(DAN INFO TENTANG BEDA ANTARA KULIT BABI & PVC)

Kaum Muslimin hendaknya berhati-hati didalam membeli barang-barang sandang yang terbuat dari kulit, seperti sepatu, jaket, dompet, sofa, tas, dsbnya; karena bukan mustahil diantaranya menggunakan bahan baku kulit babi (terutama berbagai produk luar negeri, yang dengan adanya arus globalisasi sekarang, semakin banyak beredar dikalangan masyarakat Indonesia). Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin memiliki pengetahuan bagaimana membedakan antara struktur kulit babi dengan PVC yang buatan pabrik.

Hal ini perlu diperhatikan, karena bisa jadi karena ketidak-tahuannya maka kaum muslimin menggunakan berbagai bahan yang terbuat dari kulit babi (seperti: dompet, ikat pinggang, jaket atau sepatu, dll) yang bila digunakannya barang-barang tersebut dikala ia berwudhu ataupun sholat, maka hal tersebut menjadikan wudhu dan sholatnya menjadi tidak sah.

I. CIRI-CIRI PRODUK SANDANG DARI BAHAN KULIT BABI

Permukaan atasnya mempunyai titik-titik dot yang lekuk ke dalam. Di dalam setiap titik dot itu ada 3 titik dot yang lain. Untuk memudahkan anda mengenalinya, setiap titik dot bagian luar tadi, kalau dicantumkan mengikut garisan ke bawah, ke atas, ke tepi ia menjadi 3 segi. Hanya saja pada kulit babi, 3 titik dot ini strukturnya adalah berserakan tidak teratur.

Kulit babi biasanya berwarna putih kekusaman. Biasanya ia diletakkan di bagian lapisan belakang tumit sepatu, dibawah lidah sepatu, di bagian bawah lubang tali sepatu.

Untuk lebih mudah mengenalinya, ia akan terasa seperti lembap atau pun seperti terkena lembapan sabun, bila terkena peluh (keringat) dari kaki anda.

Hendaknya, kaum muslimin berhati-hati bila hendak membeli barang-barang sandang yang memiliki tekstur sebagaimana gambar-gambar dibawah ini:

Gambar 1. Struktur Kulit Babi

Gambar 2. Struktur Kulit Babi

II. CIRI-CIRI PRODUK SANDANG DARI BAHAN PVC BUATAN PABRIK

Ada juga kulit yang hampir meyerupainya tetapi ia tidak mempunyai 3 titik lekuk di dalam setiap lekukan tersebut, dan tampak bahwa titik-titiknya lebih teratur karena dibuat oleh mesin, dan tidak mempunyai lekukan / ceruk di setiap tiga titik tersebut. Berikut ini adalah kulit yang terbuat dari PVC buatan pabrik, yang insyaa Allooh tidak mengapa bila sandang ini digunakan oleh kaum muslimin.

Gambar 3. Kulit dari PVC

Gambar 4. Kulit dari PVC

Dan berikut ini, kami sampaikan berita dari JAKIM (Jabatan Kemajuan Islam Malaysia) HIDC (Halal Industry Development Corporation) tertanggal 9 Februari 2006 (Sumber: http://e-halal.hdcglobal.com/aduan_siar_c.php?id=2440&a=U) berkenaan dengan penjelasan tentang perbedaan antara struktur kulit babi dan PVC pada barang-barang sandang:

“Hasil dari pemeriksaan JAKIM didapati di dalam industri pembuatan kasut, bag, tali pinggang dll, selain pengunaan kulit, bahan PVC, plastik dan kain adalah antara bahan-bahan yang sering digunakan.

Diantara bahan-bahan ini, sering terdapat kekeliruan diantara bahan PVC, plastik dan kulit babi kerana ketiga-tiga bahan ini apabila dipandang secara mata kasar akan kelihatan tiga bintik pada permukaannya.

Sebagai maklumat bersama, triple dot (tiga bintik ) yang terdapat pada PVC dan plastik adalah dihasilkan oleh mesin, keadaannya tersusun dengan baik dan titiknya terhasil secara menegak iaitu hasilan secara titikan jarum, menegak dan tepat manakala triple dot yang terdapat pada kulit babi, keadaanya tidak tersusun, berselerak, permukaan lubangnya menyendeng tidak menegak seperti yang terdapat pada PVC,keadaan menyendeng ini seolah-olah lubang jarum yang dicucuk secara menyenget.

Diharapkan dengan penjelasan ini, para pengguna tidak terus panik hanya apabila terlihat triple dot pada mana-mana permukaan kasut, beg, wallet dsb, semak dahulu apakah bahan itu adalah kulit babi yang sebenar berdasarkan bentuk triple dot yang kelihatan.”

Oleh karena itu, bila kaum muslimin hendak membeli barang-barang sandang yang terbuat dari kulit, suede dan sejenisnya (terutama produk-produk luar negeri), maka biasakanlah untuk menanyakan kepada toko/ perusahaan yang menjual barang tersebut tentang SPESIFIKASI PRODUK yang hendak dibeli tersebut. Karena dari spesifikasi produknya, dapat diketahui apakah kulit yang dipakai adalah berasal dari kulit babi ataukah kulit sapi.

Maka berikut ini adalah lampiran beberapa surat-menyurat terhadap perusahaan Puma, Hush Puppies, Clarks, Barrats (Stylo) dan Marks & Spencer yang meng-konfirmasikan produk-produk apa saja dari perusahaan mereka yang menggunakan bahan baku dari kulit babi dan mana yang tidak. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kaum muslimin pada umumnya:

Assalamu’alaikum,
I have a query regarding pig skin shoes. I read your article about pig skin shoes.You said if someone wear anything that has pig skin leather, his salah (–sholat–) is invalid. So, can Muslim wear shoes that has pig skin lining on it when doing sporting activities ?

I just bought a Puma sport shoe. I’ve checked the leather and suede linings but didn’t notice any 3dots of a pig skin. But I’m worried if it has a pig skin on it. How can I know if this shoe got pig skin or not?

Thanks.

Answer

Last Updated: 07/03/2008
In the Name of Allooh, the Inspirer of Truth.
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

It is not permissible to buy, sell or make use items like shoes sourced from pig skin. This applies whether the whole shoe is sourced from pighog skin or and parts of the shoes like the linings.

It is important to find out from the company whether anything from the shoe is sourced from pig skin.

As the leather is treated, and dyed etc. it is not easily apparent as to whether it is pig sourced or not, and that is we advise that the company is contacted. First point of call is the shoe store. In Clark’s and other shoe stores, product specification sheets are available, where you can find out whether pig skin is used in the shoe. Though mostly suede shoes are pig sourced, the linings of shoes which use external cow hide leather, can use pig sourced linings. In your particular case, you can take the product code from the shoe, and ask Puma themselves whether it is sourced from pig here:
http://www.pumauk.com/contact.html

This may delay the purchase, but you will be absolutely sure that they are Halaal. Alternatively purchase the shoes (making sure with the stores, that you can bring them back if they are not suitable. Usually that is not a problem, as long as you wear them indoors for the grace period), and then contact the company about the leather used.

If a person was to wear a product of leather in Salaah like a leather coat or waist coat then such a person’s Salaah is invalid. With reference to shoes, this will only be the case if:
(a) the shoes are worn in Salaah.
(b) the feetsocks are moist orand the pig skin leather is wet, where by
the impurity is transferred onto the body or the clothing.

Of course (a) does not apply, as we do not wear shoes in Salaah, but (b) is quite probable when caught it the rain for example, consequently the shoes can become wet inside. Socks do become wet after Wudhu, or we walk through a puddle etc. You can see in practical terms how this can affect one’s ‘Ibaadah.

And Allah knows Best
Wa ‘Alaykumussalaam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
http://www.foodguide.org.uk

A: We made contact with Clarks, Barratts (Stylo) and Hush Puppies to get an idea of porcine (pig) usage in leather or suede. To date Clarks, Hush Puppies and Stylo have responded.

From the responses we gauge the following:

1. Pig skin is not that widely used, certainly it would be unfair to say that Hush Puppies entire range are sourced from hog skin. The use of pig skin for shoes is significant in the shoes market and one must painstakingly choose shoes.

2. Though it is technically possible to make black leather shoes from pig skin, it is unusual to do so and is not an industry standard. Most probably because the texture and colour of the brushed pig skin is desired which would be lost if it were to be dyed.

3. Apparently the pig skin is used as a lining so it is not always enough to look at just the external part of the shoe.

Precautions to take when buying shoes:

Follow the links below to see what pig leathersuede looks like. If in doubt of the source, ascertain the source otherwise strictly avoid. Remember that anything from the pig is Absolutely Filthy (Najasul-Ayn) and it is not permissible to buy, sell or make use of such items. If a person was to wear a product of leather in Salaah like a leather coat or waist coat then such a person’s Salaah is invalid.

Look out for the hair follicles on pig skin which tend to be grouped in pinhole size formations of 3, thus leaving a tell tale pattern. This can be difficult to see particularly with suede effect surfaces as advised by Hush Puppies. If in doubt contact the company.

Important: Are you wearing pig skin?
http://www.sunnipath.com/resources/Questions/qa00002315.aspx

Use of pig leather
http://www.daruliftaa.com/question.asp?txt_QuestionID=q-09435539

Correspondence as follows:

Hush Puppies

1st Reply:

Thank you for your email and your interest in Hush Puppies.

Yes, some of our products contain pigskin. It is either used as a lining or if the product is made from Suede then this can be taken from either a cow or a pig.

If you require details on a specific product then please email us either the style name or number and we would be happy to confirm its material content.

Regards,
Customer Services Assistant
We replied with:

Thank you for your swift reply. Would it be possible to assist me by:

1. Telling me how we may recognise pig suede from cow suede? (A photograph of how one may recognise the pig suede would be much appreciated). This would be easier that asking about specific products.

2. Is it possible to manufacture black shoes from pig skin, i.e. for the skin to be dyed black.

As you would appreciate, Muslims find pig products repugnant hence the information would be of much value. Your assistance in this matter is very much appreciated.

2nd Reply:

Sorry for the delay in replying.

1) The hair follicles on pig skin tend to be grouped in pinhole size formations of 3, thus leaving a tell tale pattern. Sometimes this is difficult to see particularly with suede effect surfaces. Therefore, on any Hush Puppies product, as mentioned in my previous email, we would recommend you contact us regarding specific products.

2) Yes, it is possible to manufacture black shoes, from pig skin, but this would be very unusual.

Pig skin is commonly used as a lining, not only by Hush Puppies, as this is hard wearing lightweight, soft material ideal for this purpose.

We trust that the information provided will be of some use but if we can help where specific products are involved then please do not hesitate to contact us again.

Regards,
Customer Services Assistant

Stylo Response:

Yes some of our footwear has pigskin in the construction. The style, cost and end use of the footwear determines which materials are used. Pig skin is used in footwear manufacture worldwide and due to its nature it is particularly good for the linings and insoles of shoes. I do however understand that your religion can not tolerate the use of anything derived from this animal.

We try to offer as wide a range of footwear as possible and many different materials, natural and synthetic are used in the construction of the many different types of footwear that we sell.

Pigskin can be any colour including black and can be finished as suede or leather.

Clarks Shoes

I’m pleased to enclosed a list of the men’s styles we are offering for Spring/Summer which contain pig skin.

Mad Racer
Mad Speed
Man Rebel
Man Time
Mad Sky
Mad Cap
Rio Drive
Rio Sun
Red Sting
Line Sign
Line Top
Line Deep
New Kick
New Tag
New Land
Showman
Street Sign
Street Class
Street Zone
Street Plan
Street Place
Stitch
Sew
Urban Extra
Head Spy
Head Route
Head Slot
Platform Pace
Pure Sports
Platform Walk

Thank you for your patience.

