelompok yg memberontak kepada Yazid bin Mu’awiyyah mendapatkan kejelekan yg sangat besar,berkata Ibnu Katsiir Rahimahullaah:”maka terjadi di tahun itu yaitu tahun kesedihan pembunuhan yg sangat besar,terbunuh seratus dua puluh ribu orang,dan terjadi di dalamnya perampasan harta pelanggaran harga diri sampai dikatakan bahwasanya telah hamil ditahun itu lebih dari seribu wanita hamil dengan kehamilan yg tidak boleh terjadi seperti itu,dan seluruhnya itu wahai hamba-hamba Allaah dikarenakan hilangnya keamaanan,orang-orang dzalim memberikan kekuasaan sebagian mereka kepada sebagian lainnya,dan juga disitu masuknya sebagian orang-orang pilihan dan orang baik,maka sesungguhnya fitnah jika terjadi seluruhnya dan sisi keburukannya akan menimpa orang yg baik seperti yg didapatkan orang yg jahat dan demikianlah pula Ibnul ‘Asy’ats sesungguhnya dia adalah lelaki yg rakus akan politik yg menghasilkan beberapa kejahatan di dalam negeri itu,maka dia menghasilkan kejahatan dari apa-apa yg terjadi dizaman itu di zaman Hajjaaj bin Yusuf Ast-Tsaqafi dan Abdul Malik juga dari keluarga Bani Umayyah maka terprovokasilah siapa yg terprovokasi,maka memberontaklah bersamanya sebagian orang yg tertipu dengan syubhat itu dan tidak berhenti pada tempat-tempat yg telah dibatasi oleh Allaah Azza Wa Jalla di dalam apa-apa yg telah dikeluarkan Atsaar dan dari hadits-hadits yg shahih,dan dari apa-apa yg telah shahih kabarnya dari orang-orang yg shaleh dari ulama ummat ini yg telah terdahulu,maka ketika itu penyembelihan yg sangat banyak,telah terbunuh banyak dari orang-orang yg shaleh apalagi selain mereka,sampai larilah orang-orang yg telah lari kebeberapa orang-orang kuffar dari Turki dan lainnya yg kemarin mereka menjadi musuh dan pada hari itu menjadi teman yg bisa dijadikan perlindungan dinegara-negara mereka,kemudian mereka diserahkan kembali oleh raja Turki yg kafir kepada bani Umayyah,terbunuhlah siapa saja dari mereka yg terbunuh,dan mengalirlah darah dari mereka siapa saja yg mengalir darahnya menyelisihi apa yg terjadi dimasyarakat mereka,dari perampasan harta,dilanggarnya kehormatan dan tertumpahnya darah dll,demikian itu wahai hamba-hamba Allaah berlalunya sejarah dan waktu pada manusia dan manusia tidak melihat di dalam pemberontakannya terhadap pemimpin,melepaskan keta’atan,membuat fitnah,menimbulkan kerusuhan,demontrasi dan membuat kekacauan dimasyarkat yg menghasilkan kejelekan yg akan datang dengan cepat dan kejelekan yg tertunda,maka sesungguhnya itu wahai hamba-hamba Allaah termasuk sesuatu yg tidak bermanfaat bagi Islam dan Muslimin dan dengannya juga tidak ada pertolongan kepada agamanya dan juga dunianya,bahakan seperti yg dikatakan Syaikh Al-Islaam Rahimahullaah:”tidaklah seseorang yg memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam perkara itu tidak mendapati kebaikan di dalam agamanya dan juga dunianya.dan tidak ada agama yg mereka tegakkan dan tidak pula dunia yg mereka sisakan, dan tidak ada agama yg mereka tegakkan dan tidak pula dunia yg mereka sisakan,jika seandainya Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam memperingatkan dari pemberontakan kepada pemimpin dengan apa-apa yg terjadi di dalamnya dari penyelisihan terhadap Syar’iyyah,dari kekurangan agamanya,dan dari kemungkaran yg terjadi darinya,seperti yg disabdakan beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam:”maka sesungguhnya kalian mengetahui dan mengingkarinya dan bersamaan dengan itu pula tidak diperbolehkan memberontak kepada mereka,dikarenakan dari apa-apa yg akan dia dapatkan dari kejelekan dan kebinasaan yg lebih besar darinya,yg menimpa kepada manusia bersamaan dengan kemungkaran itu,maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg khusus,dan adapun jika diangkat pedang dan tertumpahnya darah,maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg umum,telah datang beberapa orang kepada Imam Ahmad Rahimahullaah dizaman Ma’mun dan dari apa-apa yg terjadi dari fitnah yg besar bagi para ulama,dan orang-orang yg mulia ketika waktu itu cobaan Al-Qur’an (yaitu Al-Qur’an sebagai makhluk-pent),maka terbunuhlah siapa saja yg terbunuh dari ulama,dihukumlah siapa saja yg dihukum,dan dipenjaralah siapa saja yg dipenjara dan dari mereka Imam Ahmad Rahimahullaah,maka datang kepada beliau Rahimahullaah suatu kelompok menginginkan pemberontakan kepada pemimpin,maka mereka berkata apakah kamu tidak mengetahui apa terjadi kepada kita dari kejelekan dan fitnah,maka beliau Rahimahullaah berkata:”sesungguhnya ini adalah fitnah yg khusus,tetapi jika pedang sudah diangkat dan terjadi
pertumpahan darah maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg umum,maka beliau Rahimahullaah semoga Allaah memberikan rahmat-Nya yg luas kepadanya,memperingatkan mereka dari pembunuhan dan dari apa-apa yg akan terjadi dari kejelekan dan kebinasaan,
wahai hamba-hamba Allaah maka ambilah pelajaran dari ayat-ayat Allaah yg ada di alam ini kalau kita tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allaah dan dalil-dalil Syari’at yg bijaksana ini,maka hendaklah kita mengambil pelajaran dari ayat-ayat yg ada di alam ini dari apa-apa yg kita bisa ambil pelajaran dan nasehat di dalamnya,bagi orang-orang yg berakal dan adil,kita meminta kepada Allaah agar mengilhami kita dengan petunjuk-Nya dan agar Allaah memperbaiki keadaan kita dan keadaan kaum muslimin Wal Hamdulillaahi Rabbal ‘Aalamiin.
(Khutbah kedua-pent)

الحمد لله رب العالمين وأشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده ورسوله صلي الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم.أما بعد

Wahai hamba-hamba Allaah telah disebutkan Al-Imam Al-Bukhari[3] di dalam shahihnya sebuah bab,bab fitnah-fitnah yg bergejolak seperti gelombang ombak laut,kemudian beliau Rahimahullaah menyebutkan dari Sufyan ibnu Uyainah dari Ibni Khalaf bin Hausyaf,adapun seseorang menyukai untuk memberikan misal di dalam fitnah atau jika terkena fitnah dengan abyaat Imrubnul Qois,dan abyat itu masih senantiasa diulang-ulang oleh para ulama yg berakal yg bijaksana dengan apa-apa yg telah Allaah berikan kepada mereka dari ilmu Syar’I dan apa-apa yg ada pada mereka dari pengalaman,pengetahuan hakikatnya suatu permasalahan dan fitnah,maka sesungguhnya fitnah tidak ada orang yg mengetahuinya kecuali ulama,maka jika telah hilang seluruh manusia mengetahuinya,tetapi kapan?
Setelah hilangnya dan perginya,maka menyesalah orang-orang yg menyesal ketika tidak bermanfaat suatu penyesalan.
Abyat itu adalah perkataan Imrubnul Qois
# الحرب أول ما تكون فتية #
# يسعى لزينتها كل جهولِ #
# حتى اذا اشتعلت و شب ضرامها #
# ولت عجوزا غير ذات حليلِ #
# peperangan itu awal mula keadaannya adalah seperti pemudi #
# setiap orang yg tidak mengetahuinya berusaha untuk menghiasinya #
# sampai jika peperangan itu telah menyala dan berkobar nyala apinya #
# berpaling keadaannya seperti wanita yg sudah tua,tidak ada orang yg ingin menjadi suami baginya #

