Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak awal saya percaya bahwa Said Aqil Siradj akan celaka; sungguh-sungguh akan celaka. Mengapa ada asumsi seperti itu? Apakah ada dendam, dengki, atau benci ke Said Aqil Siradj? Apakah hal itu berdasarkan kalkulasi politik, hitung-hitungan mekanisme pencitraan publik, atau analisis media? Apakah berdasarkan wangsit, mimpi, ilham, dan sejenisnya?

Bukan, bukan sama sekali. Dasarnya adalah hukum keadilan itu sendiri. Dalam Surat Ar Rahmaan, Allah Ta’ala mengatakan: “Wa wadha-al mizan, allaa tath-ghau fil mizan, wa aqimul wazna bil qisthi, wa laa tuqshirul mizan” (Dia -Allah- telah meletakkan mizan keadilan, maka janganlah melampaui mizan itu, dan tunaikanlah timbangan secara adil, jangan mengurangi dalam timbangan). Ayat-ayat ini sangat menekankan, betapa dalam kehidupan ini Allah sudah meletakkan mizan keadilan, maka setiap insan dilarang melampaui mizan tersebut. Kalau melampauinya, berarti ia telah berbuat kezhaliman. Dalam hadits, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabba: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatin fil akhirah” (takutlah akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu adalah kegelapan di Akhirat nanti).

Said Aqil Siradj telah banyak berbuat kezhaliman, khususnya ketika dia baru datang dari Arab Saudi, setelah menyelesaikan studi doktornya. Baru juga sampai di Indonesia, Said sudah berkata : “Inni tubtu min Wahabi” (aku bertaubat dari Wahabi). Dalam masa 14 tahun mendapat beasiswa di Ummul Qura Makkah, Said Aqil begitu segut (gembul) dalam makan-minum, menikmati uang saku, mendapat penginapan, fasilitas, transportasi, dan segalanya yang dibutuhkan. Bahkan 4 orang anak-anak Said, lahir di Makkah, dalam naungan kemurahan kaum Wahabi. Tetapi setelah Said kenyang dari semua itu, dia mendadak “bertaubat” dari Wahabi.

Bukan hanya soal taubat dari Wahabi, Said Aqil juga mulai gandeng-renteng dengan Syiah (Iran). Selain tentunya, gandengan dengan Bank Dunia, dalam rangka “memerangi teroris”. Said tak segan-segan mulai membela simbol dan ajaran Syiah. Dia bahkan menjadi sponsor utama terbitnya “Trilogi Idahram” yang isinya amat-sangat memfitnah dakwah Wahabi dan orang-orang yang meniti jalan di atas dakwah itu (atau yang tidak terkait sekalipun). Permusuhan Said tidak tanggung-tanggung, dia mengklaim bahwa Wahabi adalah musuh negara, karena kebanyakan “teroris” berpaham Wahabi. Itu menurut klaim dia. Hingga di majalah Tempo, secara terang-terangan Said mengaku diri sebagai penganut Syiah.

Disini kita lihat betapa berat kezhaliman yang sudah dilakukan oleh Si Said ini. Dia sudah diberi kemurahan oleh orang lain; bukan berterimakasih, atau sekedar menghargai semua itu. Tetapi dia balas semua kebaikan orang dengan permusuhan, adu-domba, fitnah, penyesatan, penikaman, dan sebagainya. Obsesi Said, dia berharap agar kaum Wahabi diperangi di Indonesia, seperti Densus88 memberanras para terduga teroris selama ini. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Nah, alasan-alasan itulah yang membuat Said jatuh dalam bencana dan kecelakaan perih. Tidak ada tempat lari baginya, meski harus ke ujung dunia sekalipun. Mengapa? Sebab dalam diri dan kehidupan Said sudah tertanam sangat banyak jasa-jasa baik orang lain. Kebaikan-kebaikan yang pernah dia terima akan menjadi “kanker” yang akhirnya menyerang dirinya sendiri, dari segala arah, dengan tiada satu pun mampu mencegah. Said berbeda dengan Abdurrahman Wahid. Kalau Wahid melakukan permusuhan kepada Islam dengan modal sendiri (atau modal keluarga), maka Said memusuhi Islam, lewat jasa baik manusia lain.