Regards,
Consumer Advisor

Marks and Spencers:
MARKS & SPENCER
Retail Customer Services Chester Business Park Wrexham Road
Chester
CH49GA

Our Ref: 1-83534233
11 July, 2005

Dear Mr Kassam,
Thank you for your enquiry about the leather we use for our shoes.
I have spoken to our technologist about which shoes use which kind of leather. The shoes we sell which have a pig leather lining are our non polish Airflex, Collezione and Autograph shoes as do our Blue Harbour lightweight boat shoes (codes T03 2250b and T03 2251b).
Our Blue Harbour vintage cup sole shoes (T03 2363b) have pig leather outer. All our other leather shoes use cow leather.
I hope this information is of use to you. Once again, many thanks for getting in touch.
If you have any other queries in the future, please feel free to ring us on 0845 302 1234. Alternatively you may like to e-mail us by clicking on the contact us link on our website.
Yours sincerely

Laura Rafferty
Customer Adviser
Retail Customer Services
Marks and Spencer plc Registered Office:
Waterside House
35 North Wharf Road London W2 1 NW Registered No. 214436 (England and Wales)

Permissibility to use Leather Sofa/Couch
Question #: q-09435539
Date Posted: 2004-07-07

Is it permissible to buy a leather sofa even though you don’t know what animal the skin has been derived from?

In the name of Allooh, Most Compassionate, Most Merciful,
The basic ruling with regards to leather is that, with the exception of pig-skin, the skin of all other animals is considered to be pure (tahir) when it goes through the process of tanning, even if the animal is unlawful to consume (such as a lion), or the animal was not slaughtered according to the rules of Shariah. Pig, however, is considered to be completely filthy; hence its skin remains impure (najis) even after tanning.

Imam al-Quduri (Allooh have mercy on him) states:
“Any skin which has been tanned has become clean, hence prayer is valid on it, and wudu from it – except the skin of a pig and human (m: human skin due to its honour).” (al-Lubab fi sharh al-Kitab, 1/47)

Therefore, it will be permitted for one to wear jackets, coats, shoes, use sofas and keep a wallet made from the skin of all animals except a pig. It will not be permitted to wear shoes or clothing from pigskin, and prayer in such items would be invalid.

Thus, it will be permitted for you to purchase leather sofas, as long as you avoid leather made from pigskin.

And Allooh knows best

Muhammad ibn Adam
Darul Iftaa
Leicester , UK

http://www.daruliftaa.com/question.asp?txt_QuestionID=q-09435539

Dinukil dari:

http://mharisman.blogspot.com/2009/05/klarifikasi-bahan-dari-kulit-babi.html

Share this:
Like this:
Suka
Be the first to like this post.
from → Tsaqoofah
← Keyakinan Imaam Asy Syaafi’iy rohimahullooh tentang Sifat-Sifat AlloohBabi: Gudang Parasit dan Bakteri Berbahaya →
3 Komentar leave one →

abu zahro PERMALINK
29 November 2010 12:47 pm
sukron ustad info masalah kulit babi sangat bermanfaat bagi kami wassalam
BALAS

sakinah PERMALINK
20 Desember 2010 1:21 am
Thank u for your very beneficial information. However, mostly involved shoes. I would love to know about wallet’s material I bought from Mark and Spencer in UK but unfortunately it is made in China. Produced by AUTOGRAPH. My case is quite similar to the Puma’s.
BALAS

ustadzrofii PERMALINK*
20 Desember 2010 7:46 pm
You’re welcome… I haven’t got any information about wallet yet, but the most important thing is that we have to know about the texture of the pig skin leather, so we can diferentiate it from the other skin leather. If the wallet’s skin leather has the texture like the pig skin, so as a moslem it’s better not to use the wallet anymore… because we don’t want to have any doubt about our salah…. Barrokalloohu fiiki
BALAS
Tinggalkan Balasan

Enter your comment here…

MUROTTAL AL QUR’AN

AL QUR’AN FLASH

Untuk membuka Al Qur’an Flash ini, klik pada bagian gambar
AL QUR’AN EXPLORER

Untuk mencari ayat-ayat Al Qur’an, tarjamah dalam berbagai bahasa dan bacaan murottal Al Qur’an oleh Qoori’ dan Imaam dari seluruh dunia, klik pada bagian gambar