Inilah keadaan fitnah,pertama kali dia datang,dia datang seperti wanita muda yg kecil yg cantik,maka berusahalah seluruh manusia untuk menjadi suami baginya dan menjadi orang yg dekat darinya,sampai jika berkobar api peperangan dan terjadilah apa yg terjadi dari fitnahnya,berpalinglah wanita ini yg diawal perkaranya menjadi wanita muda yg memberikan fitnah kepada manusia menjadi wanita yg tua yg tidak mempunyai suami,tidak ada orang yg menginginkannya,sampai dikatakan di akhir abyat
# شمطاء ينكر لونها وتغيرت #
# مكروهة للشم و التقبيل #
#wanita yg beruban rambut kepalanya diingkari warnanya dan dia berubah #
# menjadi dibenci untuk dihirup baunya dan dicium #
Inilah keadaan suatu fitnah jika dia datang dan jika dia berlalu
Wahai hamba-hamba Allaah,kita harus memperingatkan dari fitnah yg tampak dan yg tersembunyi,dan bagi diri kita harus tidak mengikuti setiap orang yg berteriak dan tidak boleh bagi orang Islam disetir oleh tangan-tangan yg tersembunyi dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq,maka mereka(kaum kuffar-pent) mengarahkan mereka (kaum muslimin-pent)kekanan dan kekiri yg akan menjadikan kejelekan di dalam agama mereka dan juga kejelekan di dalam dunia mereka.
Beberapa kaum telah tertipu dengan apa yg terjadi diTunisia hari-hari yg baru saja lewat,maka mereka mengira bahwasanya itu adalah kebaikan untuk rakyatnya,maka ummat membantah para pemimpinnya dan para hakimnya di bumi bagian timur dan barat,apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya rakyat Tunisia di tahun tujuh puluhan,merekalah yg memberontak kepada negara kerajaan dengan cara kerusuhan yg seperti ini,dengan cara demontrasi seperti ini,maka terjadilah revolusi secara umum,sampai seseorang dari mereka yg memimpin dan menghina agama Allaah,dan mencela Syari’at Allaah maka dia berbuka puasa terang-terangan dan selain itu dari perkara-perkara yg memusuhi agama Allaah,dan mereka itulah orang-orang yg menggerakkan sampai hilangnya negeri kerajaan,maka terjadilah apa yg terjadi kemudian terjadi pergolakan roti[4] seperti yg mereka katakan,dan terjadilah setelahnya apa yg terjadi,dan apa yg kalian kira akan datang setelah kejelekan kecuali akan datang sesuatu yg lebih jelek darinya,dan sungguh telah benar apa yg dikatakan Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam:”tidak akan datang suatu zaman kecuali zaman yg setelahnya itu lebih jelek darinya,dan sungguh benar apa yg dikatakan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah:”tidak ada seorangpun yg memberontak kepada pemimpin kecuali dia akan mendapatkan kejelekan lebih besar dari pada kejelekan yg dia rasakan di dalamnya,dan demikianlah di dalam selang waktu itu dan dekat waktunya dari itu telah memberontak rakyat Mesir,dan kelompok yg banyak di Mesir kepada kerajaan,dan dahulu negeri itu yg sekarang itu mengguncang dan berdemontrasi terhadap kerajaannya,ketika itu merekalah yg menggerakan untuk negeri itu dan memberontak pada raja dan pemimpin,dan dahulu di zaman itu keadaan mereka lebih baik dari pada keadaan hari ini,maka mereka yg sekarang mengguncang dan berdemontrasi kepada pemerintah,merekalah orang-orang yg mengerakan kepadanya kemarin,maka mereka mengangkat masalah dan memberontak kepada pemerintahan itu,dan mereka sekarang juga mengguncangnya dan berdemontrasi mereka membuat kekacauan dan kamu tidak mengetahui apa yg akan terjadi setelah ini ???
Dan inilah keadaan orang-orang bodoh,orang rendahan,orang-orang yg mengikuti setiap teriakkan,sesungguhnya fitnah itu membuat seseorang itu menjadi buta dan tuli,membutakan mata dan mentulikan telinga,dan dengan itu hati tidak bisa memahami,maka tidak boleh bagi manusia untuk mengikuti setiap teriakan sampai bergejolak dan bermain fitnah dengannya,lebih khusus lagi bahwasanya dibelakang peristiwa ini ada tangan-tangan yg tersembunyi,dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq,maka akan terjadi kejelekan kepada masyarakat dengan apa-apa yg tidak ada kebaikan di dalamnya,tidak ada kebaikan dunia dan tidak pula di dalam agama,dan demikianlah apa yg telah terjadi dari pengguncangan dan pemberontakan di Sudan,maka terjadilah pergerakan-pergerakan dan terjadilah apa yg terjadi kemudian mereka memberontak kepada keputusan ini,dan lihatlah apa yg terjadi di Sudan dari fitnah ini yg sangat besar dan peperangan diselatan dan musuh-musuh menguasai ahlul Islam,jika mereka berpecah belah dan bercerai-berai dan terjadilah apa yg terjadi yg membuat kelemahan mereka(Ahlul Islam –pent)dan penguasaan sebagian mereka terhadap sebagian yg lainnya,maka ambilah pelajaran wahai hamba-hamba Allaah dengan apa yg telah terjadi di Iraq dan dengan apa yg telah terjadi di Shaumali dan apa yg telah terjadi dinegara-negara lain dengan apa yg ada di dalamnya dari ayat-ayat yg ada di alam ini dari pelajaran yg tampak bagi orang yg adil,bahwasanya baginya agar tidak mengikuti setiap orang yg berteriak,iya jika di sana ada kejelekan atau disana ada kebinasaan maka haruslah diobati dengan cara yg syar’I dan cara yg benar yg menunjukan fitrah yg benar yg mana akal sehat tidak mengingkarinya,dan adapun perbuatan orang-orang yg bodoh dan pengaruh orang-orang yg bodoh dan apa yg diinginkan oleh musuh-musuh yg menghasilkan fitnah ini dan demontrasi-demontrasi,kekacauan dan kedzaliman dengan apa-apa yg kita lihat,maka sesungguhnya itu wallaahi tidaklah dengannya ada kebaikan,tidak ada kebaikan yg akan datang dengan cepat dan kebaikan yg tertunda dan tidak pula kebaikan agama dan tidak pula kebaikan dunianya bahkan itu menjadikan sebab untuk mendapatkan kejelekan yg akan datang dengan cepat dan kejelekan yg tertunda,dan kerugian tehadap agama dan kerugian terhadap dunianya,dan renungkanlah dengan rakyat yg bersiap-siap untuk memberontak kepada pemimpinnya,penguasanya dan rajanya,maka sesungguhnya mereka tidak akan mendapatkan perkaranya yg akan datang atau yg tertunda kedatangannya kecuali lebih jelek dari pada yg mereka rasakan sebelum itu wahai hamba-hamba Allaah,telah datang di Nash-Nash Syar’iyyah yg sangat banyak di dalam memperingatkan dari bab ini,dan fitnah di dalamnya sesungguhnya itu adalah sebab yg besar yg mendatangkan kejelekan kepada rakyat,maka takutlah kalian kepada Allaah,untuk berhenti di dalam batasan-batasan yg Allaah berikan dan berserah diri dengan Syari’at Allaah,bukan berbasa-basi kepada pemimpin dan bukan pula “mudaahanah”[5] kepada orang dekat tetapi karena permasalahan agama kepada Allaah Rabbul ‘Aalamiin,ya Allaah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimiin
Ya Allaah perbaikilah keadaan pemimpin-pemimpin kami dan penguasa-penguasa kami dan jadikanlah pemerintahan kami kepada orang-orang yg takut kepada-Mu,bertaqwa kepada-Mu dan mengikuti keridhoan-Mu ya Rabbal ‘Aalamiin
Ya Allaah ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kaum muslimiin dan jadikanlah negeri ini negeri yg aman,tentram dan juga negeri-negeri kaum muslimiin Wal Hamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin

[1] Maksudnya mendahulukan seseorang di dalam memberikan harta,pangkat,kepemerintahan dll dengan tidak benar seperti disebutkan Syaikh Abdullaah bin Abdirrahmaan bin Abdillaah bin Jibrin Rahimahullaah di Syarh ‘Umdatul Ahkaam Syarh hadiits Ghanaa’im Ghazwati Hunain

[2] Berkata Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Rahimahullaah diambil dari faedah itu bahwasanya meninggalkan menegakkan shalat itu seperti perbuatan kufur yg tampak,karena sabda beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam di dalam ‘Ubadah Radiyallaahu Anhu:”tidak,kecuali jika kamu melihat perbuatan kekufuran yg tampak (Daliil Al-Faalihiin Lithuruq Riyaadh Ash-Shaalihiin 5/137)

[3] Shahiih Al-Bukhari Kitaab Al-Fitnah Bab Al-Fitnah Al-latii Tamuuju Kamaujil Bahr no 7095

[4] Ini adalah suatu istilah yg dipakai dikarenakan naik harga barang-barang termasuk roti

[5] Berkata Ibnu Hajar Rahimahullaah:”al-mudaahanah itu dari kata ad-dihaan(cat-pent)yaitu yg menampakan sesuatu dan menyembunyikan bathinnya,dan ditafsirkan para Ulama Rahimahullaah bahwasanya itu adalah:”pergaulan dengan orang fasiq dengan menampakan keridho’an dengan apa-apa yg dia kerjakan di dalamnya tanpa mengingkarinya (Fathul Baari 10/528)

alih bahasa :
fahmi bin abu bakar jawas

Diposkan oleh abu abdirahman di 18:56 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook

RABU, 04 JANUARI 2012

Hukum-hukum yg berkaitan dengan musibah
بسم الله الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُه ونَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيهِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُرشِداً .
وَصَلَّى الله عَلَى محمَّد وَعَلَى اله وَأَصحَابِه وَسَلِّم تَسلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعدُ:
Judul ini dibawakan karena memang perkara ini tidak mau tidak,pasti akan menimpa anak keturunan adam,siapapun dia dimanapun dia dan itu telah menjadi sunnatullaah,sesungguhnya Allaah Ta’ala jika mencintai suatu kaum,maka Dia akan mengujinya, bahkan semakin besar tingkat kesalehan seseorang,maka semakin besar pula tingkat ujian tersebut dan kadang kita mendengar orang tua kita,adik/kakak kita dan juga saudara(i) kita mendapatkan musibah,walaupun kita merasakan sedih atas apa yg mereka rasakan tetapi dikarenakan mendadaknya musibah,kita kadang kurang siap untuk menghibur mereka,dibawah ini terdapat ayat-ayat,hadiits-hadiits dan atsar-atsar mengenai musibah dan juga hal-hal yg berkaitan dengan kesabaran yg dengan itu mudah-mudahan dapat menghibur rasa duka dihati,ana berharap tulisan ini dapat bermanfaat untuk penulisnya dan juga pembacanya,semoga Allaah Ta’ala menerima amalan-amalan kita,sesungguhnya Dialah penolong kita atas itu dan maha mampu dalam mewujudkannya.aamiin

