“Gerakan-Gerakan shalat sebenarnya adalah olahraga bagi tubuh, mirip dengan gerakan yoga. Dan di otak manusia ada pembuluh darah yang hanya akan dilalui darah jika manusia sujud, sehingga shalat akan membuat kita sehat”

“Setelah melalui penelitian medis, puasa dapat membuat sehat, karena merupakan proses detoksifikasi menetralkan racun tubuh dan proses mengistirahatkan pencernaan”

Ajaran Islam untuk kebaikan jiwa dan raga manusia

Pernyataan di atas adalah fakta-fakta yang tersebar di masyarakat bahwa ternyata ibadah dalam agama Islam bisa membuat pelaku ibadah menjadi lebih sehat. Fakta tersebut setelah dilakukan penelitian ilmiah sehingga bisa membuat orang lebih yakin untuk melakukan ibadah.

Memang syariat Islam Allah turunkan untuk kebaikan manusia secara umum. Tidak heran, ternyata dalam ibadah yang disyariatkan mengandung kebaikan bagi jiwa dan raga manusia.

Mengenai hal ini syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,

الدين مبني على المصالح

في جلبها و الدرء للقبائح

“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan

Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh” [Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf]

Kesalahan yang perlu diperbaiki

Yaitu berniat ibadah semata-mata ingin mencapai keuntungan duniawi saja. Dan termasuk kesalahan juga adalah menjadikan tujuan ibadah sebagai tujuan sampingan dan menjadikan kapentingan dunia seperti kesehatan sebagai tujuan utama.

Contohnya misalnya:

-ingin menjadi kurus maka ia melakukan puasa dan fokus pada program dietnya

-ingin lebih sehat maka ia sering shalat dan lebih fokus ke gerakan shalat

Jika berniat seperti ini maka berarti “beribadah dengan tujuan dunia”. Maka ini sangat tercela. Sebagaimana yang Allah gambarkan mengenai orang yang hanya berniat untuk dunia. Allah Ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَْأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]

Termasuk kesalahan yang perlu diperbaiki yaitu mengajarkan ibadah shalat misalnya dengan tujuan utama dunia, misalnya pelatihan shalat khusyu’ dengan gerakan-gerakan shalat yang bisa membuat sehat bahkan menyembuhkan penyakit. Kemudian tidak dijelaskan bahwa tujuan utama adalah ibadah bukan meraih kesehatan.

Pada hakikatnya boleh saja menjelaskan keuntungan dunia dari ibadah, tetapi harus dijelaskan mana tujuan utamanya. Bahkan fakta-fakta tersebut bisa digunakan untuk berdakwah kepada mereka yang terlalu mengandalkan akal dan logika seperti orang kafir.

Baru rajin ibadah setelah tahu manfaat dunia

Ia baru rajin shalat setelah mendapat pelatihan shalat kshusyu’ dengan info yang ia dapat bisa meningkatkan kesehatan dan bahkan menyembuhkan penyakitnya. Maka ini menunjukkan atas lemahnya imannya.

Memang ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dari dunia sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaii wa sallam,

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Konsekuensinya adalah ia hanya mendapatkan dunia dan tidak mendapatkan pahala sedikitpun untuk bekal akhiratnya. Bahkan ia bisa terjerumus dalam kesyirikan yang membatalkan keislaman dan keimanannya jika terus menerus seperti ini dengan tujuan utama dunia. Karena ia telah menyekutukan Allah dalam niat dan tujuan ibadahnya.

Beribadah karena patuh terhadap perintah Allah

Kita perlu mencontoh generasi terbaik umat ini yaitu para sahabat radhiallahu anhum. Yaitu mereka beribadah karena patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika turun perintah agama kepada mereka, maka mereka langsung melaksanakannya dengan sesegera mungkin tanpa harus bertanya-tanya dulu apakah manfaatnya, apakah hikmahnya, apa ada cara ibadah yang lain yang lebih cocok dengan keadaan mereka. Bahkan mereka tidak bertanya apakah hukumnya wajib atau sunnah sehingga jika sunnah mungkin ada kelonggaran untuk tidak melaksanakannya.

Allah menggambarkan tentang orang-orang mukmin,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

Salah satu contohnya adalah kisah ketika turun ayat pengharaman khamr dan perintah meninggalkannya. Tatkala mereka para sahabat sedang asyik minum khamr di mana ada di antara mereka yang sudah kecanduan dan saat ada yang sudah mulai mabuk. Kemudian ada yang membawa kabar bahwa khamr sudah diharamkan. Mereka pun langsung menghentikannya. Bahkan, wadah khamr yang sudah menempel di mulut seperti wadah bekam langsung mereka tumpahkan. Mereka berkata,

انتهينا ربّنا! انتهينا ربَّنا!

“Kami berhenti wahai Rabb kami, kami berhenti wahai Rabb kami”

[lihat Tafsir At-Thabari 10/527, Mu’assasah Risalah, Asy-Syamilah]

Kemudian diriwayatkan juga bahwa gentong-gentong khamr yang masih tersisa di rumah para sahabat pun ditumpahkan, hingga jalan-jalan kota Madinah becek dengan khamr [Lihat HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu].

Bagaimana yang boleh?

Kita boleh mengabungkan kedua niat tersebut yaitu beribadah dan mendapat keuntungan dunia, asalkan ibadah sebagai tujuan utama dan dunia sekedar sampingan dan buah hasilnya. Lebih-lebih syariat menyebutkan adanya keuntungan dunia dalam ibadah tersebut. Contohnya perintah melakukan silaturahmi dengan keuntungan dunia memperlancar rezeki dan memperpanjang umur [HR. Bukhari].

Begitu juga dengan keuntungan seperti fakta-fakta di atas. Maka hanya sekedar penambah keimanan, akan tetapi tetap saja motivasi ibadah adalah karena melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya.

Ikhlaslah, maka dunia akan menghampiri

Sebenarnya jika kita ikhlas beribadah, maka walaupun kita tidak tahu fakta-fakta di atas,tetap saja kita akan mendapatkan keuntungan dunia berupa kesehatan dan kesembuhan dari penyakit. Apalagi kita yakin bahwa apa yang Allah perintahkan pasti membawa kebaikan bagi jiwa dan raga kita di dunia dan di akhirat. Jika tidak perlu terlalu pusing-pusing dan memberatkan diri mencari hikmah ibadah dan manfaatnya, Ikhlas saja beribadah, maka dunia akan menghampiri kita.Hal ini juga kita terapkan dalam berbagai ibadah-ibadah yang lain dan keuntungan-keuntungan dunia yang lainnya bersama ibadah tersebut.

wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

15 Jumadil awal 1432 H, Bertepatan 7 April 2012

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslimafiyah.com di publikasikan oleh aycuna