PENGUMUMAN-1
Assalamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh
Bagi para pembaca yang akan mengcopy paste atau mengambil semua atau sebagian isi dari Blog Al Ustadz Achmad Rofi’i -hafidzohullooh- ini diharapkan untuk meminta izin dengan menuliskan komentar pada artikel yang diinginkan atau pada Ruang Tamu. Dan silakan pula menyebarkan semua atau sebagian isi dari Blog ini selama menjaga keotentikan naskahnya dan menyebutkan sumbernya.
Barokalloohu fiikum.
PENGUMUMAN-2
Assalamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh, Mohon maaf kepada para pengunjung Blog ini, mengingat keterbatasan waktu dari Al Ustadz Achmad Rofi’i – hafidzohullooh – maka harap bersabar apabila ada pertanyaan pada Kolom Konsultasi atau selainnya, yang belum terjawab. Barokalloohu fiikum
HIKMAH
(111) Ketaatan Yang Tidak Mutlak
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
سَيَلِيأُمُورَكُمْبَعْدِي،رِجَالٌيُطْفِئُونَالسُّنَّةَ،وَيَعْمَلُونَبِالْبِدْعَةِ،وَيُؤَخِّرُونَالصَّلاَةَعَنْمَوَاقِيتِهَافَقُلْتُ : يَارَسُولَاللهِ،إِنْأَدْرَكْتُهُمْ،كَيْفَأَفْعَلُ؟قَالَ : تَسْأَلُنِييَاابْنَأُمِّعَبْدٍكَيْفَتَفْعَلُ؟لاَطَاعَةَ،لِمَنْعَصَىاللَّهَ
Artinya:
“Akan mengurusi perkara kalian orang-orang setelah aku, dimana mereka memadamkan sunnah, mereka mengerjakan Bid’ah, mereka mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya.”
Lalu aku (‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه) bertanya, “Wahai Rosuulullooh, jika aku mengalami zaman mereka, bagaimanakah aku harus berbuat?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Wahai Ibnu ummi ‘abdin, engkau bertanya apa yang harus engkau perbuat? Tidak ada ketaatan terhadap siapapun yang berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى.”
(HR. Ibnu Maajah no: 2865, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Shohiih Sunnan Ibnu Maajah)
(110) Tidak Wajib Taat Dalam Ma’shiyat
قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : السمع والطاعة على المرء المسلم، فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية؛ فلا سمع ولا طاعة
Artinya:
Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Mendengar dan taat itu wajib atas seorang Muslim, baik dalam perkara yang dia suka, maupun yang dia benci; selama tidak diperintah dengan ma’shiyat. Jika diperintah ma’shiyat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan taat.”
(Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7144, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)
(109) Wahyu Syirik
قال الله تعالى: وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Artinya:
Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Dan sesungguhnya syaithoon-syaithoon itu memberikan wahyunya kepada para walinya, agar mereka mendebat kalian;
dan jika kalian taati mereka maka sesungguhnya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.”
(QS. Al An’aam (6) ayat 121)
(108) Cacian Terhadap Shohabat Rosuulullooh
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu raupan (– tangan — pent.) bahkan tidak setengahnya.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 2540, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)
(107) Wujud Lain Dari Thooghuut
Pada suatu hari muncullah seorang pemuda yang gagah perkasa, sehingga Abu Hurairoh رضي الله عنه meriwayatkan bahwa para Shohabat berkata, “Seandainya pemuda ini menjadikan kepemudaan dan kegagah-perkasaannya di jalan Allooh سبحانه وتعالى.”
Didengarnya perkataan ini oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,
وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ الشَّيْطَانِ
Artinya:
“Dan apakah di jalan Allooh سبحانه وتعالى itu hanya orang yang terbunuh (– syahiid — pent.)?
Barangsiapa yang berupaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk menafkahi keluarganya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa berusaha untuk membersihkan hatinya (– berusaha mencari rizqy untuk mencukupi kebutuhan dirinya agar dia tidak meminta-minta kepada orang — pent.), maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk berbanyak-banyak (– tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, dan ingin selalu menambah dan memperbanyak — pent.), maka dia di jalan syaithoon.”
Dan dalam riwayat yang lain: “… di jalan Thooghuut.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy dalam “As Sunnan Al Kubro” no: 18280 dan Al Imaam Ath Thobroony dalam “Al Mu’jam Al Ausath” no: 4214 dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam “Silsilah Hadits Shohiih” no: 2232 dan 3248)
(106) Qodho Sholat Yang Benar
قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
Artinya:
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang lupa suatu sholat atau ketiduran, maka kaffaarotnya (penghapusnya) adalah sholat ketika dia tersadar.”
(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1600, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)
Dalam riwayat lain:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jika seorang dari kalian ketiduran dari sholat, atau tidak sadar meninggalkannya, maka sholatlah ketika menyadarinya,
sebab Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Tegakkanlah sholat agar mengingat Aku”.”
(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1601, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)
(105) Ambillah Jalan Orang Shoolih Sebelum Kalian
قال حذيفة بن اليمان رضي الله عنه : كل عبادة لم يتعبد بها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم فلا تتعبدوا بها؛ فإن الأول لم يدع للآخر مقالاً؛ فاتقوا الله يا معشر القراء، خذوا طريق من كان قبلكم
Artinya:
Telah berkata Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, “Setiap Ibadah yang tidak pernah dikerjakan para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jangan kalian beribadah dengannya,
sebab generasi awal tidak meninggalkan kesempatan kepada generasi berikutnya, maka bertaqwalah kepada Allooh سبحانه وتعالى wahai segenap para Pembaca. Ambillah oleh kalian jalan orang shoolih sebelum kalian.”
(Dari Kitab “Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’” karya Al Imaam As Suyuuthy رحمه الله)
(104) Keutamaan Syahiid
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ
Artinya:
Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Diberikan kepada seorang Syahiid 6 perkara pada saat darah pertamanya tercurah:
1. Dihapuskan seluruh kesalahannya
2. Diperlihatkan tempat duduknya didalam surga
3. Dijodohkan dengan bidadari
4. Diberi rasa aman dari ketakutan pada hari Kiamat
5. Diberi rasa aman dari adzab kubur
6. Diberi hiasan dengan hiasan iimaan
(Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 17783 dari Qois Al Judzaamy رضي الله عنه Menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Hadits ini Hasan)
(103) Akibat Banyak Tertawa
قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف به ومن أكثر من شيء عرف به ومن كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه قل حياؤه ومن قل حياؤه قل روعه ومن قل روعه مات قلبه
Artinya:
Berkata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:
“Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya.
Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah.
Barangsiapa yang memperbanyak sesuatu, maka dengannya dia dikenal.
Barangsiapa yang banyak berbicara, maka akan banyak salahnya.
Barangsiapa yang banyak salahnya, maka akan berkurang malunya.
Barangsiapa yang berkurang malunya, maka akan berkurang pula waro’ (kehati-hatian dalam hidup)-nya.
Barangsiapa yang bekurang waro’-nya, maka akan mati hatinya.”
(Diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy dalam Kitab “Syu’abul ‘Iimaan” no: 5019)
(102) Diantara Wasiat Luqmaanul Hakiim pada Putranya
قال لقمان لابنه : يا بني لا تكثر الضحك من غير عجب ولا تمشي من غير أرب ولا تسأل عما لا يعنيك ولا تضيع مالك وتصلح مال غيرك فإن مالك ما قدمت ومال غيرك ما أخرت
Artinya:
Telah berpesan Luqmaanul Hakiim pada putranya:
“Wahai anakku, jangan engkau memperbanyak tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau berjalan pada jalannya.
Jangan engkau bertanya tentang perkara yang tidak berguna untukmu.
Jangan engkau sia-siakan hartamu, sedangkan engkau memperbaiki harta orang lain.
Sesungguhnya hartamu adalah apa yang engkau segerakan, dan harta selainmu adalah apa yang engkau akhirkan.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)
(101) Pesan Khidir untuk Musa عليه السلام
وقال موسى للخضر أوصني فقال : كن بساما ولا تكن غضابا وكن نفاعا ولا تكن ضرارا وانزع عن اللجاجة ولا تمش في غير حاجة ولا تضحك من غير عجب ولا تعير الخطائين بخطاياهم وابك على خطيئتك يا ابن عمران
Artinya:
Telah berkata Musa عليه السلام terhadap Khidir, “Berilah aku pesan.”
Maka Khidir berkata,
“Jadilah engkau orang yang suka tersenyum, dan jangan menjadi orang yang pemarah.
Jadilah engkau orang yang banyak memberi manfaat, dan jangan menjadi orang yang menjadi sumber bahaya (madhorot).
Cabutlah sifat membangkang, dan jangan engkau berjalan tanpa keperluan.
Jangan engkau tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau mempermalukan orang yang salah karena kesalahan mereka.
Menangislah terhadap kesalahanmu, wahai putra ‘Imron.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)
(100) Aneh Pada 4 Perkara
وفي صحف موسى عجبا لمن أيقن بالنار كيف يضحك عجبا لمن أيقن بالموت كيف يفرح عجبا لمن أيقن بالقدر كيف ينصب عجبا لمن رأى الدنيا وتقلبها بأهلها كيف يطمئن إليها
Artinya:
Sungguh aneh orang yang meyakini adanya neraka, namun bagaimana dia masih tertawa?
Sungguh aneh orang yang meyakini adanya kematian, namun bagaimana dia masih bisa bersenang-senang?
Sungguh aneh orang yang meyakini takdir, namun bagaimana dia masih bersantai-santai?
Sungguh aneh orang yang melihat dunia dan gelimangnya, namun bagaimana dia masih merasa tentram?
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)
(99) Menangis dari 4 Perkara
عن عقبة بن أبي الصَّهباء قال: لما ضرب ابن ملجم – لعنة الله – أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضوان الله عليه دخل عليه الحسن رضوان الله عليه – وهو باكٍ – فقال: ما يبكيك يا بني ؟ قال: وما لي لا أبكي، وأنت في أول يوم من الآخرة وآخر يوم من الدنيا ؟! قال يا بني، احفظ عني أربعاً وأربعاً، لا يضرك ما عملت معهن. قال: وما هن يا أبَه ؟ قال: ” أغنى الغنى العقل، وأكبر الفقر الحمق، وأوحش الوحشة العُجب، وأكرم الحسب حسن الخُلق ” . قال: يا أبَهْ هذه الأربع فأعطني الأربع. قال: ” يا بني، إياك ومصادقة الكذاب؛ فإنه يقرّب عليك البعيد، ويبعد عليك القريب. وإياك ومصادقة الأحمق؛ فإنه يريد أن ينفعك فيضرك. وإياك ومصادقة البخيل؛ فإنه يقعد عنك أحْوج ما تكون إليه. وإياك ومصادقة الفاجر، فإنه يبيعك بالتافه
Artinya:
Dari ‘Uqban bin Abi Ash Shohbaa’ رضي الله عنه, berkata, “Ketika Ibnu Muljam (– semoga Allooh SWT mengutuknya –) memukul ‘Aamiirul Mu’miniin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, masuklah Hasan رضي الله عنه pada beliau dalam keadaan menangis, maka berkatalah Ali رضي الله عنه, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”
Hasan رضي الله عنه menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan ayahku di hari pertama menuju akherat dan hari terakhir dari dunia (– kematian –)?”
Ali رضي الله عنه berkata, “Wahai anakku, ingatlah dariku 4 perkara, niscaya 4 perkara tidak akan membahayakanmu jika kamu mengetahuinya.”
Hasan رضي الله عنه berkata, “Apakah itu wahai ayahku?”
Ali رضي الله عنه menjawab,
1. “Sekaya-kaya kekayaan adalah akal,
2. Seberat-seberat kemiskinan adalah dungu,
3. Sekejam-kejam kekerasan adalah ‘Ujub (Kagum diri),
4. Semulia-mulia keturunan adalah akhlaq yang baik.”
Hasan رضي الله عنه berkata, “Wahai ayahku, ini adalah 4 perkara, berikan padaku 4 perkara yang lainnya.”
Ali رضي الله عنه menjawab, “Wahai anakku,
1. Hindarilah olehmu berteman dengan pendusta, sebab dia mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat,
2. Hindarilah olehmu berteman dengan orang dungu, sebab dia menginginkan manfaat padamu lalu membahayakanmu,
3. Hindarilah olehmu berkawan dengan orang kikir, sebab dia akan mendiamkan dari sesuatu yang kamu membutuhkannya