الم )*) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (*) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (الأنكبوت :1-3)
Artinya: ”Alif laam miim
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,sedang mereka tidak diuji lagi?
dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui orang-orang yang dusta.(Qs.Al-Ankabuut:1-3)
dan Allaah berfirman
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (الأنبياء:٣٥)
Artinya: “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kalian dikembalikan.(Qs.Al-Anbiyaa’:35)
Ibnu Katsiir Rahimahullaah berkata: “dan perkataan-Nya (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً) Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).maksudnya adalah kami akan menguji kalian dengan musibah dan terkadang dengan keni’matan dan terkadang dengan lainnya,lalu kami akan melihat siapakah yg bersyukur dan siapakah yg tidak bersyukur,siapakah yg bersabar,dan siapakah yg putus asa,seperti yg dikatakan ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbaas Radhiyallaahu Anhuma:” perkataan kami menguji kalian,beliau berkata:”kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)dan dengan kesengsaraan dan kelapangan(hidup),dengan kesehatan dan penyakit,dengan kekayaan dan kemiskinan,dengan sesuatu yg halal dan yg haram,dengan keta’atan dan kema’siyatan,dan dengan hawa nafsu dan kesesatan.[1]
ujian atau cobaan di dalam arti bahasa berasal dari perkataan mereka: “Allaah menguji seorang hamba dengan suatu ujian,jika dia diuji didalam kesabarannya dan kesyukurannya.[2]
Musibah adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Berkata Al-Imam Al-Qurthubi: “Musibah adalah segala apa yang mengganggu seorang mu’min dan yang menimpanya.[3]
Wahb bin Munabbih Rahimahullaah berkata: ”tidak ada sesuatupun kecuali ia mulai dari yg kecil kemudian membesar kecuali musibah maka sesungguhnya ia mulai dari yg besar kemudian mengecil.[4]
Dari Anas bin Malik Radiyallaahu Anhu,Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama.(Muttafaqun ‘Alaih)
Ibnul Qayyim Rahimahullaah berkata: ”kalaulah bukan karena Allaah Subhaanahu Wata’ala yg mengobati hamba-hamba-Nya dengan pengobatan yg berupa cobaan dan ujian,maka sungguh mereka akan melampaui batas,menyimpang dan akan angkuh,dan jika Allaah Subhaanahu Wata’ala Menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya,maka Dia akan memberikan obat yg berupa ujian dan cobaan,sebatas kadar keadaannya,Dia mengobatinya dari penyakit yg membinasakan,sampai jika Dia telah membersihkannya,memurnikannya dan menyaringnya,maka Dia akan menjadikannya ditempat derajat yg paling mulia didunia ini,dan itu adalah ‘Ubudiyyah kepada-Nya,dan ganjaran yg paling tinggi diakhirat nanti dan itu adalah melihat-Nya dan dekat dengan-Nya.[5]
Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahullaah berkata: ”Sesungguhnya manusia ketika menghadapi musibah itu ada beberapa derajat
1.orang yg bersyukur
2.orang yg ridha
3.orang yg sabar
4.orang yg tidak sabar
Adapun orang yg tidak sabar maka dia telah melakukan pebuatan yg diharamkan oleh Allaah,dan murka atas suatu ketetapan Rabb semesta alam ini,yg kekuasaan langit dan bumi berada ditangan-Nya,dan kepunyaan-Nya lah kerajaan itu,dan Dia mengerjakan apa-apa yg Dia kehendaki.
Dan adapun orang yg bersabar maka dia telah menunaikan kewajibannya,dan orang yg bersabar adalah orang yg menahan musibah,maksudnya dia melihat musibah itu dalam keadaan pahit,berat,sulit,dan benci jika menimpanya tetapi dia menahannya dan bersabar,dan dia menahan dirinya dari sesuatu yg diharamkan dan ini adalah suatu kewajiban.
Adapun orang yg ridha,maka dia adalah orang yg tidak memperhatikan musibah ini,dan dia melihat bahwasanya musibah datangnya dari Allaah lalu dia ridha dengan keridhaan yg sempurna,dan dia tidak bersedih dihatinya atau menyesal atasnya,karena itu dia ridha dengan keridhaan yg sempurna,dan keadaannya lebih tinggi derajatnya dari pada orang yg bersabar dan untuk ini,ridha itu adalah sunnah dan bukanlah sesuatu yg wajib.[6]
Dan orang yg bersyukur,dia adalah orang yg bersyukur kepada Allaah atas ni’mat ini,tetapi bagaimanakah dia bersyukur kepada Allaah atas musibah ini dan ia adalah musibah?
Jawabannya dari dua sisi
1).agar dia melihat kepada seseorang yg terkena musibah dengan sesuatu yg lebih besar,maka dia bersyukur kepada Allaah bahwasanya dia tidak terkena musibah yg sepertinya,dan untuk itu telah datang suatu hadits :”janganlah kalian melihat seseorang yg diatas kalian (dalam permasalan dunia –pent)dan lihatlah kepada seseorang yg dibawah kalian (dalam permasalan dunia –pent)maka sesungguhnya itu lebih pantas,dan agar kalian tidak menghina ni’mat Allaah yg telah Allaah berikan kepada kalian.[7]
2).agar dia mengetahui bahwasanya dengan musibah ini akan membuat dosa-dosanya terhapuskan dan diangkat derajatnya,jika dia bersabar,maka apa-apa yg ada diakhirat itu lebih baik dari pada apa-apa yg ada di dunia ini,maka dia bersyukur kepada Allaah,dan juga sesungguhnya manusia yg paling besar cobaannya adalah para Nabi Shalawatu Rabbii Wasalaamuhu ‘Alaihim,kemudian orang-orang yg shaleh kemudian yg semisalnya[8],maka agar dia berharap agar dengan musibah itu dia termasuk dari orang-orang yg shaleh,maka dia bersyukur kepada Allaah atas ni’mat ini.[9]
Pentingnya Istirja’ ketika Musibah
Istirja’ adalah ucapan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُوْنَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)
Shahabiyah Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu:( ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)
Ummu Salamah berkata: “Tatkala Abu Salamah meninggal, aku mengucapkan istirja’ dan mengatakan: ‘Ya Allah, berilah saya pahala pada musibah yang menimpa saya dan berilah ganti bagi saya yang lebih baik darinya.’
Kemudian aku berpikir kiranya siapa orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah? Maka tatkala telah selesai masa ‘iddah-ku, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (datang) meminta izin untuk masuk (rumahku) di mana waktu itu aku sedang menyamak kulit,lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melamarku.
Tatkala Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah selesai dari pembicaraannya, aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sebenarnya saya mau dilamar tapi saya seorang wanita yang sangat pencemburu. Saya khawatir, anda akan melihat dari saya sesuatu yang nantinya Allah akan mengazab saya karenanya. Saya juga orang yang sudah berumur dan banyak anak.’
Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: ‘Adapun apa yang engkau sebutkan tentang sifat cemburu, niscaya Allah akan menghilangkannya. Dan apa yang engkau sebutkan tentang umur maka aku juga sama (sudah berumur). Dan yang engkau sebutkan tentang banyaknya anak, maka anakmu adalah tanggunganku.’
Aku berkata: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Rasulullah.’ Lalu beliau menikahiku.
Ummu Salamah berkata setelah itu: “Allah telah menggantikan untukku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR. Ahmad)
Beberapa hal tentang kesabaran yg ada didalam Al-Qur’an,Sunnah dan Atsar-Atsar

1.pujian terhadap orang yg melakukannya
Allaah Azza Wa Jalla berfirman

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (البقرة :١٧٧)
Artinya: “bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar didalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(Qs.Al-Baqarah:177)
2.menerima perintah Allaah dan mendapatkan kebersamaan-Nya yg kebersamaan-Nya itu mengandung pertolongan-Nya
Allaah Azza Wa Jalla berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (البقرة :١٥٣)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Qs.Al-Baqarah:153)
3.Kabar gembira untuk orang-orang yg bersabar
Allaah Azza Wa Jalla berfirman
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (*)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (*)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (البقرة 155-157)
Artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(*)(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun
(*)mereka Itulah orang-orang yang mendapat pujian dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(Qs.Al-Baqarah:155-157)
4.pahala orang yg bersabar tidak terhitung
Allaah Azza Wa Jalla berfirman
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر:١٠)
Artinya : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Rabb kalian”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberikan pahala mereka tanpa batas.(Qs.Az-Zumar:10)
5.orang yg besabar adalah orang yg sangat beruntung
Allaah Azza Wa Jalla berfirman
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (فصلت:٣٥)
Artinya: “sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar.(Qs.Fushilat:35)
6.orang yg bersabar itu adalah orang yg beriman
Seperti yg telah dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab An-Najdi dalam pemberian salah satu bab di dalam kitab tauhid “bersabar atas takdir yg diberikan Allaah kepadanya itu adalah termasuk beriman kepada Allaah”
Allaah Azza Wa Jalla berfirman
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (التغابن :١١)
Artinya: “tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(Qs.At-Taghaabun:11)
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qaasim Rahimahullaah berkata: “maksudnya adalah barang siapa yg terkena musibah lalu dia mengetahui bahwasanya itu adalah takdir Allaah kemudian dia bersabar dan mengharapkan balasannya dan dia berserah diri karena ketetapan Allaah,maka Allaah akan memberikan petunjuk kepada hatinya dan menggantinya dari apa-apa yg telah hilang dari perkara dunianya dengan petunjuk didalam hatinya dan keyakinan yg jujur,dan kadang kala diganti apa-apa yg telah diambil darinya atau dengan yg lebih baik darinya.[10]
‘Alqamah Rahimahullaah berkata didalam ayat ini: “dia adalah seseorang yg terkena musibah lalu dia mengetahui bahwasanya itu dari Allaah kemudian dia ridha dan berserah diri.[11]
7.kesabaran dan keyakinan adalah pondasi dari tawakkal dan dengan keduanya pula didapatkan kepemimpinan didalam agama ini seperti yg dikatakan Syaikh Al-Islam Rahimahullaah[12],dan seperti yg difirmankan Allaah Subhaanahu Wata’ala
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (السجدة:٢٤)
Artinya: “dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar,dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.(Qs.As-Sajdah:24)

Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan Radhiyallaahu Anhu berkata,Rasulallaahu Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda: ”sungguh menakjubkan perkara orang-orang mu’min,sesungguhnya seluruh perkaranya baginya adalah baik,dan itu tidaklah di dapatkan kecuali hanya pada orang mu’min,jika dia mendapatkan sesuatu yg menyenangkannya maka dia bersyukur dan itu adalah baik baginya,dan jika dia mendapatkan kesulitan maka dia bersabar dan itu adalah baik baginya.[13]
Dari Abi Hurairah Radiyallaahu Anhu berkata,Rasulallaahu Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”barang siapa yg Allaah inginkan kebaikan kepadanya maka Allaah akan memberikan musibah kepadanya.[14]
Dari Anas bin Malik Radhiyallaahu berkata,Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda: “jika Allaah menginginkan hambanya suatu kebaikan,maka Allaah akan mendahulukan baginya hukuman didunia,dan jika Allaah menginginkan hambanya suatu keburukan,maka Allaah akan menahan (hukuman)dosa-dosanya didunia sampai disempurnakan dengannya pada hari kiamat.[15]
Dari Abi Hurairah Radhiyallaahu Anhu berkata,Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda: “Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mu’minah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allaah dalam keadaan tidak memiliki dosa.[16]
Dari Abi Sa’id Al-Khudrii Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Aku memasuki tempat Rasulallaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam,dan beliau sedang demam,lalu kuletakkan tanganku di badan beliau,Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut,lalu aku berkata.’Wahai Rasulallaah,alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi),Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami,Aku bertanya.’Wahai Rasulallaah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab: ’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun,Dan apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan.[17]

