Oleh
Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily.

Pertanyaan
Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily ditanya : Ada sebuah selogan yang diserukan oleh beberapa orang yang bodoh, mereka mengatakan : Kita, satu dengan yang lainnya adalah saling melengkapi. Maksud mereka adalah buku-buku berbagai kelompok Islam, sehingga dikatakan : Sebagian menyerukan berdirinya Daulah Islamiyyah, sebagian lagi menyerukan kepada Fadhoilul A’maal (keutamaan amal,-pent), dan kalian menyerukan keselamatan aqidah. Kita, satu dengan yang lainnya adalah saling melengkapi.

Jawaban.
Ini adalah perkataan yang batil, karena tidak ada satu kebenaran pun yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tersebut, kecuali hal itu pasti telah dimiliki oleh Ahlus Sunnah.

Maka dari itu,Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan : “Ahlus Sunnah tidak membutuhkan kepada selainnya, akan tetapi selainnya membutuhkan Ahlus Sunnah”.

Demi Allah, perkara fadhoilul a’maal dan dakwah kepadanya, baik berupa seruan untuk mendirikan shalat malam, maupun dzikir kepada Allah, semua itu ada di dalam buku-buku Ahlus Sunnah, bahkan apa yang ada di dalamnya lebih banyak daripada yang ada di dalam perkataan mereka. Kenyataannya, mayoritas orang-orang yang mendakwahkan fadhoilul a’maal adalah orang-orang yang bodoh dan tidak paham, seperti Jama’ah Tabligh dan yang lainnya.

Apa yang disebut sebagai upaya mendirikan Daulah Islamiyah didalam buku-buku Al-Ikhwan (Partai Ikhwanul Muslimin di Mesir dan yang sehaluan dengannya di negara-negara lain termasuk Indonesia, -pent), demi Allah, hakekatnya adalah menghancurkan negara-negara Islam.

Sekarang, siapakah yang menjadikan negara-negara Islam dikuasai ? Siapakah yang meruntuhkan singgasana-singgasana? Siapakah yang mengguncang ketenangan negara-negara Islam? Mayoritas pelakunya adalah mereka yang menyangka sedang berusaha mendirikan Daulah Islamiyyah. Sekarang ini, semua negara sibuk memadamkan api fitnah yang ditimbulkan oleh mereka, berupa peledakan dan pembunuhan. Merekalah pelakunya.

Oleh sebab itu, mereka berubah menjadi alat-alat Yahudi dan Nashrani, berubah menjadi organisasi-organisasi rahasia. Maksudnya : sebagian pemuda yang lalai dan belum genap akalnya tersebut dikomando. Demi Allah, para pemuda tersebut tidak mengetahui siapakah yang mengomando mereka. Pengomando memerintahkan : Pergilah, bejihadlah, bunuhlah dan lakukanlah ini. Pemuda tersebut hanya mengetahui penanggung jawab ke satu dan ke dua, akan tetapi dia tidak mengetahui siapakah lelaki yang mengomando mereka ? Seorang Yahudi atau Nashrani.

Bahkan ada bukti, bahwa orang-orang tersebut memiliki hubungan dengan lembaga-lembaga asing, diluar negara-negara Islam [1]. Para pemuda tersebut belum genap akalnya, yakni : dikomando, sampai-sampai mereka bisa diibaratkan seperti alat-alat di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Mereka adalah orang-orang yang sekarang menyangka sedang mendirikan Daulah Islamiyyah dan berusaha mengembalikan kejayaan umat Islam.

Kebaikan ada didalam diri Ahlus Sunnah, dan tidak satu pintu kebaikan pun, kecuali pasti ada didalam diri Ahlus Sunnah. Mereka adalah para ahli amar ma’ruf dan nahi mungkar, mereka setia kepada jama’ah kaum muslimin serta senantiasa mendengar dan taat (kepada penguasa muslim ,-pent), mereka benar-benar memiliki aqidah yang lurus, banyak berdakwah dan beribadah serta suka mengasihi, sungguh kebaikan tersebut ada pada diri mereka.

Memang benar, sebagian ulama Ahlus Sunnah menonjol pada suatu bidang dan yang lain menonjol dalam bidang yang berbeda, akan tetapi secara keseluruhan mereka saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya, yakni : Secara keseluruhan ulama Ahlus Sunnah.

Sedangkan Ahlul Bid’ah, tidak akan melengkapi Ahlus Sunnah, karena setiap kebaikan yang ada pada Ahlul Bid’ah, pasti juga ada pada Ahlus Sunnah. Dari sini, jelaslah bahwa di dalam manhaj ini (yaitu : Manhaj yang menyeru agar Ahlus Sunnah dan Ahlul Bid’ah saling melengkapi, -pent) ada penyesatan. Jika manhaj ini diterapkan, maka maknanya adalah didalam diri Ahlus Sunnah ada kekurangan, sehingga mereka perlu melengkapi kekurangan tersebut dari Ahlul Bid’ah. Ini adalah perkataan yang batil.

Yang pantas diucapkan oleh seorang yang berakal adalah : Jika kita memiliki kekurangan, maka seyogyanya kita melengkapi kekurangan tersebut dengan cara kembali kepada aqidah salaf, yaitu : Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita tidak boleh melengkapi kekurangan tersebut dari kelompok-kelompok bid’ah, yang didalamnya penuh dengan kesesatan dan bid’ah-bid’ah yang sangat mengerikan.

Juga kita Salafiyun (para pengikut salaf) dewasa ini menemukan kekurangan didalam diri kita, maka kita kembali kepada aqidah dan perkataan salaf, juga dengan mempelajari buku-buku para ulama salaf, dan bukan dengan cara bekerjasama dengan Ahlu bid’ah dan penebar kesesatan.

Sekarang ini, aqidah Ahlus Sunnah dalam keadaan terasing, karena mayoritas manusia banyak menyebut-nyebutnya, akan tetapi tidak memahaminya, maka dari itu penting bagi kita untuk menujukkan identitas aqidah dan manhaj serta dakwah kita yang berbeda dengan Ahlul Bid’ah. Jika ada kekurangan atau kelemahan, kita kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, demikian juga kita kembali kepada perkataan ulama salaf, kemudian kita sempurnakan kekurangan tersebut.

[Soal-jawab dengan Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily, dosen Fakultas Ushuludin Universitas Islam Madinah, pada Daurah Syar’iyyah ke-6 di Kebun Teh Agro Wisata – Lawang]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol. 5 No. 2 Edisi 26 – Muharram 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Alamat Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
__________
Foote Note
[1]. Seperti yang banyak mengguncang kedaulatan Saudi Arabia, mereka kebanyakan tinggal di London dan Amerika, di sisi lain mereka mengkafirkan pemerintah Saudi. Padahal Rasulullah berlepas diri dari seorang muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin. (-pent)