4. Hindarilah olehmu duduk dengan orang faasiq, sebab dia akan menjualmu dengan harga yang hina.”
(Dinukil dari Kitab “Lubaabul ‘Aadaab” karya ‘Usaamah bin Mungqidz I/4)
(98) Bagian dari Hidup
قال أبو الدرداء: ابنَ آدم طأ الأرض بقدمك فإنها عن قليل تكون قبرك؛ ابن آدم إنما أنت أيام، فكلما ذهب يوم ذهب بعضك؛ ابن آدم إنك لم تزل في هدم عمرك منذ يوم ولدتك أمك
Artinya:
Berkata Abud Darda رضي الله عنه,
“Wahai anak Adam, injaklah bumi dengan kakimu. Sesungguhnya kuburanmu hanya sedikit.
Wahai anak Adam, sesungguhnya hidupmu adalah hari-hari. Setiap pergi satu hari, berarti pergi pula bagian dari harimu.
Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau dalam keadaan menghancurkan umurmu, sejak dilahirkan oleh ibumu.”
(Dinukil dari Kitab “Al Jauhar An Naqi Al Multaqith Min Zuhdil Baihaqy” I/28)
(97) Hidup adalah Menit dan Detik
دقات قلب المرء قائلة له … … إن الحياة دقائق وثوان
فارفع لنفسك بعد موتك ذكرها … … فالذكر للإنسان عمر ثاني
تذكرة المتقين
Artinya:
Detak jantung seseorang mengatakan bahwa,
“Sesungguhnya hidup hanyalah menit dan detik.
Maka, tinggikanlah sebutan dirimu setelah matimu.
Sebab sebutan bagi seseorang adalah umur kedua.”
(Dinukil dari Kitab “Tadzkirotul Muttaqin” I/173)
(96) Jiwa Tokoh
قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : فِي تَقَلُّبِ الْأَحْوَالِ تُعْرَفُ جَوَاهِرُ الرِّجَالِ
Artinya:
Seorang sastrawan berkata, “Melalui berbagai gejolak kehidupan, akan diketahui kesatriaan seseorang.”
(Dinukil dari Kitab “’Aadaabud Dunya Wad Diin” I/298)
(95) Menghidupkan Bid’ah dan Mematikan Sunnah
قال ابن عباس رضي الله عنهما: ابن عباس قال ما يأتى على الناس من عام إلا أحدثوا فيه بدعة وأماتوا فيه سنة حتى تحيى البدع وتموت السنن
Artinya:
‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه berkata, “Tidaklah suatu tahun datang pada manusia, kecuali mereka pada tahun itu mengada-ada perkara Bid’ah, dan mematikan Sunnah, sehingga Bid’ah menjadi hidup dan Sunnah menjadi mati.”
(Dinukil dari Kitab “As Sunnan Al Waaridatu Fil Fitany” karya Abu ‘Amr Ad Daany III/612 no: 277)
(94) Tertawalah dan Menangislah
عن الحسن ومسلم ابن أبي عمران قالا قال سلمان أضحكني ثلاث وأبكاني ثلاث
قالوا وما هي يا سلمان قال أبكاني فراق الأحبة محمد وحزبه وهول المطلع عند سكرة الموت وموقفي بين يدي الرحمن لا أدري أساخط علي هو أم راض
قالوا وما أضحكك يا سلمان قال مؤمل الدنيا والموت يطلبه وغافل وليس بمغفول عنه وضاحك ملء فيه لا يدري ما يفعل الله به
Artinya:
Dari Al Hasan dan Muslim bin Abi ‘Imroon berkata, “Telah berkata Salman Al Faarisy رضي الله عنه :
3 perkara telah membuatku tertawa dan 3 perkara telah membuatku menangis.”
Mereka berkata, “Apa itu, wahai Salman?”
Salman رضي الله عنه berkata, “Membuatku menangis:
1. Berpisah dengan orang-orang yang kucintai, Muhammad صلى الله عليه وسلم dan pengikutnya
2. Dahsyatnya saat sakarotul maut.
3. Berdiriku di hadapan Allooh سبحانه وتعالى, sedangkan aku tidak tahu, marahkah Allooh سبحانه وتعالى padaku atau ridho’.
Mereka berkata, “Dan apa yang membuatmu tertawa, wahai Salman?”
Salman رضي الله عنه menjawab, “
1. Berangan-angan panjang dalam urusan dunia, padahal mati sedang menjemputnya
2. Lalai, padahal dia tidak dilalaikan
3. Tertawa memenuhi mulutnya, sedangkan dia tidak tahu apa yang akan Allooh سبحانه وتعالى perbuat padanya.”
(Dari Kitab “Thobaqootusy Syaafi’iyyatil Kubro” karya Imaam Taajuddiin As Subki رحمه الله)
(93) Tiga Jalan Selamat
عن عبد الله بن مسعود أتاه رجل فقال يا أبا عبد الرحمن علمني كلمات جوامع نوافع فقال له عبد الله لاتشرك به شيئا وزل مع القرآن حيث زال ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا
Artinya:
Telah datang seseorang kepada ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, ajarilah aku kalimat yang padat tapi bermanfaat.”
Maka ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab:
1. Janganlah engkau menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى
2. Selalu lah engkau bersama Al Qur’an dimanapun dan kapan pun
3. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran, maka terimalah darinya, betapa pun orang itu sangat jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebaathilan, maka tolaklah darinya, betapa pun orang itu sangat dicinta dan dekat.”
(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/419 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)
(92) Iman dan Akhlaq Terpuji
قال عبد الله بن مسعود لا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتى يحل بذروته حتى يكون الفقر أحب إليه من الغنى والتواضع أحب إليه من الشرف وحتى يكون حامده وذامه عنده سواء قال ففسرها أصحاب عبد الله قالوا حتى يكون الفقر في الحلال أحب إليه من الغنى في الحرام والتواضع في طاعة الله أحب إليه من الشرف في معصية الله وحتى يكون حامده وذامه عنده في الحق سواء
Artinya:
Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Tidak akan seorang hamba sampai pada hakekat imaan sehingga menempati puncaknya (– puncak imaan –), kecuali :
1. Dia lebih mencintai faqiir, daripada mencintai kaya
2. Dia mencintai tawaadhu’, daripada kehormatan
3. Dia menganggap sama orang yang memuji dan mencelanya.”
(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/417 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)
(91) Mencari Ridho Allooh atau Ridho Manusia
عن عبد الوهاب ابن الورد عن رجل من أهل المدينة قال : كتب معاوية إلى عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن اكتبي إلي كتابا توصيني فيه ولا تكثري علي فكتبت عائشة رضي الله عنها إلى معاوية سلام عليك أما بعد فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من التمس رضاء الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس رضاء الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس والسلام عليك
Artinya:
Dari ‘Abdul Wahaab bin Al Wirdh, dari seseorang diantara penghuni Madinah berkata, “Mu’awiyyah رضي الله عنه telah menulis kepada ‘Aa’isyah رضي الله عنها (ummul mu’minin) :
“Tulislah padaku suatu tulisan yang didalamnya engkau menasehatiku dan jangan engkau perbanyak.”
Maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها pun menulis kepada Mu’awiyyah رضي الله عنه
“Selamat atasmu:
Amma Ba’du,
Sungguh aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mencari ridho Allooh سبحانه وتعالى dengan kemurkaan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى akan cukupkan dia dari beban manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan murka Allooh سبحانه وتعالى, maka Allooh سبحانه وتعالى akan membiarkan dia tergantung pada manusia.
Wassalamu’alaika.”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2414, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)
(90) Lebih Baik daripada Jihad
عن علي الأزدي قال سألت ابن عباس عن الجهاد فقال ألا أدلك على ماهو خير لك من الجهاد تبني مسجدا تعلم فيه القرآن وسنن النبي صلى الله عليه وسلم والفقه في الدين
Artinya:
Dari Al Azdy رحمه الله berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه tentang Jihad.”
Beliau رضي الله عنه menjawab, “Maukah kutunjukkan padamu sesuatu yang lebih utama daripada Jihad?”
Aku mengatakan, “Tentu.”
Beliau رضي الله عنه berkata, “Engkau bangun masjid, lalu engkau ajari ilmu waris (faro’idh) didalamnya, juga sunnah dan pemahaman tentang dienul Islam.”
(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” oleh Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)
(89) Keutamaan Infaq
قال أبي أمامة : أيها الناس لأنتم أضل من أهل الجاهلية إن الله تعالى قد جعل لأحدكم الدينار ينفقه في سبيل الله بسبعمائة دينار والدرهم بسبعمائة درهم ثم إنكم صارون
Artinya:
Abu Umamah رضي الله عنه berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian adalah lebih sesat dibandingkan dengan kaum Jahiliyyah. Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah menjanjikan salah seorang dari kalian 1 dinar yang diinfaqkan di jalan Allooh سبحانه وتعالىuntuk dilipatgandakan menjadi 700 dinar. Dan berinfaq 1 dirham dengan pahala 700 dirham.
Namun walau demikian, kalian tetap enggan.”
(Dari Kitab “Kanzul Ummal” oleh Al Muttaqii Al Hindy no: 44238)
(88) Ketaqwaan dan Keilmuan Seseorang
عن أبي الدرداء قال لا تكون تقيا حتى تكون عالما ولا تكون بالعلم جميلا حتى تكون به عاملا
Artinya:
Abu Darda رضي الله عنه berkata, “Engkau tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga engkau menjadi orang yang ‘aalim. Dan engkau tidak akan tampak indah (mulia) dengan ilmu itu sehingga engkau mengamalkannya.”
(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” karya Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)
(87) Berlindung dari Tetangga yang Buruk
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membaca, “Alloohumma inni ‘a’uudzu bika min jaarissuu’I fii daaril muqowwamati fa inna jaarobaadii yatahawwalu (Ya Allooh, sungguh aku berlindung kepadamu dari tetangga yang jelek, di negeri pemukimanku, sebab sesungguhnya tetangga musafir pendatang itu adalah berpindah-pindah).”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no: 1033, dan menurut Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya adalah Hasan)
(86) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 2
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Artinya:
Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنهما, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Al Hasan dan Al Husein رضي الله عنهما, seraya bersabda, “Sesungguhnya bapak (– Ibroohiim عليه السلام – pent.) kalian memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Isma’il عليه السلام dan Ishaq عليه السلام dengan membaca “ ‘A’uudzu bikalimaatillaahit taammat min kulli syaithoonin wa Haammaatin wa min kulli ‘aiinin laammatin (Aku berlindung pada firman-firman Allooh سبحانه وتعالى yang sempurna dari setiap syaithoon dan dari setiap yang berbisa serta dari setiap ‘aiin yang tercela).”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3371)
(85) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 1
عن أبي سعيد قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يتعوذ من عين الجان وعين الإنس فلما نزلت المعوذتان أخذ بهما وترك ما سوى ذلك
Artinya:
Dari Abu Saa’id رضي الله عنه berkata, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berlindung dari ‘aiin jin maupun ‘aiin manusia. Ketika Al Mu’awwidzataan (Al Qur’an surat Al Falaq dan An Naas) turun, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencukupkan dengan keduanya dan meninggalkan dari selainnya.”
(Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’I no: 5494, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)
(84) Obat Al ‘Aiin
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا
Artinya:
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Al ‘Aiin (– penyakit yang disebabkan oleh sorot pandang mata yang dengki – pent.) adalah benar (kejadiannya). Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ‘Aiin lah pendahulunya, dan jika kalian diminta untuk mandi (– sebagai obat bagi orang yang terkena ‘aiin-nya – pent.) maka mandi lah.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5831)
(83) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 2
عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه أنه قال لعمر : يا أمير المؤمنين إن يسرك أن تلحق بصاحبيك فأقصر الأمل وكل دون الشبع وانكس الإزار وارفع القميص واخصف النعل تلحق بهم
Artinya:
Dari Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه, bahwa beliau berkata kepada ‘Umar رضي الله عنه:
“Wahai Amiirul Mu’miniin, jika engkau senang menyusul kedua Shohabatmu (– maksudnya: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه – pent.) maka:
1. pendekkan angan-anganmu
2. makanlah tidak kenyang
3. tinggikan sarung (celana) (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
4. tinggikan baju (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
5. pendekkan langkah sandalmu,
niscaya engkau bisa menyusul mereka.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)
(82) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 1
عن ابن عباس قال : قال عمر لعلي : عظني يا أبا الحسن قال : لا تجعل يقينك شكا ولا علمك جهلا ولا ظنك حقا واعلم أنه ليس لك من الدنيا إلا ما أعطيت فأمضيت وقسمت فسويت ولبست فأبليت قال : صدقت يا أبا الحسن