Dari Abi Sa’id Al-Khudrii dan Abi Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulallaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya.[18]
Dari Ma’qil bin Yasaar Radhiyallaahu Anhu,Rasulallaahu Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda: “iman yg paling utama adalah kesabaran dan kemurahan hati (toleransi).[19]
Umar bin Khaththab Radhiyallaahu Anhu berkata: “kami mendapatkan sebaik-baiknya kehidupan kami adalah dengan kesabaran.[20]
Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullaahu berkata: “Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah,betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya,dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.[21]
Dan Beliau Rahimahullaahu juga berkata: “Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.[22]
Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullaahu berkata kepada sebagian temannya: “Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran;kamu tidak menceritakan sakit yang kamu derita, dan tidak pula menceritakan musibah yang tengah menimpamu serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.[23]
Ibnul Qayyim Rahimahullaah berkata: “dikatakan kepada Imam Syafi’I Rahimahullaah,wahai Aba Abdillaah manakah yg lebih utama bagi seseorang,apakah dia dikokohkan(kemudian dia bersyukur kepada Allaah)atau dia diuji(dengan kesulitan)?maka berkatalah Imam Syafi’I Rahimahullaah: “seseorang tidak akan dikokohkan kecuali setelah dia diuji,maka sesungguhnya Allaah Ta’ala telah menguji Nuh,Ibrahim,Musa,Isa dan Muhammad(Shalawaatullaah Wasalaamuhu ‘Alaihim)ketika mereka bersabar atas ujian maka Allaah kokohkan mereka.[24]
Fudhail bin ‘Iyaadh Rahimahullaah berkata: “tidak akan sampai kepada hakikatnya iman seorang hamba sampai dia menghitung cobaan itu menjadi suatu keni’matan dan kemewahan hidup itu menjadi cobaan dan sampai dia tidak menyukai seseorang memujinya dikarenakan perbuatan ibadahnya kepada Allaah.[25]
Dan dibawah ini beberapa kisah yg bisa kita ambil pelajaran dari ulama salaf kita dalam menghadapi musibah ini
Abdul ‘Aziiz bin Abi Rawwaad Rahimahullaah: “aku melihat ditangan Muhammad bin Waasi’ Rahimahullaah ada luka yg bernanah,sepertinya dia melihat apa yg membuat aku jijik darinya,lalu beliau Rahimahullaah berkata: “apakah kamu mengetahui keni’matan,apa yg diberikan Allaah kepadaku dari nanah ini ?
Maka aku terdiam,lalu beliau Rahimahullaah berkata: “karena Allaah tidak menjadikannya dikedua buah bola mataku,dan tidak juga diujung lidahku,{Abdul ‘Aziiz berkata}maka luka nanah itu telah menghinakanku.[26]
diriwayatkan dari Ibni Abi Haatim dengan isnadnya didalam kitab tafsirnya,dari Khalid bin Yaziid dari ‘Iyaadh bin ‘Uqbah bahwasanya telah wafat anaknya yg bernama Yahya,maka ketika dia turun diliang kuburnya seseorang berkata kepadanya,Wallaahi kalau dia hidup sungguh dia akan menjadi panglima tentara,maka bersabarlah,ikhlaskanlah dia dan harapkanlah balasan dari musibah ini,lalu berkatalah ayahnya: “apa yg mencegahku untuk bersabar dan mengikhlaskannya dan mengharapkan balasan dari musibah ini?dahulu dia telah menjadi perhiasan kehidupan dunia,dan sekarang dia menjadi amalan shaleh.maka ini adalah laki-laki yg bersabar yg ridha dan ikhlash,alangkah bagusnya pemahamannya,dan baiknya ta’ziyahnya (menghibur) untuk dirinya sendiri,dan percayanya atas apa yg telah Allaah berikan kepadanya yg berupa ganjaran bagi orang-orang yg bersabar.[27]

