Habib bin Hilal

Setelah Rasulullah, Muhammad saw. wafat, sebagian kaum muslimin berbalik ke belakang kepada kekafiran. Mereka murtad atau melepaskan diri dari islam dan negara islam yang berpusat di Madinah. Salah satu kelompok ini adalah yang dipimpin oleh Musailamah, yang memproklamirkan diri sebagai Nabi.

Khalifah Abu Bakar r.a. yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah, akhirnya memutuskan untuk memerangi Musailamah yang cukup memiliki pengikut yang besar. Salah satu peperangan itu dipimpin oleh panglima Khalid bin Walid dan diikuti oleh seorang shahabat Anshar bernama Abu Uqail. Abu Uqail termasuk orang miskin namun tak pernah tertinggal ketika ada seruan jihad yang membutuhkan sumbangan harta dan perbekalan yang besar.

Dari Ja’far bin Abdillah bin Aslam berkata, “Tatkala Perang Yamamah berlangsung dan kaum muslimin berada di tengah medan perang, orang yang pertama kali mendapat luka adalah Abu Uqail. Dia terkena panah pada bagian antara kedua bahu dan dadanya namun tidak meninggal dunia. Kemudian panah itu dicabut sehingga pada siang hari tangan kirinya terasa lemah. Kemudian ia dibawa ke dalam kemah.

Ketika peperangan semakin memanas, umat Islam tampak mengalami kekalahan serta mulai melewati batas yang ditentukan, sementara itu Abu Uqail dalam kondisi lemah karena luka, tiba-tiba ia mendengar Ma’n bin Addy menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, mohonlah pertolongan kepada Allah, mohonlah pertolongan kepada Allah, seranglah musuhmu!’

Ibnu Umar berkata, “Setelah mendengar seruan itu Abu Uqail berdiri untuk menemui kaumnya. Maka aku bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan? Kamu tidak wajib menyerang!’

Abu Uqail menjawab, ‘Tadi ada seseorang memanggil namaku.’

Aku katakan kepadanya, ‘Orang yang memanggil itu mengatakan, ‘Wahai orang-orang Anshar, bukan memanggil wahai orang-orang yang terluka!’

Abu Uqail berkata, ‘Aku termasuk salah satu orang Anshar, oleh karena itu, aku harus menyambut seruannya sekalipun dengan merangkak.’

Abu Uqail Meninggal dengan Jari Menunjuk Ke Langit

Kemudian Abu Uqail memakai ikat sabuknya dan mengambil pedang dengan tangan kanannya seraya menyeru, ‘Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana dalam perang Hunain! Bersatulah kamu sekalian semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Majulah ke medan perang sebab kaum muslimin itu bersembunyi sekedar memperdayakan musuh, giringlah musuhmu sehingga masuk ke dalam kebun kemudian kamu membaur dengan mereka dan pedang-pedang kalian memenggal mereka.’

Aku perhatikan bagian-bagian tubuh Abu Uqail ternyata tangannya yang terluka telah lepas dari bahunya dan jatuh di medan peperangan. Pada tubuhnya terdapat 14 luka yang menyebabkan ia meninggal dunia. Saat itu musuh Allah, Musailamah telah terbunuh.

Aku berada di sisi Abu Uqail ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir. Aku memanggil namanya, “Wahai Abu Uqail! Dia menjawab, ‘Labbaik – dengan terbata-bata – siapa yang kalah?’ Aku menjawab, ‘Bergembiralah, musuh Allah terbunuh.’ Kemudian ia menunjuk ke langit dengan jarinya sambil memuji Allah lalu meninggal dunia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.”

Hikmah dari kisah Abu Uqail

Semoga kita bisa mengambil ibrah, pelajaran dan hikmah dari kisah kepahlawanan shahabat Abu Uqail ini. Semangatnya dalam membela islam, menegakkan kalimat Allah dan menyambut seruan jihad sangat patut diteladani. Ia tidak mempedulikan kelemahan pada dirinya ketika kewajiban datang dan pahala besar diharapkan.