Artinya:
Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, beliau berkata, “’Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه berkata kepada Ali رضي الله عنه: “Berilah aku nasehat, wahai Abul Hasan.”
Maka berkatalah Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه,
“Janganlah jadikan yakinmu ragu. Janganlah jadikan ilmumu bodoh. Janganlah jadikan prasangkamu benar. Dan ketahuilah, bahwa kamu tidak berhak dari dunia ini kecuali dari apa yang diberikan kepadamu, lalu engkau menerimanya, lalu engkau bagi, lalu engkau sama ratakan, lalu engkau pakai, lalu rusak.”
Berkata ‘Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه, “Benar engkau, wahai Abul Hasan.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)
(81) Anti Pengangguran
قال عبد الله بن مسعود إني لأبغض الرجل أن أراه فارغا ليس في شيء من عمل الدنيا ولا في عمل الآخرة
Artinya:
‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata, “Sungguh aku benci seorang yang aku lihat menganggur, tidak bekerja dalam urusan dunia dan tidak bekerja dalam urusan akhirat.”
(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/414 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)
(80) Diantara Penghapus Dosa
عن أبي مسعود الأنصاري عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya:
Dari Abu Saa’id Al Khudry dan Abu Hurairoh رضي الله عنهما, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah rasa capai, sakit, bingung, sedih, luka dan gundah menimpa seorang Muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allooh سبحانه وتعالى hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5642 dan 5643)
(79) Honor Pelacur dan Dukun
عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحلوان الكاهن
Artinya:
Dari Abu Mas’uud Al Anshoory رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarang:
1. Nilai jual beli anjing
2. Hasil honor pelacuran
3. Uang bayaran dukun
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2122)
(78) Berlindung dari Tetangga yang Buruk
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berdo’a,”Ya Allooh, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jelek di negeri pemukiman. Sesungguhnya tetangga yang tidak tetap itu berpindah-pindah.”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no:1033, berkata Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanad hadits ini Hasan)
(77) Cinta Al Qur’an
وقال عثمان بن عفان: لو طهرت قلوبنا ما شبعت من كلام ربنا
Artinya:
Berkata ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, “Seandainya hati-hati kita bersih, maka dia tidak pernah akan merasa kenyang dengan firman Allooh سبحانه وتعالى.”
(Dinukil dari “Al ‘Aadaab Al Islaamiyyah Linnaasyi’ah” karya Muhammad Khoyr Faathimah)
(76) Mujaahirun
عن أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Setiap ummatku selamat kecuali Al Mujaahirin, dimana termasuk bagian dari Mujaahirin adalah seseorang mengamalkan suatu amalan di waktu malam, dimana pada waktu pagi Allooh سبحانه وتعالى telah tutupi aibnya, lalu orang itu mengatakan “Ya Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu”; semalam Allooh سبحانه وتعالى tutupi aibnya, dan di pagi hari dia singkap apa yang telah Allooh سبحانه وتعالى tutupi.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6069)
(75) Menyikapi Kesalahan
قال ابن المبارك المؤمن يطلب المعاذير و المنافق يطلب العثرات
Artinya:
Berkata Imaam ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, “Seorang mu’min mencari permakluman, sedangkan seorang munafiq mencari cacat.”
(Dinukil dari Kitab “Ihya ‘Ulumuddiin” karya Imaam Al Ghodzaly رحمه الله)
(74) Imunisasi Generasi Dari Syaithoon
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
Artinya:
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Seandainya seorang dari kalian ketika hendak mendatangi (berjima’) dengan istrinya, lalu berdoa sebelumnya “Bismillaah Alloohumma jannibnaasy syaithoona wa jannisbisy syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allooh, ya Allooh, jauhkanlah kami dari syaithoon dan jauhkan syaithoon dari apa yang Engkau karuniakan pada kami)”.
Maka sesungguhnya, jika ditakdirkan dari keduanya itu anak maka syaithoon tidak bisa membahayakannya selamanya.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7396 dan Imaam Muslim no: 3606)
(73) Kiat Menghindar Dari Bala’
عن عُثْمَانَ ابْنَ عَفَّانَ – يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ
Artinya:
Dari ‘Utsman bin Affaan رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang membaca “Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’a ismihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i wa huwa as samii’u al ‘aliimu (Dengan nama Allooh yang tidak akan dapat memberi bahaya sesuatu apa pun bersama nama-Nya di bumi maupun di langit, dan Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” (3X),
maka dia tidak akan terkena Bala’ mendadak hingga pagi hari, dan barangsiapa membacanya di pagi hari 3X, maka dia tidak akan dikenai bahaya mendadak hingga petang hari.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 5090 dan Imaam At Turmudzy no: 3388)
(72) Meruqyah Diri Sendiri
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِى الْعَاصِ الثَّقَفِىِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعًا يَجِدُهُ فِى جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
Artinya:
Dari ‘Utsman bin ‘Abil ‘Ash Tsaqoofy رضي الله عنه, bahwa beliau mengadu kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan sakit yang dideritanya pada tubuhnya.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab kepadanya, “Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit, lalu bacalah “Bismillaah (Dengan nama Allooh)” (3X), dan bacalah 7X “A’uudzubillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allooh dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kualami dan aku menghindar darinya)”.
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5867)
(71) Sedikit Bekerja, Banyak Bicara
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ ». قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : « التَّحْلِيقُ
Artinya:
Dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan terjadi di tengah ummatku perselisihan dan perpecahan; kaum yang mereka itu indah dalam berbicara dan buruk dalam beramal. Mereka membaca Al Qur’an, tidak melewati kerongkongannya,
mereka keluar dari Islam seperti keluarnya panah dari busurnya, tidak lagi kembali ke tempat semula. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk. Berbahagialah siapa yang memerangi mereka, atau yang diperangi. Kaum tersebut menyeru pada Kitab Allooh سبحانه وتعالى, padahal mereka bukan sama sekali bagian darinya. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka Allooh سبحانه وتعالى berhak menolongnya memerangi (kaum tsb).”
Para Shohabat bertanya, “Ya Rosuulullooh, apa tanda-tanda mereka?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kepalanya botak.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4767, dan Imaam Ahmad no: 13338, dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth berkata bahwa sanadnya shohiih)
(70) Harom Masuk Surga
قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :
ما من عبد يسترعيه الله رعية، يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته، إلا حرم الله عليه الجنة
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak seorang pun yang Allooh سبحانه وتعالى angkat dia sebagai pemimpin, kemudian ketika dia mati, dia dalam keadaan curang (dzolim) terhadap rakyatnya; maka Allooh سبحانه وتعالى haromkan baginya masuk surga.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 380, dari Shohabat Ma’qil bin Yasaar Al Muuzany رضي الله عنه)
(69) Menyikapi Risaalah
قال الإمام الزهري رحمه الله تعالى:
من الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التسليم
Artinya:
Berkata Imaam Az Zuhry رحمه الله:
“Risaalah ini berasal dari Allooh سبحانه وتعالى. Kewajiban Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah menyampaikan. Kewajiban kita adalah pasrah.”
(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)
(68) Pasrah
وقال بعض السلف:
قدم الإسلام لا تثبت إلا على قنطرة التسليم
Artinya:
Berkata sebagian Pendahulu Ummat (Salaf) :
“Islam itu tidak ajeg, kecuali diatas jembatan pasrah.”
(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)
(67) Berhati-hatilah
قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم ما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم؛ فإياكم وإياهم
Artinya:
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan muncul di akhir ummat ini, manusia-manusia yang menyampaikan pada kalian sesuatu yang kalian serta bapak-bapak kalian belum pernah mendengarnya (sesuatu yang baru dalam perkara Islam). Karena itu, berhati-hati dan hindarilah mereka.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 15, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)
(66) Pokok-Pokok Ahlus Sunnah
قال الإمام أحمد بن حنبل؛ إمام أهل السنة رحمه الله:
أصول السنة عندنا: التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم والاقتداء بهم، وترك البدع، وكل بدعة فهي ضلالة
Artinya:
Berkata Imaam Ahmad bin Hambal رحمه الله, “Pokok-pokok Sunnah itu adalah:
1. Berpegang-teguh pada apa yang para Shohabat diatasnya, dan menjadikan mereka sebagai panutan.
2. Meninggalkan ke-Bid’ahan karena setiap ke-Bid’ahan itu adalah kesesatan.
(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’I رحمه الله)
(65) Salam untuk Ahlus Sunnah
قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
إذا بلغك عن رجل بالمشرق؛ أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام؛ فقد قل أهل السنة
Artinya:
Berkata Imaam Sofyan Ats Tsauury رحمه الله: “Jika sampai padamu seseorang dari Timur, sedangkan dia adalah Ahlus Sunnah, maka sampaikanlah salam (dariku). Sebab sungguh Ahlus Sunnah telah menjadi orang-orang yang langka.”
(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’I رحمه الله)
(64) Sedihnya Seorang Imaam
عن عبد الله بن المبارك – رحمه الله – قال:
اعلم – أي أخي – أن الموت اليوم كرامة لكل مسلم لقي الله على السنة؛ فإنا لله وإنا إليه راجعون؛ فإلى الله نشكو وحشتنا، وذهاب الإخوان، وقلة الأعوان، وظهور البدع، وإلى الله نشكو عظيم ما حل بهذه الأمة من ذهاب العلماء، وأهل السنة، وظهور البدع
Artinya:
Imaam ‘Abdullooh bin Mubaarok رحمه الله berkata,
“Ketahuilah olehmu, bahwa mati pada hari ini adalah kemuliaan bagi setiap Muslim, karena dia menemui Allooh سبحانه وتعالى diatas Sunnah. Akan tetapi, innaa Lillaahi wa innaa illaihi rooji’uun, kepada Allooh سبحانه وتعالى kami mengadu atas kecemasan kami karena perginya para ikhwaan (saudara seperjuangan), sedikitnya penolong, dan munculnya ke-Bid’ahan. Kita mengadu kepada Allooh سبحانه وتعالى, betapa besar perkara yang menimpa ummat ini, karena perginya para ‘Ulama dan Ahlus Sunnah dan nampaknya ke-Bid’ahan.”
(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’ An Nahyu ‘Anhaa”, karya Imaam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله)
(63) Penghidup Negeri
قال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى:
إن لله عباداً يحيي بهم البلاد؛ وهم أصحاب السنة
Artinya:
Berkata Imaam Fudhoyl bin ‘Iyaadh رحمه الله, “Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memiliki hamba, yang karena mereka maka negeri ini menjadi hidup. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah.”
(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’I رحمه الله)
(62) Kekasih Iblis
قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، المعصية يتاب منها، والبدعة لا يتاب منها
Artinya:
Berkata Sofyan Ats Tsaury رحمه الله, “Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada ma’shiyat; sebab ma’shiyat itu diampuni sedang Bid’ah itu tidak diampuni.”
(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’I رحمه الله)
(61) Pengikut Hadiits
قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : إذا رأيت رجلاً من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلاً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم
Artinya:
Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata: “Jika aku melihat seorang pengikut Hadits maka seakan-akan aku melihat seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)
(60) Islam Palsu
قال الإمام مالك رحمه الله تعالى : لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها؛ فما لم يكن يومئذ ديناً لا يكون اليوم دينا
Artinya:
Imaam Maalik رحمه الله berkata, “Akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan apa-apa yang membuat baik generasi pendahulunya. Maka apa-apa yang pada hari itu (– di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya –) bukan merupakan dien (ajaran Islam), maka pada suatu hari kapanpun tidak bisa menjadi dien (ajaran Islam).”
(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)
(59) Ruju’nya Imaam Asy Syaafi’iy
قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى:
كل مسألة تكلمت فيها بخلاف السنة؛ فأنا راجع عنها؛ في حياتي وبعد مماتي
Artinya:
Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata, “Setiap masalah yang aku bahas tetapi menyelisihi Sunnah, maka aku ruju’ darinya di masa hidupku atau setelah matiku.”
(Dinukil dari Kitab “Al Faqiih Wal Muttafaqqih” karya Al Imaam Al Khothib Al Baghdady رحمه الله)
(58) Kriteria Mufti (Pemberi Fatwa)
قال الإمام أحمد: “لا ينبغى للرجل أن ينصب نفسه للفتيا حتى يكون فيه خمس خصال: أولها أن تكون له نية فإن لم تكن له نية لم يكن عليه نور ولا على كلامه نور، والثانية: أن يكون له علم وحلم ووقار وسكينة، الثالثة: أن يكون قويا على ماهو فيه وعلى معرفته ، الرابعة: الكفايه وإلا مضغه الناس ، الخامسة: معرفة الناس
Artinya:
Berkata Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, sebagaimana dinukil oleh Imaam Ibnu Qoyyim رحمه الله, “Seseorang dilarang berfatwa, kecuali jika memenuhi 5 perkara:
1. Memiliki niat dan sebab. Jika tidak memiliki itu, maka dia tidak akan memiliki cahaya, baik pada dirinya maupun pada perkataannya.
2. Memiliki ilmu, kelembutan, tawaadhu’ dan ketenangan
3. Kuat dalam pendirian dan pengetahuannya
4. Memiliki kompetensi
5. Mengetahui keadaan orang.”
(Kitab “’Iiqoodz Ulil Himamil Al ‘Aaliyah”)
(57) Kriteria Seorang Hakim
عن يحيى بن سعيد ، قال : سأل عُمَر بن عَبد العزيز رضي الله عنه عن قاضي الكوفة ، وقال : القاضي لاَ ينبغي أن يكون قاضيا حتى يكون فيه خمس خصال : عفيف ، حليم ، عالم بما كان قبله ، يستشير ذوي الألباب ، لاَ يبالي بملامة الناس
Artinya:
Dari Yahya bin Sa’iid رحمه الله, beliau berkata, “’Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه bertanya tentang hakim wilayah Kuufah dan berkata, “Seorang Qoodhi (Pemutus Perkara) tidak boleh menjadi Qoodhi sehingga dia memenuhi 5 perkara:
1. Bersih hati
2. Lembut
3. ‘Aalim terhadap pejabat sebelumnya (– berupa keputusan-keputusan yang diputuskan oleh pejabat sebelumnya –)
4. Berkonsultasi pada ahli ‘ilmu
5. Tidak peduli terhadap celaan manusia.”
(Kitab “As Sunan Ash Shughro” no: 4504, karya Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله)
(56) Sempitnya Dunia
ذهب رجل إلى إبراهيم أين أدهم وقال له : يا أبا اسحق أنى مسرف على نفسي في ارتكاب المعاصي فاعرض علي ما يكون لها زاجرا ومستنقذ قال : أن قبلت خمس خصال وقدرت عليها لم تضرك المعصية ولم توبقك لذة ، قال : هات يا أبا اسحق قال : أما الأولى فإذا أردت أن تعصى الله عز وجل فلا تأكل من رزقه قال فمن أين آكل وكل ما في الأرض من رزقه ؟ قال : يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتعصيه ؟ قال : لا هات الثانية : قال وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئا من بلاده قال : هذه اعظم من الأولى يأخذا إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما ملك له فأين أسكن ؟ قال يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه ؟ قال : هات الثالثة : قال وإذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وبلاده فانظر موضعا لا يراك فيه فاعصه فيه قال يا إبراهيم ما هذا وهو يعلم السر و أخفي قال : يا هذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه وهو يراك ويعلم ما تجاهر به ؟ قال : لا هات الرابعة قال : فإذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له أخرني حتى أتوب توبة نصوحا وأعمل لله صالحا ، قال : لا يقبل مني قال : يأخذا أفأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب وتعلم أنه إذا جاءك لم يكن له تأخير فكيف ترجو وجه الخلاص ؟ قال : هات الخامسة قال : إذا جاءك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار فلا تذهب معهم قال : انهم لا يدعونني ولا يقبلون مني قال : فكيف ترجو النجاة أذن ؟ قال له يا إبراهيم حسبي حسبي ، أنا أستغفر الله وأتوب إليه ولزم العبادة والأدب مع الله حتى فارق الدنيا
Artinya:
Seseorang menemui Ibrohim bin Adham lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, sungguh aku orang yang berlebihan pada diriku dalam melakukan ma’shiyat. Maka sampaikanlah padaku sesuatu yang dapat membuatku jera dan menyelamatkanku.”
Ibrohim bin Adham menjawab, “Kalau kamu terima 5 perkara, dan kamu mampu melakukannya, maka tidak mengapa berbuat ma’shiyat dan kepuasanmu tak akan membinasakanmu.”
Lalu orang tadi berkata, “Coba sampaikanlah padaku.”
Ibrohim bin Adham menjawab, “Adapun yang pertama, jika kamu mau berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, maka janganlah kamu memakan rizqy yang berasal dari-Nya.”
Orang itu berkata, “Darimana saya makan? Bukankah segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah rizqy dari Allooh سبحانه وتعالى?”
Kata Ibrohim bin Adham, “Yaa Fulan, pantaskah kamu memakan rizqy dari-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?”
Orang itu berkata lagi, “Sampaikanlah yang kedua.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika kamu akan berma’shiyat, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”
Orang itu berkata, “Ini lebih sulit dari yang pertama. Kalau seandainya Timur dan Barat dan antara keduanya merupakan milik Allooh سبحانه وتعالى, maka dimana aku akan tinggal?”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah kamu makan rizqy dari-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?”
Orang itu berkata lagi, “Sampaikan yang ketiga.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika engkau akan berma’shiyat, sedangkan engkau menikmati rizqy-Nya, tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang Allooh سبحانه وتعالى tidak melihatmu, maka lakukanlah ma’shiyat disitu.”
Orang itu berkata, “Yaa Ibrohim, apa ini? Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mengetahui yang tersembunyi dan apa yang kusembunyikan.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah, kamu makan dari rizqy-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, kamu berma’shiyat dan Allooh سبحانه وتعالى melihatmu dan mengetahui perbuatanmu?”
Orang itu berkata lagi, “Tidak. Berikan padaku yang keempat.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika datang padamu malakul maut untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya, ‘Tangguhkan aku hingga aku bertaubat nasuuha dan beramal shoolih untuk Allooh سبحانه وتعالى’.”
Orang itu berkata, “Tidak mungkin ia menerima permintaan itu dariku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat dan kamu tahu jika dia datang padamu tidak mungkin menangguhkan ajalmu, maka bagaimana kamu berharap untuk menghindar?”
Orang itu berkata, “Berikan yang kelima.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Jika datang padamu malaikat Zabaaniyah pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke neraka, maka jangan engkau ikuti dia.”
Orang itu berkata, “Malaikat itu tidak akan mungkin membiarkanku dan menerima permintaanku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Bagaimana kamu berharap selamat kalaulah demikian?”
Maka orang itu berkata, “Wahai Ibrohim, cukup… cukup.. Aku memohon ampunan Allooh سبحانه وتعالى. Aku bertaubat pada-Nya. Senantiasa beribadah dan berbuat baik pada Allooh سبحانه وتعالى, sehingga berpisah dari dunia ini.”
(Dinukil dari Kitab “Ma’a Allooh” karya Muhammad Al Ghozaly)
(55) Senantiasa Muda
لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ
Artinya:
Hati orangtua senantiasa muda dalam dua perkara:
1. Cinta dunia,
2. Panjang angan-angan
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6420 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)
(54) Menikahi Wanita Kaya
من تزوج غنية كان له منها خمس خصال :
مغالاة الصداق
وتسويف الزفاف
وفوت الخدمة
وكثرة النفقة
وإذا أراد طلاقها لم يقدر خوفا على ذهاب مالها
Artinya:
Berkata Imaam Al Ghozaly رحمه الله dalam Kitabnya Ihyaa’ ‘Ulumuddiin, “Barangsiapa menikahi wanita kaya, maka dia akan dihadapkan pada lima perkara:
1. Berlebihan dalam mahar
2. Mengundurkan walimah
3. Kehilangan khidmat
4. Besar nafaqohnya
5. Dan jika hendak menceraikannya, maka dia khawatir terhadap kepergian hartanya.”
(53) Generasi Berikutnya Tidak Sebaik Generasi Pendahulu
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا يأتي عليكم زمان إلا وهو شر من الذي كان قبلكم
Artinya:
“Tidaklah datang suatu zaman pada kalian, kecuali orang-orang pada zaman tersebut lebih jahat dari orang-orang yang ada pada zaman sebelum kalian.”
(Dinukil oleh Al Imaam Al Qudhoo’i dalam Musnad Asy Syihaab dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه)
(52) Obat Sakit
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
داووا مرضاكم بالصدقة
Artinya:
“Obatilah orang sakit dari kalian dengan shodaqoh.”
(Lihat Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir no: 5669 dari Shohabat Abu Umaamah Al Baahily رضي الله عنه)
(51) Menjelang Kematian
قال يوسف بن أسباط رحمه الله إني لأشتهى من الله ثلاث خصال أن أموت حين أموت وليس في ملكي درهم ولا يكون على دين ولا على عظمي لحم فأعطى ذلك كله
Artinya:
Berkata Imaam Yuusuf bin Asbaath رحمه الله, “Sungguh aku sangat berkeinginan dari Allooh سبحانه وتعالى tiga perkara:
1. Mati, sedang aku tidak mempunyai satu dirham pun
2. Tidak memiliki hutang
3. Tidak ada daging yang menempel pada tulangku.”
(Dinukil dari ‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)
(50) Orang Lain Darimu
قال يحيى بن معاذ: ليكن حظ المؤمن منك ثلاث خصال: إن لم تنفعه فلا تضره، وإن لم تسره فلا تغمه، وإن لم تمدحه فلا تذمه
Artinya:
Berkata Imaam Yahya bin Mu’adz رحمه الله, “Hendaknya mu’min itu mendapatkan darimu tiga perkara:
1. Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka janganlah memberinya bahaya
2. Jika kamu tidak bisa memberinya bahagia, maka janganlah memberinya gundah
3. Dan jika kamu tida memujinya, maka janganlah mencelanya.”
(Dinukil dari Kitab Ar Risaalah Al Qusyairiyyah, karya Imaam Al Qusyairy رحمه الله)
(49) Riskannya Harta
قال عيسى -عليه السلام-: في المال ثلاث خصال: أن يأخذه من غير حله. فقيل: إن أخذه من حله؟ فقال: يضعه في غير حقه. فقيل: إن وضعه في حقه؟ فقال: يشغله إصلاحه عن ذكر الله -تعالى
Artinya:
‘Iisa عليه السلام berkata, “Pada harta itu terdapat tiga hal:
1. Mengambilnya bukan dari yang semestinya,
dan jika berasal dari yang semestinya maka,
2. Membelanjakannya bukan pada tempatnya,
dan jika membelanjakannya pada tempatnya, maka
3. Mengelolanya akan melalaikan dari mengingat Allooh سبحانه وتعالى.”
(Dinukil dari Al Aadaabusy Syar’iyyah, karya Imaam Ibnu Muflih Al Maqdisy )
(48) Kunci Selamat
قال بعضهم أجمع الفقهاء والعلماء على ثلاث خصال أنها إذا صحت ففيها النجاة ولا يتم بعضها إلا ببعض الإسلام الخالص عن البدعة والهوى والصدق لله تعالى في الأعمال وطيب المطعم
Artinya:
Para Fuqoha dan ‘Ulama bersepakat; ada tiga hal jika benar maka akan selamat, dimana satu sama lain saling terkait:
1. Ber-Islam yang terbebas dari Bid’ah dan Hawa’.
2. Benar terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam berbagai amalan
3. Memakan makanan yang baik-baik.
(Dinukil dari ‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)
(47) Pengeras Hati
عن عائشة رضي الله عنها: تُوْرِثُ القسوةَ في القلب ثلاثُ خصال: حبُّ الطعام، وحبُّ النوم، وحبُّ الراحة
Artinya:
Diriwayatkan dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, “Tiga perkara penyebab kerasnya hati:
1. Hobby makan,
2. Hobby tidur,
3. Hobby istirahat.”
(Dinukil dari Kitab Jam’ul Jawaa’mi’, karya Imaam Jalaaluddin As Suyuuthy رحمه الله)
(46) Sholat dan Kehidupan