Ibnu Hibban Rahimahullaah berkata: “di dalam biografinya Abi Qilaabah Abdullaah bin Zaid Al-Jarmii Rahimahullaah [28] dari bukunya (Ats-Tsiqaat)
Telah bercerita kepadaku tentang kisah wafatnya,Muhammad bin Al-Mundzir bin Sa’iid,telah bercerita kekada kami Ya’quub bin Ishaq bin Jarh,telah bercerita kepadaku Al-Fadhl bin ‘iisa dari Baqiyyah bin Al-Waliid,telah bercerita kepada kami Al-‘Auzaa’I dari Abdillaah bin Muhammad berkata:”aku pergi kepantai ketempat penambatan hewan,dan waktu itu tempat penambatan hewan kita adalah kandang ternak negeri mesir,maka ketika sampainya aku dipantai,tiba-tiba aku berada disaluran air yg luas berpasir dan berkerikil,dan di sana ada sebuah tenda yg di dalamnya ada seorang laki-laki yg telah hilang kedua tangan dan kakinya dan telah berat pendengaran dan pandangannya,dan dia tidak mempunyai anggota tubuh yg bermanfaat kecuali lisannya dan dia berkata:”yaa Allaah tunjukilah aku,agar aku terus memujimu dengan pujian yg dengannya aku bisa membalas syukur ni’mat-Mu yg telah Kamu berikan kepadaku dan telah Kamu berikan keutamaan yg sempurna kepadaku atas kebanyakan makhluk yg telah Kamu ciptakan,berkata Al-Auzaa’I berkata Abdullaah,aku berkata,demi Allaah sungguh aku akan mendatangi laki-laki ini,dan sungguh akan aku tanya kepadanya,kenapa dia berbicara seperti itu?! Pemahamankah?atau keilmuankah ?! atau ilham yg telah diberikan kepadanya?! maka aku mendatangi laki-laki ini,dan aku memberikan salam kepadanya kemudian aku berkata kepadanya:”aku mendengar kamu berdoa “yaa Allaah tunjukilah aku,agar aku terus memujimu dengan pujian yg dengannya aku bisa membalas syukur ni’mat-Mu yg telah Kamu berikan kepadaku dan telah Kamu berikan keutamaan yg sempurna kepadaku atas kebanyakan makhluk yg telah Kamu ciptakan” maka keni’matan apa yg kamu dapatkan dari keni’matan yg Allaah berikan kepadamu sehingga kamu memberikan pujian kepada-Nya? dan keutamaan apa yg telah Allaah berikan kepadamu sehingga kamu bersyukur atasnya? demi Allaah jika seandainya Allaah mengirimkan api dari langit kemudian membakarku,dan Dia memerintahkan gunung-gunung kemudian menghancurkanku,dan Dia memerintahkan laut-laut menenggelamkanku,dan Dia memerintahkan bumi kemudian menelanku,tidaklah bertambah sesuatu apapun perasaanku untuk Rabbku kecuali bersyukur dari apa-apa yg telah Dia berikan keni’matannya kepadaku dari lisanku ini,tetapi wahai Abdallaah karena kamu telah datang kepadaku,aku mempunyai kebutuhan yg mana kamu telah melihat keadaanku,aku bukanlah orang yg mampu memberikan manfaat dan juga mencegah bahaya untuk diriku,sebelum ini anakku telah bersamaku,yg telah memperhatikanku ketika waktu shalatku dialah yg memberikan air wudhu kepadaku,dan jika aku lapar dialah yg menyuapiku,dan jika aku haus,dialah yg memberikan minuman kepadaku,dan aku telah kehilangannya selama tiga hari,maka tolonglah carikan kabarnya untukku Rahimakallaah,dan aku berkata:”demi Allaah,tidaklah seseorang yg menolong kebutuhan manusia itu lebih besar pahalanya disisi Allaah daripada seseorang yg menolong kebutuhan orang yg sepertimu,kemudian aku keluar mencari kabar anak muda yg diceritakan tadi,dan ketika aku belum jauh perjalananku,sampai aku diantara dua bukit pasir,ketika itu aku menemukan seorang pemuda yg telah diterkam binatang buas,dan telah dimakan dagingnya,dan aku berkata:”inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un,dan aku berkata:”bagaimana perasaanku ketika mendatangi orang ini? dan ketika aku berjalan menuju ketempatnya,tiba-tiba terdetiklah dihatiku,tentang kisah Nabi Ayyuub Alaihi Salam,dan ketika aku mendatanginya,aku memberikan salam kepadanya,dan dia menjawab salamku,dan beliau berkata:”bukankah engkau shahabatku?
aku berkata: ”benar
beliau berkata: ”apakah yg telah kau kerjakan dengan kebutuhanku?
Aku berkata: ”kamu yg lebih mulia disisi Allaah atau Nabi Ayyuub Alaihi Salam?
Beliau berkata: ”tentu Nabi Ayyuub Alaihi Salam
Aku berkata: ”apakah kamu mengetahui apa yg Rabbnya lakukan kepadanya?
Bukankah Allaah telah mengujinya dengan hartanya,keluarganya dan anaknya?
Beliau berkata: ”benar
Aku berkata: ”bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya?
Beliau berkata: ”beliau bersabar,bersyukur dan memuji Allaah
Aku berkata: ”maka Allaah belum ridha dengan itu darinya,sampai kerabatnya dan orang-orang yg mencintainya meninggalkannya?
Beliau berkata: ”benar
Aku berkata: ”bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya?
Beliau berkata: ”beliau bersabar,bersyukur dan memuji Allaah
Aku berkata: ”maka Allaah belum ridha dengan itu darinya,sampai Allaah menjadikan ia sebuah tontonan bagi orang yg berjalan,apakah kamu mengetahui itu ?
Beliau berkata: ”iya
Aku berkata: ”bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya ?
Beliau berkata: ”beliau bersabar,bersyukur dan memuji Allaah
Ringkaskanlah ceritamu Rahimakallaah
Aku berkata kepadanya: ”sesungguhnya seorang pemuda yg kamu telah mengutusku untuk mencarinya,aku menemukannya diantara dua bukit pasir,dan ia telah diterkam binatang buas dan telah dimakan dagingnya,semoga Allaah mengagungkan pahalamu,dan agar kamu diberikan kesabaran
Dan berkatalah orang diuji ini: ”Alhamdulillaah yg tidak menciptakan keturunanku dari makhluk ciptaan yg melakukan ma’shiyat kepada-Nya sehingga Dia mengadzabnya dengan api neraka kemudian beliau bekata:”inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun,dan beliau menarik nafas dengan tarikan yg panjang dan bersedu sedan,kemudian wafatlah beliau,dan aku berkata:”inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun,sungguh telah besar musibahku,seorang laki-laki seperti ini jika aku tinggalkan maka akan dimakan binatang buas,dan jika aku duduk saja aku tidak mampu berbuat manfaat dan juga bahaya,kemudian aku bentangkan kain diatasnya dengan pakaian sejenis jubah yg biasa dia pakai,kemudian aku duduk disisi kepalanya dan menangis,dan ketika aku duduk,tiba-tiba masuklah 4 orang laki-laki dengan tanpa izin,dan mereka berkata:”wahai Abdallaah bagaimanakah keadaanmu? dan apa kisahmu?
Kemudian aku menceritakan kepada mereka kisahku dan kisahnya,kemudian mereka berkata kepadaku: ”bukakanlah kain wajahnya untuk kami,barangkali kami mengetahuinya,maka ketika dibuka kain itu dari wajahnya,maka kaum itu bersungkur kepadanya mencium kedua matanya dan yg lainnya mencium tangannya,dan mereka berkata:”demi ayahku,telah lama mata yg tercegah dari sesuatu yg diharamkan Allaah,dan demi ayahku,tubuh yg telah lama,selalu bersujud dan manusia dalam keadaan tidur,maka aku berkata :”siapakah orang ini yarhamukallaah? maka mereka menjawab :”ini adalah Abu Qilaabah Al-Jarmi shahabatnya Ibnu Abbas Radiyallaahu Anhuma,dan beliau adalah orang yg sangat mencintai Allaah dan Rasul-Nya Shalallaahu Alaihi Wasallam,lalu kami mandikan dan kami pakaikan kafan kepadanya dengan pakaian yg ada pada kami,dan kami menshalatinya dan menguburnya,dan pergilah orang-orang itu dan akupun pergi ketempat penambatan hewanku,maka ketika masuk gelapnya malam,dan aku menaruh kepalaku dan aku melihat seperti seseorang yg mimpi dari tidurnya,beliau berada dikebun dari kebun surga dan memakai dua pakaian dari pakaian Ahli surga dan dia membaca wahyu
سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (الرعد :٢٤)
Artinya: ”(sambil mengucapkan) keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(Qs.Ar-Ra’ad:24)
Maka aku berkata: ”bukankah kamu shahabatku?
Beliau menjawab: ”benar
Aku berkata: ”bagaimana kamu mendapatkan ini?
Beliau menjawab: ”sesungguhnya Allaah mempunyai derajat-derajat yg tidak bisa di dapatinya kecuali dengan kesabaran ketika terkena musibah,dan syukur ketika ada kelapangan,dengan perasaan takut kepada Allaah dalam keadaan yg tersembunyi dan terbuka.[29]
Abul Farj Ibnul Jauzii Rahimahullaah berkata: ”obat ketika menghadapi musibah itu ada tujuh
1.agar dia mengetahui bahwasanya dunia itu adalah tempatnya cobaan dan kesusahan,yg tidak diharapkan peristirahatan darinya
2.agar dia mengetahui bahwasanya musibah itu adalah suatu ketetapan
3.agar dia membandingkan jika seandainya terkena musibah yg lebih besar dari musibah itu