Salah satu dari bentuk kecelakaan Said, selain serial lain yang pasti akan menimpanya, adalah terbongkarnya perjanjian rahasia antara Said dan elemen-elemen Iran. Berita lengkapnya di situs hidayatullah.com berikut ini:

Syuriah PBNU Batalkan Kerjasama dengan Iran

Hidayatullah.com–Syuriah PBNU dikabarkan telah membatalkan kerjasama dengan Iran. Kabar ini disampaikan HM. Cholil Nafis, Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU kepada http://www.hidayatullah.com, (11/02/2012), Sabtu pagi.

Menurut Cholil Nafis, diam-diam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Mustafa al-’Alamiyah, Qom, Iran. Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia.

“Said Aqil menandatangani MoU itu bersama Muhammad Zain (Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz PBNU) dan Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat ikut dalam rombongan,” kata Cholil.

Kata Cholil, sebelumnya Said Aqil selalu menyangkal adanya MoU tersebut. Namun, ketika ditunjukkan dokumen itu, Said Aqil tidak bisa mengelak lagi. Pada Desember 2011 lalu, MoU itu pun dibatalkan oleh Dewan Syuriah PBNU.

Cholil mengatakan, MoU itu dibatalkan karena diputuskan secara sepihak tanpa musyawarah. Lagi pula, katanya, PBNU menilai Iran bukanlah pihak yang tepat untuk diajak kerjasama, khususnya dengan NU.* (Publikasi: Sabtu, 11 Februari 2012).

Selain itu, kecelakaan besar yang diterima Si Said adalah gelombang Tsunami yang menimpa kaum Syiah di Indonesia saat ini. Sepanjang sejarah Nusantara, belum pernah Syiah mendapat perlawanan sangat besar, dari segala penjuru, dan sangat telak; kecuali saat ini. Ajaran-ajaran sesat Syiah benar-benar dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kelicikan, konspirasi, kebejatan, kezhaliman, kebohongan, serta kehinaan mereka; walhamdulillah, berhasil disampaikan kepada Ummat Islam, seterang-terangnya. Hingga semua ini menyadarkan kaum Muslimin, sehingga ada upaya MUI untuk segera mengeluarkan fatwa sesat bagi Syiah.

Semua itu adalah akibat dari perbuatan-perbuatan provokasi Said Aqil Siradj yang sangat nafsu dalam menyerang dakwah Sunnah, tanpa ampun. Di sisi lain, Said Aqil juga sangat nafsu ingin “mengkudeta” kedudukan da’i-da’i senior Syiah, seperti Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, Umar Shihab, dll. Kalau dai-dai itu semula selalu menampilkan diri dengan pembawaan lembut, penuh perhitungan, dan bersikap “cinta damai”; maka Said juga muncul dengan sikap arogan, bledag-bledug, memfitnah, menyerang, dan seterusnya.

Bersama sekumpulan anak-anak muda Syiah yang sudah kenyang “main mut’ah” Syiah melakukan gerakan politik tersendiri, keluar dari mainstream Jalaluddin Cs. Sepertinya Said ingin menjadi imam Syiah untuk kawasan Asia Tenggara. Itu kan “jabatan menggiurkan”… Ya kan Said? Namun karena dia terlalu nafsu, sehingga melakukan serangan-serangan tidak kira-kira. Akibatnya, kini Said menjadi sakit; dia terhimpit dimana-mana; dicurigai dimana-mana; bahkan mengalami penolakan-penolakan dari ulama-ulama senior NU (Jawa Timur).

Said…Said… engkau lupa, bahwa setiap hujatanmu kepada Wahabi, Salafi, atau kaum Sunni; semua itu akan kembali menjadi LAKNAT bagi dirimu sendiri. Mengapa wahai Said? Sebab terlalu banyak jasa-jasa baik orang yang kamu musuhi, kini semua jasa itu bersarang dalam tubuhmu, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setiap laknatmu wahai Said, akan kembali ke dirimu sendiri.

Harapan yang bisa disampaikan, ialah agar Ummat benar-benar sadar, bahwa: Setiap kezhaliman itu akan berbalas kecelakaan bagi para pelakunya. Innallaha laa yuhibbuz zhalimin (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang zhalim).

Said…Said…semakin lama engkau semakin sakit…

Al faqir ila Rahmatillah

(AM. Waskito)