قال أحد العلماء العارفين: إن في الصَّلاة ثلاث خصال: الإخلاص والخشية وذكر الله؛ فالإخلاص يقود العبد إلى المعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر الله ـ القرآن ـ يأمره وينهاه، فكلُّ صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة
Artinya:
Berkata seorang ‘Ulama:
“Sesungguhnya didalam sholat itu terdapat tiga karakter: Ikhlas, Takut dan Ingat pada Allooh سبحانه وتعالى.
Ikhlas memandu seorang hamba pada suatu kebaikan dan takut melarangnya dari kemunkaran, sedang dengan dzikir (ingat Allooh سبحانه وتعالى) akan memerintah dan melarangnya. Maka setiap sholat yang tidak mengandung tiga perkara ini, maka dia bukanlah sholat.” (Al Qur’an, “Minhaaj Hayaatin”)
(45) Al Qur’an yang Disalahgunakan
عن معاذ بن جبل قال : سيبلى القرآن في صدور أقوام كما يبلى الثوب فيتهافت يقرؤونه لا يجدون له شهوة ولا لذة يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب أعمالهم طمع لا يخالطه خوف إن قصروا قالوا سنبلغ وإن أساؤوا قالوا سيغفر لنا إنا لا نشرك بالله شيئا
Artinya:
Berkata Mu’adz bin Jabbal رضي الله عنه, “Al Qur’an akan rusak pada dada-dada banyak kaum, sebagaimana rusaknya baju.
Mereka membacanya, sedang mereka tidak merasakan keasyikan dan kelezatannya, mereka memakai kulit-kulit domba diatas hati serigala.
Pekerjaan mereka rakus, tidak tercampur rasa takut.
Jika mereka kurang dalam beramal, mereka mengatakan, “Kita akan sampai.”
Dan Jika mereka berbuat buruk, mereka mengatakan, “Kita akan diampuni, karena kita tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan apa pun.”
(Sunan Ad Daarimy no: 3346)
(44) Bahaya ‘Ulama Suu’
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَضَّاحٍ :
إِنَّمَا هَلَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ ، وَسَتَهْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ
Artinya:
Berkata Imaam Muhammad bin Wadhdhooh رحمه الله:
“Binasanya Bani Isroo’il itu tidak lain kecuali oleh para Pembaca dan para Fuqoha (‘Ulama) dari mereka.
Dan ummat ini akan binasa juga diatas para Pembaca dan para Fuqohanya (‘Ulamanya).”
(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’ no: 153)
(43) Sempurnanya Suatu ‘Amalan
قال أبو عبد اللَّه الباجي الزاهد رحمه اللَّه : خمس خصال بها تمام العمل : الإيمان بمعرفة اللَّه عز وجل ، ومعرفة الحق ، وإخلاص العمل لله ، والعمل على السنة ، وأكل الحلال ، فإن فقدت واحدة لم يرتفع العمل
Artinya:
Berkata Imaam Abu ‘Abdillah Al Baaji رحمه الله, “Ada 5 perkara penyebab sempurnanya amalan:
1. Beriman dengan pengetahuan terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengetahui Al Haq (kebenaran)
3. Ikhlas dalam beramal
4. Beramal diatas As Sunnah
5. Memakan makanan yang halal
Jika salah satu dari lima perkara itu hilang, maka amalan tidak akan diangkat.”
(42) Pentingnya Bertanya
ابن شهاب : العلم خزانة مفاتحها المسألة
Artinya:
Imaam Ibnu Syihaab رحمه الله berkata, “Ilmu itu adalah simpanan berharga. Kuncinya adalah bertanya.”
(41) Busuknya Seorang ‘Ulama
مكحولا يقول لا يأتي على الناس ما يوعدون حتى يكون عالمهم فيهم أنتن من جيفة حمار
Artinya:
Imaam Makhuul رحمه الله berkata, “Tidak datang pada manusia apa yang dijanjikan pada kalian, sehingga seorang ‘aalim ditengah-tengah mereka lebih busuk daripada bangkai keledai.”
(Dinukil dari Kitab Hilyatul Auliyaa’)
(40) Tiga Sifat Agar Tidak Aneh
قيل: ثلاث خصال ليس معهن غُربة: مجانبةُ أهل الرِّيب، وحسن الأدب.وكف الأذى
Artinya:
Ada 3 sifat yang jika dimiliki seseorang, maka ia tidak akan terasing:
1. Menjauh dari orang yang meragukan (Jangankan orang yang jelas faasiq-nya, yang tidak jelas faasiq-nya pun tidak didekatinya. Ia lebih suka bergaul dengan orang yang shoolih)
2. Berakhlaq yang santun
3. Menghentikan perkara yang menimbulkan luka atau menyakiti orang lain
(39) Hakekat Malu
عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم استحيوا من الله حق الحياء قال قلنا يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله قال ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء
Artinya:
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Malu lah kalian dengan sebenar-benar malu.“
Kami bertanya, “Ya Rosuulullooh, kami punya malu. Alhamdulillah.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebenarnya itu adalah:
1) Kamu pelihara kepalamu dan apa yang menjadi isinya
2) Kamu pelihara perutmu dan apa yang ditampungnya
3) Ingatlah olehmu kematian dan kemusnahan
4) Dan barangsiapa yang menginginkan akherat, maka dia tinggalkan perhiasan dunia
Dan barangsiapa yang melakukan itu, maka dia sungguh telah malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sesungguhnya.”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2458, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)
(38) Jangan Taqliid
ألا لا يقلّدنّ أحدكم دينه رجلاً؛ إن آمن آمن، وإن كفر كفر؛ فإنه لا أسوة في الشرّ
Artinya:
Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:
“Janganlah seseorang ber-taqliid (mengekor) dalam perkara dien-nya (agamanya) pada orang lain.
Jika dia beriman maka dia (ikut) beriman dan jika dia kaafir maka dia pun (ikut) menjadi kaafir. Sesungguhnya, janganlah ikut-ikutan di dalam kejahatan.”
(37) Ciri-Ciri Orang ‘Aalim
يُرَادُ لِلْعَالِمِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ :
الْخَشْيَةُ ،
وَالنَّصِيحَةُ ،
وَالشَّفَقَةُ ،
وَالاحْتِمَالُ ،
وَالصَّبْرُ ،
وَالْحِلْمُ ،
وَالتَّوَاضُعُ ،
وَالْعِفَّةُ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ ،
وَالدَّوَامُ عَلَى النَّظَرِ فِي الْكُتُبِ ،
وَتَرْكُ الْحِجَابِ
Artinya:
Seorang ‘aalim itu adalah :
1. Takut pada Allooh سبحانه وتعالى
2. Memberi nasihat
3. Sayang
4. Tahan uji
5. Shobar
6. Lembut
7. Tawaadhu’
8. Bersih hati terhadap harta orang
9. Selalu membaca Kitab
10. Meninggalkan pembatas dengan manusia
(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)
(36) Hakekat Zuhud
قال يحيى بن معاذ: لا يبلغ أحد حقيقة الزهد حتى يكون فيه ثلاثُ خصال: عمل بلا علاقة، وقول بلا طمع، وعز بلا رياسة
Artinya:
Berkata Yahya bin Mu’adz رحمه الله:
“Tidaklah seseorang sampai pada Zuhud yang sebenarnya hingga pada dirinya terdapat 3 sifat:
1. Bekerja tanpa keterkaitan (bekerja tanpa mengharap penilaian manusia)
2. Berkata tanpa rakus (berkata tanpa mengharapkan perkara duniawi yang lebih)
3. Mulia tanpa ambisi (mulia walau tanpa jabatan duniawi)
(35) Penghalang ‘Ilmu
وَحِرْمَانُ الْعِلْمِ يَكُونُ بِسِتَّةِ أَوْجُهٍ :
أَحَدُهَا تَرْكُ السُّؤَالِ .
الثَّانِي سُوءُ الإِنْصَاتِ وَعَدَمُ إلْقَاءِ السَّمْعِ .
الثَّالِثُ سُوءُ الْفَهْمِ .
الرَّابِعُ عَدَمُ الْحِفْظِ .
الْخَامِسُ عَدَمُ نَشْرِهِ وَتَعْلِيمِهِ ،
السَّادِسُ عَدَمُ الْعَمَلِ بِهِ
Artinya:
Perkara yang menghalangi ilmu :
1. Tidak bertanya
2. Tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Pemahaman yang buruk
4. Tidak menghafal
5. Tidak menyebarkan dan tidak mengajarkan ilmu
6. Tidak mengamalkan ilmu
(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)
(34) Dampak Buruk Menyanyi
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ
Artinya:
Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:
“Menyanyi itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman;
dan dzikir itu menumbuhkan iman dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman.”
(Diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab “As Sunanul Kubro”)
(33) Tahapan ‘Ilmu
وَاعْلَمْ أَنَّ لِلتَّعَلُّمِ سِتَّ مَرَاتِبَ :
أَوَّلُهَا حُسْنُ السُّؤَالِ :
ثَانِيهَا حُسْنُ الإِنْصَاتِ وَالاسْتِمَاعِ .
ثَالِثُهَا حُسْنُ الْفَهْمِ .
رَابِعُهَا الْحِفْظُ ،
خَامِسُهَا التَّعْلِيمُ
سَادِسُهَا وَهِيَ الثَّمَرَةُ الْعَمَلُ بِهِ وَمُرَاعَاةُ حُدُودِهِ
Artinya:
Mendapatkan ‘ilmu itu dengan enam tahapan :
1. Bertanya yang baik
2. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Memahami dengan baik
4. Menghafalkan
5. Mengajarkan
6. Mengamalkan
(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)
(32) Malu dan Kematangan Sosial
استحي أن ينظر إلي ذو عينين وأنا أكل فلا أعطيه شيئاً
Artinya:
Berkata orang shoolih zaman dahulu :
“Saya malu jika ada dua mata melihat saya sedang makan, lalu saya tidak memberinya sesuatu.”
(31) Sholaahhuddiin dan Palestine
قال صلاح الدين الأيوبي:
إني لأستحيي من الله أن أضحك وفي القدس صليبي واحد
Artinya:
Telah berkata Sholaahhuddiin Al Ayyuuby رحمه الله:
“Sungguh aku malu pada Allooh سبحانه وتعالى untuk tertawa padahal di Baitul Maqdiis masih ada seorang Nashroony.”
(30) Lima Tanda Orang Sengsara
يقول الفضيل بن عياض -رحمه الله-:
خمس من علامات الشقوة: القسوة في القلب وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل
Artinya:
Telah berkata Al Fudhoil Bin ‘Iyaadh رحمه الله:
Ada lima tanda orang yang sengsara :
1) Hati yang keras membatu
2) Mata yang tidak pernah menangis
3) Sedikit malu
4) Cinta dunia
5) Panjang angan-angan
(29) Perkataan “Saya Tidak Tahu”
ويقول علي ابن أبي طالب –رضي الله عنه-:
لا يستحي من يعلم أن يتعلم، ولا يستحي من إذا سئل عما لا يعلم أن يقول: لا أعلم
Artinya:
Telah berkata ‘Ali Bin Abii Thoolib رضي الله عنه :
“Orang yang mengetahui, tidak malu untuk belajar dan mencari tahu serta tidak malu jika dia ditanya tentang masalah yang tidak diketahui untuk mengatakan ‘Saya tidak tahu’.”
(28) Karakteristik Dunia
عن أبي عبد رب يقول : سمعت معاوية على هذا المنبر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : لم يبق من الدنيا إلا بلاء وفتنة
Artinya:
Dari Abi ‘Abdi Robb رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
“Tidak tersisa dari dunia ini kecuali cobaan dan ujian”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibbaan رحمه الله no: 690 dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya kuat)
(27) Perkara Yang Dibenci Manusia
عن محمود بن لبيد ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : اثنتان يكرههما بن آدم الموت والموت خير للمؤمن من الفتنة ويكره قلة المال وقلة المال أقل للحساب
Artinya:
Dari Mahmuud bin Labiid رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda :
Dua perkara yang dibenci manusia :
1. Kematian, padahal dia lebih baik bagi mu’min dari pada ujian
2. Sedikit harta, padahal dia menyebabkan sedikit hisab
(Hadits Riwayat Imaam Ahmad رحمه الله, dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya baik)
(26) Kunci Keberuntungan
عمرُ بنُ عبد العزيز : قد أفلحَ مَنْ عُصِمَ من الهوى ، والغضب ، والطمع
Artinya:
Berkata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه, “Sungguh beruntung orang yang terjaga dari hawa nafsu, marah, rakus.”
(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa”)
(25) ‘Amalan Terbaik
وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه ورحمه :
أفضل الأعمال ثلاثة :
ذكر الله تعالى
ومواساة الأخوان
وإنصاف الناس من نفسك
Artinya:
Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, “Sebaik-baik ‘amalan adalah:
1. Dzikir / mengingat Allooh سبحانه وتعالى
2. Setia kawan
3. Adil terhadap diri sendiri
(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)
(24) Pelindung dari Syaithoon
وقال الحسن : أربعٌ من كُنَّ فيه عصمه الله من الشيطان ، وحرَّمه على النار : مَنْ ملك نفسَه عندَ الرغبة ، والرهبة ، والشهوةِ ، والغضبِ
Artinya:
Berkata Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله, “Empat perkara jika ada pada seseorang maka Allooh سبحانه وتعالى jaga dia dari syaithoon dan Allooh سبحانه وتعالى haromkan api neraka untuknya:
1. Menjaga mulutnya, dalam keadaan suka
2. Menjaga mulutnya, dalam keadaan benci (tidak suka)
3. Mengendalikan hawa nafsunya
4. Mengendalikan amarahnya
(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa’”)
(23) Keterpujian
وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه:
من أحب أن يفتح الله قلبه ويرزقه العلم فعليه بالخلوة وقلة الأكل وترك مخالطة السفهاء وبعض أهل العلم الذين ليس معهم إنصاف ولا أدب
Artinya:
Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, “Barangsiapa yang ingin Allooh سبحانه وتعالى buka hatinya untuk ‘ilmu,
maka :
1. Ber-kholwat-lah / bermunajat disaat sepi terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Menyedikitkan makan
3. Tidak bergaul dengan orang bodoh
4. Tidak bergaul dengan ahli ‘ilmu yang tidak memiliki ‘adab dan keadilan
(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)
(22) Mencuci Hati
قال عبدالملك القاسم