4.agar dia melihat keadaan orang-orang yg terkena musibah sama sepertinya ini,maka sesungguhnya mengikuti itu adalah ketenangan yg besar
5.agar dia melihat keadaan orang-orang yg lebih besar terkena musibah,maka itu akan memudahkannya
6.mengharapkan gantinya,seandainya orang yg telah lalu itu bisa baginya untuk diganti,seperti anak dan istri
7.mengharapkan pahala dengan kesabaran didalam keutamaannya,dan ganjaran orang-orang yg bersabar dan kegembiraannya didalam bersabar,maka sesungguhnya naik ketingkat keridhaan itu adalah maksud dan tujuan.
Dan bisa ditambahkan dengan obat yg ketujuh ini beberapa perkara
8.agar seorang hamba mengetahui bagaimanapun ketetapan itu terjadi maka itu adalah baik baginya
9.agar dia mengetahui bahwasanya cobaan yg besar itu adalah kekhususan untuk orang-orang pilihan
10.agar dia mengetahui bahwasanya dia adalah seorang hamba/sesuatu yg dimiliki,dan orang yg dimiliki itu tidak mempunyai sesuatu apapun didalam dirinya
11.sesungguhnya kejadian ini terjadi atas keridhaan Al-Malik,maka wajiblah bagi seorang hamba untuk ridha dengan apa-apa yg telah tuannya ridhai.[30]
12.menegur diri sendiri ketika berkeluh kesah yg dilarang
13.sesungguhnya musibah itu hanyalah sesaat seperti tidak pernah terjadi[31]
Ibnul Qayyim Rahimahullaah berkata: “secara garis besarnya kebiasaan mereka (para salaf) mereka tidak pernah merubah kebiasaan mereka ketika sebelum datangnya musibah,dan tidak pula mereka meninggalkan apa-apa yg biasa mereka amalkan,karena perbuatan ini seluruhnya menafikan kesabaran[32]
Dari Anas bin Maalik Radhiyallaahu Anhu berkata,Rasulallaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “tiga hal yg akan mengikuti mayyit,lalu yg dua akan kembali dan yg satu akan tinggal dengannya,yg kembali adalah keluarganya dan hartanya,dan yg akan tinggal adalah amalannya.[33]
Dan Seorang hamba membutuhkan kesabaran di tiga keadaan
1.sebelum memulai ibadah dengan memperbaiki niat dan keikhlasan,dan mengikat kuat keinginan untuk melaksanakan perintah dengannya dan menjauhkan diri dari sebab-sebab riya dan sum’ah
2.bersabar ketika beramal,senantiasa bersabar ketika ada sesuatu sebab kelalaian dan melampaui batas,dan senantiasa agar menyertakan diri untuk mengingat niat dan menghadirkan hati disisi Allaah Azza Wa Jalla dan dia membutuhkan kesabaran,untuk menunaikan rukun-rukunnya,syarat-syaratnya,kewajiban-kewajibannya dan sunah-sunahnya
3.bersabar setelah selesai dari beramal,maka baginya agar hati-hati untuk tidak melakukan sesuatu yg membatalkannya Allaah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (البقرة :٢٦٤)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir(Qs.Al-Baqarah:264)maka bersabar untuk menjaganya setelah selesai dari beramal itu adalah sesuatu yg paling bermanfaat bagi seorang hamba,ini adalah ma’na dari apa yg telah disebutkan Syaikh Al-Islam
Ibnul Qayyim Rahimahullaah berkata: “dan segala sesuatu yg akan ditemukan seorang hamba ditempat ini (dunia)tidak akan lepas dari dua macam:
1.sesuai hawa nafsu dan keinginannya
2.tidak sesuai hawa nafsu dan keinginannya dan itu butuh kesabaran di dalam dua macam ini
Adapun macam yg sesuai dengan apa yg dia inginkan,seperti kesehatan,keselamatan,kedudukan,harta dan beberapa macam keni’matan yg diperbolehkan dan dia lebih butuh kepada kesabaran didalamnya dari beberapa sisi
1.agar dia tidak cenderung dan condong kepadanya,dan agar dia tidak tertipu dengannya,dan ini tidak membawanya kepada kesombongan,dan kesenangan yg dihina yg Allaah Azza Wa Jalla tidak menyukai pelakunya
2.agar dia tidak bersungguh-sungguh dan keasyikan ketika mencarinya,dan janganlah berlebih-lebihan didalam menyalurkannya,maka sesungguhnya itu akan merubah kepada kebalikannya,barang siapa yg berlebih-lebihan didalam hal makanan,minuman,dan jima’ itu akan berubah menjadi kebalikannya,dan diharamkanlah makanan,minuman dan jima’,[34]
3.agar dia bersabar untuk menunaikan hak-hak Allaah didalamnya dan janganlah dia mengabaikannya kemudian meniadakannya
4.agar dia bersabar untuk tidak menggunakannya didalam keharaman,dan janganlah dia memberikan kekuasaan kepada jiwanya dari setiap apa-apa yg dia inginkan darinya,maka sesungguhnya itu akan membawanya kepada keharaman,lalu jika dia terjaga dia akan terjatuh kedalam perbuatan yg makruh,dan tidaklah seseorang itu bersabar pada waktu kemakmuran kecuali orang-orang yg benar dan jujur
Sebagian salaf berkata: “orang mu’min dan kafir akan bersabar atas ujian tetapi tidak ada orang yg bersabar didalam kelapangan hidup kecuali orang-orang yg benar dan jujur.
Adapun macam yg kedua: “yaitu ketaatan,maka seorang hamba itu butuh kepada kesabaran didalam mengerjakannya,karena tabiatnya jiwa itu berpaling dari kebanyakan perbuatan ibadah,kecuali orang-orang yg diberikan taufiq oleh Allaah,dan itu akan jelas dengan shalat,maka tabiatnya jiwa adalah bermalas-malasan didalamnya dan mendahulukan istirahat,dan juga zakat maka tabiatnya jiwa didalamnya adalah kikir dan pelit,adapun berpuasa maka tabiatnya jiwa didalamnya menginginkan tidak berpuasa dan tidak merasakan kelaparan,dan untuk ini maka bandingkanlah,maka sesungguhnya dia butuh kepada kesabaran di seluruh perbuatannya itu wallaahu ‘alam
Dan ini termasuk dari bab perkataanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallaahu ‘Anhu: “ kami diuji dengan kesulitan maka kami bersabar,dan kami diuji oleh kelapangan hidup maka kami tidak bersabar.[35]
Dan yg terakhir
‘Ubaid bin ‘Umair Rahimahullaah berkata: “dahulu ada seorang lelaki yg mempunyai tiga shahabat karib,sebagiannya mempunyai sifat yg lebih khusus dari pada yg lainnya,lalu dia terkena musibah,dan dia menemui dari tiga shahabatnya yg paling khusus dengannya,kemudian dia berkata: “wahai fulan aku telah terkena musibah ini dan itu,dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku,maka dia berkata: “aku tidak bisa berbuat apa-apa,lalu pergilah dia keshahabat karib lainnya yg mempunyai kekhususan,kemudian dia berkata: “wahai fulan,aku telah terkena musibah ini dan itu,dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku,maka dia berkata: “pergilah kamu bersamaku sehingga kamu sampai ketempat yg kamu tuju,jika kamu telah sampai maka aku akan kembali dan meninggalkanmu,lalu dia pergi ketempat yg paling jauh dari yg tiga shahabat ini, kemudian dia berkata: “wahai fulan aku telah terkena musibah ini dan itu,dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku,maka dia berkata: “aku akan pergi bersamamu kepada saja kamu pergi,dan aku akan berlabuh kemana saja kamu berlabuh,‘Ubaid bin ‘Umair Rahimahullaah berkata: “ yg pertama itu adalah hartanya,yg dia wariskan kepada keluarganya dan tidak ada sedikitpun darinya yg mengikutinya,dan yg kedua adalah keluarganya dan kerabat dekatnya,mereka pergi kekuburannya bersamanya kemudian mereka kembali lagi dan meninggalkannya,dan yg ketiga adalah amalannya,sesungguhnya dia bersamanya kemana saja dia pergi dan kemana saja dia berlabuh.[36]
Untuk itu Allaah Subhaanahu Wata’ala berfirman
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة :١٤٨)
Artniya: “Maka berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan. di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Qs.Al-Baqarah:148)
Allaah Subhaanahu Wata’ala berfirman
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (المطففين:٢٦)
Artinya: ”dan untuk yang demikian itu hendaknya berlomba-lombalah orang yg berlomba-lomba.(Qs.Al-Muthaffifiin:26)
Allaah Subhaanahu Wata’ala berfirman
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (*)لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ (الصافات:61-60)
Artinya: “Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.
(*)untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”)Qs.Ash-Shaaffaat 60-61)
Dan barang siapa yg tidak beramal maka nasabnya tidak akan membantunya
Semoga Allaah memudahkan kita untuk mengikuti mereka dan berjalan diatas jalan yg mereka berjalan diatasnya Radhiyallaahu ‘Anhum wa Rahimahumullaah ‘Ajma’iin,dan memberikan kita kemudahan untuk bersabar didalam segala macamnya,aamiin

