Ketika terjadi perang gerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan negara kita, yang saat itu dipimpin langsung Jendral Sudirman, sosok Suharto begitu menonjol. Terbukti dari cerita-cerita para pelaku sejarah yang terlibat, seperti Suparjo Rustam yang begitu ngeri melihat sepak terjang beliau.

Bayangkan, saat iring-iringan gerilyawan saja, Suharto selalu berjalan jauh di depan dengan langkah kilatnya. Anda tahu maksudnya? Dialah sang martir atau sasaran tembak pertama bila bertemu pasukan Belanda.

Keberaniannya itu terbukti membuat perubahan dahsyat pada dunia tani kita! Maaf, dengan mengesampingkan politik (yang dianggap) kotor yang kemudian dilakukannya selama 32 tahun memerintah, jelas pak Harto begitu berperan besar bagi kemajuan pertanian kita. Terutama dalam mengatasi ancaman ‘kelaparan’ waktu itu pada ratusan juta rakyatnya melalui pencanangan swasembada beras. Bayangkan saja, dengan berani dan tanpa ampun; dia bangun secara besar-besaran irigasi, pabrik pupuk/obat-obatan/alat pertanian, penciptaan varietas baru yang adapatif dan tahan hama, pencetakan lahan sawah baru, sarana penelitian/pendidikan, pembukaan jalan baru dan masih banyak lagi. Tentu saja itu jelas dibangun dengan segunung hutang, dan bisa jadi itu dengan menggadaikan hutan kita yang jutaan hektar untuk menyakinkan negara kreditor.

Mungkin dia berpikir, “Apalah artinya negara kaya sumber daya alam, tapi rakyatnya kelaparan?” Kenyataannya memang begitu kok waktu itu. Bagi yang belum pernah dengar cerita jeritan kelaparan itu, maka dengarlah cerita Asmuni Srimulat ketika menceritakan masa kecilnya yang mampu menggambarkan masa itu di sebuah tabloid (seingat saya begini):
“Ketika aku naik bis bersama bapak, disepanjang jalan kulihat banyak orang tergeletak mati dengan perut yang melembung akibat busung lapar!” Wow…..kematian di lumbung padi.

Nah, dari situlah kita memahami mengapa di saat awal-awal pak Harto begitu menyepelekan pengembangan hortikultura di negeri ini. “Yang penting, rakyatku makan dulu!!!!”(Namun pada akhirnya dia sadar dng kesalahannya itu, maka bersama ibu Tien memprakarsai berdirinya taman buah “Mekar Sari”. Salah satu lokomotif perkembangan bibit buah unggul di negeri ini.)

Padahal durian Monthong sudah lama sekali masuk dengan diserahkannya bibit pertama dari Ratu Sirikit ke Presiden pertama kita Sukarno. Tapi perbanyakannya terhenti begitu saja. Kita mendengar kembali kabar durian Monthongu lokomotif perkembangA setelah rame diberitakan ada durian yang dalam waktu 3 tahun bisa berbuah. Begitu terlambat.

Bahkan baru bener-bener terangkat, akibat efek penurunan booming penjualan kembang semacam Gelombang Cinta. Meski terlambat, kita masih beruntung ada orang-orang yang sudah mengembangkan terlebih dahulu bibit-bibit buah unggul itu. Sehingga booming ini memang sudah pas saatnya.

Yang mendesak di hortikultura kita saat ini, yaitu akibat pesatnya perkembangan bibit buah maka perlunya kita serius mempersiapkan industry hilirnya, bila tidak mau termehek-mehek seperti Thailand dulu yang justru didemo para petani buahnya, yang mesti membuang kelebihan produksinya saat panen raya dan menebang tanaman-tanaman yang sudah produktif untuk diatur kembali.

Kita perlu rumusan yang jelas, tidak hanya menanam demi sebuah program seperti target tanam 1 milyar pohon. Kita perlu menghidupkan lagi panduan berupa Garis-garis Besar atas apa yang akan kita lakukan sebagai haluan negara secara keseluruhan seperti jaman pak Harto dulu (tidak salahkan, ambil yang baiknya aja). Dengan begitu kita tahu dulu, apa yang kelak akan terjadi pada industri hortikultura kita, karena semua sudah terencana, tidak carut marut seperti sekarang. Dimana sering terjadi harga buah rambutan dan mangga terjun bebas saat panen raya…..sayangkan!