عجبت لمن يغسل وجهه خمس مرات في اليوم مجيباً داعي اللّه، ولا يغسل قلبه مرة في السنة ليزيل ما علق به من أدران الدنيا، وسواد القلب، ومنكر الأخلاق
Artinya:
Berkata Syaikh ‘Abdul Maalik Al Qoosim, “Aku heran pada orang yang lima kali membasuh wajahnya setiap hari, memenuhi panggilan mu’adzdzin, tetapi tidak mencuci hatinya sekalipun dalam satu tahun agar menghilangkan kotoran ketergantungan terhadap dunia, kelamnya hati dan buruknya akhlaq.”
(Dinukil dari Kitab “Husnul Khuluq”)
(21) Qonaa’ah
وعن الشافعي رحمه الله تعالى قال :
من غلبت عليه شدة الشهوة لحب الدنيا لزمته العبودية لأهلها ومن رضي بالقنوع زال عنه الخضوع
Artinya:
Telah berkata Imaam Syaafi’iy رحمه الله, “Barangsiapa yang dikuasai oleh nafsu cinta dunia, niscaya dia akan berhamba kepadanya. Dan barangsiapa yang Qonaa’ah (puas apa adanya), maka akan hilang darinya sikap tunduk pada selain Allooh سبحانه وتعالى.”
(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)
(20) Sendi Kekufuran
قال وهب بن منبه :
للكفر أربعة أركان الغضب والشهوة والخرق والطمع
Artinya:
Berkata Wahab bin Munabbih رحمه الله, “Sendi Kekufuran itu ada empat:
1. Marah
2. Syahwat (Hawa Nafsu)
3. Mencampuradukkan antara Haq dan Baathil
4. Rakus (Tamak)
(Dinukil dari Kitab “Ihyaa Ulumiddiin”)
(19) Sebaik-baik Simpanan / Tabungan
وقال الشافعي رضي الله تعالى :
أنفع الذخائر التقوى وأضرها العدوان
Artinya:
Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, “Simpanan yang paling bermanfaat adalah taqwa. Dan simpanan yang mencelakakan adalah permusuhan.”
(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)
(18) Karakteristik Hari Jum’at
قال سعد بن عبادة:
خمس خصال من خصائص يوم الجمعة :
فيه خلق الله آدم،
وفيه أهبط من الجنة إلى الأرض،
وفيه توفي
وفيه ساعة لا يسأل العبد فيها شيئاً إلا أعطاه إياه ما لم يسأل إثماً أو قطيعة رحم،
وفيه تقوم الساعة
Berkata Shohabat Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنه, “Dalam Islam, semua hari adalah baik, hanya hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri, antara lain:
1. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى ciptakan Adam عليه السلام
2. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى turunkan Adam عليه السلام dari surga ke bumi
3. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى wafatkan Adam عليه السلام
4. Pada hari itu, tidaklah ada seorang yang bermohon (berdo’a) kepada Allooh سبحانه وتعالى, kecuali Allooh سبحانه وتعالى akan kabulkan, selama dia tidak meminta perbuatan dosa dan memutus silaturrohim
5. Pada hari itu, akan terjadi hari Kiamat.
(Dinukil dari Kitab “Irsyaadul Ibaad ilaa Sabiilil Rosyaad”)
(17) Khuluuf
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak seorang Nabi pun yang Allooh utus pada suatu kaum sebelumku, kecuali dia mempunyai para penolong dan para shohabat dari ummatnya, dimana mereka mengambil sunnahnya dan berpanutan pada perintahnya. Kemudian, muncullah setelah mereka KHULUUF, dimana mereka berkata apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka tidak diperintahkan.
Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan mulutnya, maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah mu’min. Dan tidak ada setelah itu iimaan walaupun hanya sebesar biji sawit.”
(HR. Muslim no: 188)
(16) Ciri Orang Bodoh
“Ada lima perkara jika terdapat pada seseorang berarti dia adalah orang bodoh:
1. Marah dalam segala hal
2. Percaya pada setiap orang
3. Berkata tanpa manfa’at
4. Memberi nasehat tidak pada tempatnya
5. Tidak dapat mengetahui dan membedakan siapa musuh dan siapa kawan”.
(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)
(15) Kebaikan Dunia dan Akhirat
Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
“Kebaikan dunia dan akhirat itu terdapat pada lima perkara:
1. Adanya rasa cukup dalam jiwa (kaya hati)
2. Menahan diri dari melukai orang lain
3. Mencari rizqi dari yang halaal
4. Berpakaian taqwa
5. Yakin terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam segala hal”.
(14) Harusnya Ada Pada Seorang Sahabat / Kawan Baik
Berkata Imaam Al Ghodzaaly رحمه الله :
“Orang yang diutamakan boleh menjadi seorang sahabat (kawan baik) adalah yang memiliki lima karakter:
1. Berakal (pintar)
2. Berakhlaq baik
3. Tidak faasiq
4. Tidak melakukan kebid’ahan
5. Tidak ambisius terhadap dunia.”
(Dinukil dari Kitab “Ihyaa u ‘Uluumiddiin”)
(13) Akibat Ambisi Terhadap Harta
Telah berkata Imaam Sofyaan Ats Tsauury رحمه الله:
“Tidak berkumpul harta pada seseorang di zaman ini kecuali dia akan memiliki 5 sifat:
1. Panjang angan-angan
2. Sangat ambisius
3. Kikir yang sangat (bakhiil)
4. Kurang Waro’ (berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak halal)
5. Lupa akhirat”.
(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)
(12) Para Da’i Penyeru ke Pintu-Pintu Jahannam
عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Artinya:
Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.”
Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?” Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.”
Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”
Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.”
Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”
Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”
(Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3606)
(11) Cara Mengetahui Riya’
Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
“Tidak mengetahui Riya’ kecuali orang mukhlis (– orang yang ikhlas – pent)”
(Dinukil dari Kitab “Bustaanul ‘Aarifiin”, karya Imaam An Nawaawy رحمه الله)
(10) Enam Perkara Aneh dalam Enam Perkara
“Ada enam perkara dia aneh dalam enam perkara:
1. Masjid aneh di tengah-tengah orang yang tidak sholat didalamnya
2. Mushaaf aneh di rumah suatu kaum yang tidak membacanya
3. Al Qur’an aneh pada orang yang faasiq
4. Wanita muslimah aneh berada pada seorang laki-laki yang dzoolim lagi berakhlaq buruk
5. Seorang muslim yang shoolih aneh berada pada seorang wanita yang buruk dan buruk pula akhlaqnya
6. Seorang ‘aalim aneh di tengah suatu kaum yang tidak mendengarkan pada petuahnya.”
(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)
(9) Ciri Kesempurnaan Amal
Berkata Imaam Sa’iid bin Yaziid Abu ‘Abdillah as Saajii r رحمه الله:
“Lima perkara jika lima ini ada, maka pertanda bahwa ‘ilmu telah sempurna dan amalan menjadi bermakna dan tidak sia-sia:
1. Mengenali Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengenali kebenaran
3. Tulus beramal karena Allooh سبحانه وتعالى
4. Beramal sesuai Sunnah
5. Tidak makan, kecuali dari yang halaal”.
(8) Perkara Penyebab Masuk Surga atau Masuk Neraka
عن ابي هريرة : قال سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة ؟ فقال تقوى الله وحسن الخلق وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار فقال الفم والفرج
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditanya tentang perkara yang terbanyak menyebabkan manusia masuk kedalam surga, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Bertaqwa kepada Allooh dan ber-akhlaq yang baik.”
Dan ditanya tentang perkara terbanyak yang menyebabkan manusia masuk neraka, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mulut dan kemaluan.”
(Hadits Shohiih Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2004)
(7) Agar tidak mengkufuri nikmat Allooh
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
Artinya:
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, telah bersabda Rosuululllooh صلى الله عليه وسلم:
“Lihatlah oleh kalian orang yang di bawah kalian dan jangan kalian lihat orang yang di atas kalian. Yang demikian itu lebih dekat dari mengkufuri nikmat Allooh.”
(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7619)
(6) Orang ber-‘ilmu dan ber-‘imaan
قال ابن القيم رحمه الله تعالى :
أفضل ما اكتسبته النفوس, وحصلته القلوب, ونال به العبد الرفعة في الدنيا والآخرة, هو العلم والايمان, ولهذا قرن الله سبحانه بينهما في قوله: { وقال الذين أوتوا العلم والايمان لقد لبثتم في كتاب الله الى يوم البعث فهذا يوم البعث}الروم 56. وقوله:{ يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات}المجادلة11
Artinya:
Berkata Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله:
Sebaik-baik apa yang diraih oleh jiwa dan hati adalah apa yang diraih oleh seorang hamba berupa ketinggian derajat di dunia dan di akhirat, yaitu berupa ‘ilmu dan ‘imaan. Oleh karena itu, Allooh سبحانه وتعالى mendampingkan “Dan orang-orang yang diberi ‘ilmu dan ‘imaan berkata (kepada orang kaafir), ‘Sungguh kalian telah berdiam (dalam kubur) sesuai ketetapan Allooh سبحانه وتعالى sampai hari kebangkitan, maka inilah hari kebangkitan itu” [QS. Ar Ruum (30) ayat 56] dengan “Allooh akan mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ‘ilmu beberapa derajat” [QS Al Mujaadalah (58) ayat 11]
(“Al Fawaa’id”, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah)
(5) Haq Allooh dalam ketaatan
حقُّ اللهِ تَعَالَى فِي الطَّاعةِ ستَّةُ أُمورٍ، وهي:
1 الإخلاصُ فِي العملِ.
2 والنَّصيحَةُ للهِ فيهِ.
3 ومُتابعَةُ الرَّسُولِ فيهِ.
4 وشُهُودُ مَشْهَدِ الإِحسانِ فيهِ.
5 وشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيهِ.
6 وشُهودُ تَقصيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كلِّهِ.
Artinya:
“Haq Allooh سبحانه وتعالى dalam ketaatan itu ada 6, yaitu:
1. Ikhlash dalam beramal
2. Menasehati Allooh سبحانه وتعالى di dalamnya
3. Mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam ta’at
4. Mempersaksikan unsur kebajikan di dalamnya
5. Mempersaksikan karunia Allooh سبحانه وتعالى padanya
6. Mempersaksikan kekurangan dirinya dalam ta’at kepada Allooh سبحانه وتعالى.”
(“Dzammun Nafsi wal Hawaa”, karya Syaikh ‘Abdul Haady Hasan Wahby)
(4) An Najaat (Selamat)
عن عقبة بن عامر قال : قلت يا رسول الله ما النجاة ؟ قال أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك وآبك على خطيئتك
Artinya:
Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir رضي الله عنه berkata, “Aku bertanya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apakah An Najaat itu (selamat)?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Hendaknya kamu kendalikan mulutmu, cukupkan rumahmu dan tangisilah kesalahanmu.”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzi no: 2406 dan kata beliau رحمه الله hadits ini adalah Hasan)
(3) Syari’at Islaam
قال ابن قيم الجوزية في إعلام الموقعين عن رب العالمين : إن الشريعة مبناها وأساسها على الحكم ومصالح العباد في المعاش والمعاد وهي عدل كلها ورحمة كلها ومصالح كلها وحكمة كلها
Artinya:
Berkata ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yakni Ibnul Qoyyim رحمه الله :
“Sesungguhnya Syari’at Islaam itu dasar dan bangunannya adalah diatas hikmah dan untuk kebaikan manusia, baik dalam kehidupan didunia maupun di akherat. Syari’at itu seluruhnya berupa keadilan dan kasih sayang, kebaikan dan hikmah.”
(2) Du’a Hari ‘Arofah
خير الدعاء دعاء يوم عرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير
Artinya:
“Sebaik-baik du’a adalah du’a pada hari ‘Arofah, dan sebaik-baik apa yang aku (Muhammad صلى الله عليه وسلم) dan para Nabi sebelumku katakan adalah “Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai’in Qodiir” (artinya: Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya, kecuali hanya Allooh dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala Kerajaan dan Pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu)”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3585 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنهم)
(1) Keutamaan 10 Hari Awal Dzul Hijjah
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidaklah ada hari-hari beramal yang di dalamnya paling dicintai oleh Allooh kecuali hari-hari ini (sepuluh hari bulan Dzul Hijjah)”.
Para shohabat bertanya: “Ya Rosuulullooh, bagaimana dengan jihad fisabilillah?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: “Bahkan dari jihad sekalipun. Kecuali seseorang keluar (berjihad) dengan jiwa, harta dan jiwanya dan tidak kembali sedikit pun dari itu”.
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 2440, Imaam At Turmudzy no: 757 dan Imaam Ibnu Maajah no: 1727)