Abu Bakr Fahmi Abu Bakar jawwas
Yang mengharapkan rahmat dan ridho Rabbnya
Daarul Hadiits Syiher Hadramaut Yaman Sabtu 4 Jumaadal Akhir 1432 atau bertepatan dengan Tanggal 7-5-2011

[1].Tafsiir Ibnu Katsiir 3/178
[2].Lihatlah didalam arti bahasa untuk Al-Ibtilaa Ahmad bin Faaris Maqaayiis Al-Lughah 1/292
[3].Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 2/175
[4].Hilyah Al-Auliyaa’ 4/63
[5].Zaadul Ma’aad 4/195
[6].yg benar dalam permasalahan ini adalah dirinci seperti yg dilakukan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahullaah sendiri di Al-Qaul Al-Mufiid ‘Ala Kitaab At-Tauhiid bab Minal Iimaan Billaah Ash-Shabru ‘Ala Aqdaarillaah,dan juga berkata Asy-Syaikh Shaalih bin Abdil Aziiz Aalu Asy-Syaikh Hafidzahullaah:”derajat yg kedua adalah ridha berkata Rahimahullaah(Syaikh Al-Islam- pent)bahwasanya Ridha itu dikatakan wajib dan dikatakan juga mustahab,ini adalah dua pendapatnya Ahlil Ilm,dari mereka ada yg mengatakan bahwasanya ridha itu wajib dan dari mereka ada yg mengatakan bahwasanya ridha itu mustahab,dan yg benar adalah bahwasanya ridha tidak dikatakan wajib dan tidak pula mustahab,tetapi dia mempunyai dua sisi pandangan
1.ridha dengan perbuatan Allaah Azza wa Jalla dan itu adalah ketentuan-Nya dan keputusan-Nya maka itu adalah wajib,karena ridha dengan sifat Allaah dan apa yg diperbuatnya adalah wajib
2.ridha dengan apa yg telah ditakdirkan atau yg ditentukan maka ini adalah mustahab (At-Ta’liiqaan Al-Hisaan ‘Ala Kitaab Al-Furqaan)dan Syaikhunaa Abdullaah Al-Mar’ii Hafidzahullaah juga berpendapat seperti ini
[7].HR.Muslim dari Abi Hurairah Radiyallaahu Anhu no 2963
[8].HR.Thobrani dari saudarinya Hudzaifah Radiyallaahu Anhuma dan dishaihkan Syaikh Albani Rahimahullaan di Shahiih Al-Jaami’ no 994
[9].Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ 5/395-396
[10].Haasyiyah Kitaab At-Tauhiid bab Minal Iimaan Billaah Ash-Shabru ‘Ala Aqdaarillaah
[11].Shahiih sanadnya sampai ke ‘Alqamah Rahimahullaah diiwayatkan oleh Thabari didalam Tafsirnya disurat AT-Taghaabun ayat:11,dan ‘Abdurrazzaaq di dalam Tafsirnya,2/295 dari jalan A’masy dari Abi Dhabyaan dari ‘Alqamah.dan A’masy telah melakukan ‘An’anah tetapi ‘An’anahnya tidak membahayakan seperti yg dirojihkan Ahmad,Ya’quub Al-Fasawi,dan dari ulama abad ini Syaikh Muqbil Al-Waadi’I Rahimahumullaah Al-Jamii’
[12].Majmu’ Al-Fataawa,28/442
[13].HR Muslim 7500 dan Ahmad 18939
[14].HR.Bukhari 5645 dan Ahmad 7235
[15].HR.Tirmidzi 4/601 no 2396 dan Hakim 4/651 no 8799 dan dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullaah di Ash-Shahiihah 1220
[16].HR.Bukhari di Adab Al-Mufrad di shahihkan Syaikh Albani Rahimahullaah di Shahiih Adab Al-Mufrad bab Kaffaaratil Mariidh 1/196 dan dishahihkan Syaikh Muqbil Al-Waadi’i Rahimahullaah dishahiih Al-Musnad 2/385
[17].HR.Ibnu Majah dan dishahiihkan Syaikh Albani Rahimahullaah Silsilah Ash-Shahiihah no 144,dan di shahiikan Syaikh Muqbil Al-Waadi’I Rahimahullaah diTuhfah Al-Mujiib 390
[18].HR.Bukhari 5641-5642,Muslim 6568 dan Ahmad 8027
[19].diriwayatkan oleh Ad-Dailami 1/1/128,dan Bukhari di Tarekh Al-Kabiir 5/25 dari ‘Ubaid bin Umair dari ayahnya Radiyallaahu Anhu dihasankan Syaikh ALbani rahimahullaah di Silsilah Ash-Shahiihah 3/489 no 1495
[20].HR.Bukhari no 6469 bab Ash-Shabru ‘An Mahaarimillaah
[21].Mawa’idz Al-Hasan Al-Bashri,158
[22].Mawa’izd Al-Hasan Al-Bashri,62
[23].Tafsiir Ibnu Katsiir,3/489 dan Mawa’izh Sufyan Ats-Tsauri,81
[24].Al-Fawaa’id Libnil Qayyim,283
[25].Siyar A’laam An-Nubalaa’,8/434
[26].Hilyah Al-Auliyaa’,2/352
[27].Tafsiir Ibni Abi Haatim,9/207 no 13882
[28].Beliau adalah seoarang ahli ibadah dan ahli zuhud yg berasal dari Bashrah dan beliau meriwayatkan hadits dari Anas bin Maalik dan Maalik bin Al-Huwairits,dan diriwayatkan hadits darinya Ayyuub dan Khaalid,wafat di Syaam pada tahun 104 H pada masa kerajaan Yaziid bin Abdil Maalik. Ats-Tsiqaat Libni Hibbaan baab Al-‘Ain,5/2-3
[29].Ats-Tsiqaat Libni Hibbaan baab Al-‘Ain,5/3-5
[30].tidak semua kejadian itu diridhai oleh Allaah,seperti kafirnya fir’aun,Allaah tidak meridhainya dan terjadi maka ini adalah Al-Qadhaa’ Al-Kaunii,adapun yg diridhai oleh Allaah adalah Al-Qadha Asy-Syar’ii seperti Islamnya Umar bin khaththab Radhiyallaahu Anhu,dan ridha juga atas musibah itu adalah ada perinciannya seperti yg telah lewat di footnote no 6
[31].Tasliyatu Ahlil Mashaa’ib,29
[32].’Uddatush Shaabiriin,100
[33].HR.Bukhari 8/134,Muslim 8/211,Ahmad 3/110,Tirmidzi 2379 dan An-Nasaa’I 4/53
[34].
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (الأعراف:٣١)
Artinya: “dan Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan,Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(Qs.Al-‘Araaf:31)
Berkata Syaikh Abdullaah Al-Mar’ii Hafidzahullaah perbedaan antara Al-Israaf dan At-Tabdziir adalah jika Al-Israaf itu berlebih-lebihan yg asalnya dari sesuatu yg diperbolehkan dan At-Tabdziir itu berlebih-lebihan yg asalnya dari sesuatu yg tidak diperbolehkan
[35].Tasliyatu Ahlil Mashaa’ib,faslun fil haalaatil latii yahtaaju fiihal ‘abdu ila ash-shabri 185
[36].Hilyatul Auliyaa’,3/269