Oleh ustad ali akbar bin agilKamis

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

Sabda Nabi SAW di atas tentunya bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk saling menguatkan buhul persaudaraan, bergandengan tangan, saling mengasihi, tidak memutuskannya dengan dalih apapun juga.

Silaturahim berarti sambungan kasih, dengannya menjadikan tiap orang saling merasa memiliki dan merasakan kebahagiaan sekaligus penderitaan yang tengah dialami. Kita menjadi ada karena adanya orang lain. Kita saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa ditemani keluarga, sahabat, tetangga. Karenanya, menjadi penting untuk selalu menjaga hubungan baik dengan kerabat, khususnya keluarga kita sendiri. Keberadaan kita berbanding lurus dengan keterampilan kita membangun sinergi dengan orang lain.

Silaturahim melahirkan rezeki yang melimpah? Mungkin ada yang menduga sebagai hal yang mengada-ada saja. Di mana hubungan silaturahim dengan rezeki yang lapang. Bukankah rezeki itu harus dijemput dengan kerja, apa iya sih silaturahim menarik rezeki dengan melimpah ruah.

Keraguan seperti ini sering hadir dalam benak kita, bukan? Relasi (networking) adalah kunci informasi. Setiap informasi dapat menciptakan sejumlah peluang, membuka kesempatan yang luas, demi terbukanya pintu rezeki. Bertambah banyak teman dan bermitra akan mengundang doa dari mereka yang pernah kita layani.

Seperti diceritakan oleh Mirza, suatu kali ia menyambung kembali tali kekerabatan yang telah lama terputus selama hampir setahun. Setahun! Nabi sendiri melarang kita untuk tidak saling menyapa selama tiga hari. Dari Abu Ayyub r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim tidak dihalalkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari,” sabda Nabi suatu kali.

Sabda beliau yang lain, “Pintu-pintu surga dibuka setiap hari senin dan hari kamis, lalu orang-orang yang tidak berbuat syirik diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang memiliki rasa kebencian terhadap suadaranya. Lalu dikatakan, “Tangguhkanlah kedua orang ini hingga kembali islah”. (HR.Muslim).

Nabi pernah melarang salah seorang sahabat yang sedang berseteru dengan saudaranya untuk duduk bersama beliau dalam majlisnya. Mirza merasakan perasaan yang tidak nyaman, selalu gelisah, dan dihinggapi rasa bersalah akibat permusahan yang terjadi. Hingga suatu hari, tepatnya hari ahad pecan silan, Mirza memberanikan diri untuk memohon maaf setulus hati kepada saudaranya.

Dengan suara gemetar karena menahan penyesalan yang begitu mendalam, Mirza mengatakan, “Mohon, maafkan segala kesalahan saya. Saya memang salah. Mohon antum maafkan. Saya menyesal telah memutuskan silaturahim. Sungguh, saya takut dengan sabda nabi yaitu orang memutuskan silaturahim ia tak akan mencium bau surga.”

Dengan kebesaran jiwanya, saudaranya berkenan memaafkan. Kedua anak keturunan Adam tersebut kembali akur. Sehari setelah terjadinya perdamaian, datanglah kabar gembira kepada Mirza. Kabar itu adalah datangnya keuntungan bagi hasil dalam perjalanan umrah, sebesar tiga juta tiga ratus ribu. Ia berkata kepada istrinya, “Allahu Akbar, inilah bukti kebenaran sabda nabi, silaturahim melapangkan rezeki.”

Uang 20 juta yang ia investasikan dalam sebuah biro perjalanan umrah dalam kurun waktu 3 bulan, tepat sehari setelah ia meminta maaf dan menyambung silaturahim, Allah mengalirkan rezekiNya, membuktikan kebenaran sabda Nabi-Nya. Sekali lagi, sabda Nabi, “Hubungkanlah tali silaturahim, karena ia memperbanyak rezeki dan memanjangkan umur.”

di publikasikan kembali oleh : http:aycuna.wordpress.com