01. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan utama dalam masalah rendah hati (tawadhu’).

02. Meskipun Rasulullah SAW merupakan manusia paling mulia di hadapan Allah, namun Beliau tidak pernah sombong dengan kedudukannya ini, bahkan Beliau merendahkan hati dengan mencintai para sahabat, kerabat dan anak-anaknya, sehingga mereka pun akhirnya mencintai dan memuliakannya.

03. Bahkan mereka lebih mengutamakan keperluan Rasul daripada keperluan mereka sendiri.

04. Banyak para sahabat yang dengan bangga menceritakan ke-tawadhu’-an Rasulullah. Di antaranya adalah Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata:

Rasulullah SAW memberi makan hewan-hewan piaraan, mengikat unta, membersihkan rumah, memerah susu kambing, menjahit baju, makan bersama pembantunya, membantu menumbuk (gandum) apabila pembantunya letih, membeli sesuatu dari pasar dan membawanya sendiri ke rumah, bersalaman dengan orang kaya, orang fakir, orang tua, anak muda, memulakan memberi salam kepada setiap orang yang ditemukannya baik itu besar, kecil, orang berkulit hitam atau putih, orang merdeka ataupun budak (hamba sahaya). Ihya ‘Ulum al-Din (3/306)

05. Contoh lain dari ke-tawadhu’-an Rasulullah adalah, di saat Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya untuk memasak kambing, salah seorang dari mereka menawarkan diri sebagai penyembelih.

06. Yang lain siap menguliti dan ada juga yang siap memasaknya. Rasul berkata: “Saya yang bertugas mengumpulkan kayu bakar..”

07. Mendengar perkataan Rasul ini, para sahabat terkejut dan berkata: Cukup kami yang mengerjakan semua wahai Rasul!

08. Namun Rasulullah menjawab: “Saya mengetahui bahwa kalian boleh menyelesaikan pekerjaan ini, tetapi saya tidak menyukakan untuk diistimewakan. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka melihat salah seorang hambanya diistimewakan dari kawan-kawannya..”
-Syarh al-Zurqani (4/265)-

09. Rasulullah SAW sering mempersilahkan hamba sahaya atau sahabat-sahabatnya membonceng di belakangnya. Beliau pernah memboncengkan Usamah bin Zaid dari ‘Arafah, al-Fadl bin ‘Abbas dari Muzdalifah dan juga Mu’adh bin Jabal, Ibn ‘Umar dan sahabat-sahabatnya yang lain.

10. Rasulullah SAW juga tidak merasa segan tidur di lantai. Jika para sahabat membentangkan kain, Rasul tidur di atasnya. Namun apabila tidak, Beliau sudah terbiasa tidur di atas lantai. Alas tempat duduk Beliau isinya hanyalah serabut, panjangnya hanya dua hasta dan lebarnya satu hasta lebih satu kaki. Beliau tidur di atas tikar dan Beliau tidak mempunyai alas tidur selain itu.
Ihya ‘Ulum al-Din (2/318)

11. Rasulullah SAW sudah terbiasa berkumpul dengan orang-orang fakir dan kaum miskin. Abu Sa’id berkata: Suatu hari saya duduk bersama orang-orang miskin kaum Muhajirin. Mereka duduknya saling berdekatan untuk menutupi bagian tubuh mereka yang terbuka. Kemudian Rasulullah s.a.w. duduk di tengah-tengah kami supaya terlihat oleh semua orang yang sedang berkumpul. Beliau mempunyai hamba sahaya lelaki dan perempuan, dan makanan serta pakaian Beliau tidak jauh beda dengan makanan dan pakaian mereka.

13. Rasulullah SAW selalu memenuhi undangan orang yang mengundangnya, baik itu orang merdeka, hamba sahaya, orang berkulit putih maupun hitam. Beliau tidak pernah merasa risau diundang oleh orang-orang miskin. Ihya ‘Ulum al-Din (2/319).