Ditulis Oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Gelombang TsunamiDosa Anak Manusia, Musibah kebanyakan memang terjadi secara tiba-tiba. Namun sesungguhnya datangnya diawali dengan banyak sebab. Salah satunya adalah dosa-dosa yang kita lakukan.
Malangnya, ketika musibah telah berlalu, banyak di antara kita yang masih saja bergelimang dengan dosa bahkan jauh lebih buruk keadaannya dibanding sebelumnya.

Apa Sebab Umat Terdahulu Mendapat Siksa?
Tahukah anda apa yang menyebabkan bapak moyang manusia Adam ‘alaihissalam berikut istrinya Hawa, dikeluarkan dari surga, diturunkan dari tempat nan penuh kelezatan, kenikmatan, keindahan, dan kebahagiaan menuju ke negeri yang penuh kesedihan, kepedihan, dan susah payah?

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ. فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي اْلأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِيْنٍ

“Kami (Allah) berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kalian berdua sukai, hanya saja janganlah kalian mendekati pohon ini. Bila kalian lakukan, kalian akan termasuk orang-orang yang zhalim.’ Lalu keduanya (Adam dan Hawa) digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula (yang bergelimang kenikmatan). Kami berfirman, ‘Turunlah kalian (ke bumi)! Sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan’.” (Al-Baqarah: 35-36)
ِApa gerangan yang menyebabkan datangnya air bah setinggi gunung hingga menenggelamkan penduduk bumi seluruhnya kecuali mereka yang berada di atas bahtera Nuh ‘alaihissalam?

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلاَّ مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيْلٌ. وَقَالَ ارْكَبُوا فِيْهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوْحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلاَ تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِيْنَ. قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

“Hingga tatkala datang perintah Kami dan permukaan bumi telah memancarkan air, Kami berfirman kepada Nuh: ‘Angkutlah ke dalam bahtera itu masing-masing dari hewan secara berpasangan (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya (bahwa ia akan binasa oleh azab), dan angkut pula orang-orang yang beriman.’ Dan tidak ada yang beriman kepada Nuh kecuali sedikit. Nuh berkata, ‘Naiklah kalian ke dalam bahtera ini dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang air laksana gunung. Ketika itu Nuh melihat putranya maka ia berseru: ‘Wahai anakku, naiklah ke kapal ini bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang-orang yang kafir.’ Putranya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat melindungiku dari air bah ini.’ Nuh berkata, ‘Pada hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah selain Allah saja, Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menghalangi ayah dan anak ini, maka jadilah si anak termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”
(Hud: 40-43)

Apa gerangan yang menjadi sebab datangnya angin yang sangat dingin lagi amat kencang menerpa kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari berturut-turut, hingga mereka terkapar mati di atas bumi seakan-akan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk?

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ. فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus, hingga engkau lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah engkau melihat seorang saja dari mereka yang tertinggal (tidak dibinasakan)?” (Al-Haqqah: 6-8)

Apakah sebabnya hingga kaum Tsamud dikirimi suara yang amat keras hingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka?

وَأَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ. كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيْهَا…

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang zhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu….” (Hud: 67-68)

Apa pula yang menyebabkan perkampungan kaum Luth ‘alaihissalam berikut penghuninya diangkat demikian tinggi sampai-sampai para malaikat di langit mendengar suara lolongan anjing mereka, setelah itu perkampungan mereka dibalik sehingga bagian atasnya menjadi bagian bawah, disusul dengan datangnya hujan batu dari langit?

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيْلٍ مَنْضُوْدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu terbalik, yang di atas menjadi ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Hud: 82)

Ada apa dengan kaum Nabi Syu`aib ‘alaihissalam hingga mereka ditimpa gempa yang sangat keras hingga mereka terkapar menjadi mayat-mayat yang berserakan?

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِيْنَ

“Kemudian mereka ditimpa gempa yang sangat keras hingga jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” (Al-A’raf: 91)
Ada apa dengan Fir’aun beserta bala tentaranya hingga mereka ditenggelamkan di laut Merah?

فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلاً إِنَّكُمْ مُتَّبَعُوْنَ. وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُوْنَ

“(Allah berfirman kepada Nabi Musa,) ‘Berjalanlah engkau dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kalian akan dikejar (oleh Fir’aun dengan bala tentaranya). Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah setelah kalian berhasil sampai ke seberang laut. Sesungguhnya mereka (Fir’aun dan balatentaranya) adalah tentara yang akan ditenggelamkan’.” (Ad-Dukhan: 23-24)

Kenapa pula dengan Qarun hingga ia ditenggelamkan dalam bumi beserta rumah dan hartanya?

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُوْنَهُ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

“Kami pun membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang dapat menolongnya dari azab Allah dan tiadalah dia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya.” (Al-Qashash: 81)

Ada apa, mengapa dan kenapa dengan orang-orang terdahulu yang hancur binasa dengan azab?
Anda tentu dapat menjawabnya dengan tepat. Ya, karena dosa dan maksiat kepada Ar-Rahman.

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan ke dalam lautan. Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)

Jangan Meremehkan Dosa
Dosa dan maksiat yang diperbuat anak manusia memang mengundang kemudaratan. Kemudaratannya bagi hati seperti halnya kemudaratan racun bagi tubuh. Tidak ada satu kejelekan yang didapatkan di dunia dan di akhirat kelak kecuali karena sebab dosa dan maksiat. (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu, hal. 65)
Dan yang namanya dosa walaupun kecil tetaplah memberi mudarat, apalagi bila dilakukan terus menerus. Namun disayangkan, pada hari-hari ini kita melihat betapa kaum muslimin berenang dalam lumpur dosa dan genangan maksiat. Tak heran bila musibah datang silih berganti. Belum lama berlalu tsunami, datang gempa yang memorakporandakan beberapa negeri. Disusul banjir membenamkan jiwa dan harta. Bersamaan dengan itu, gunung meletus dengan aliran lahar panas menghanguskan. Di tempat lain, memancar lumpur panas yang menenggelamkan dan muncul wabah penyakit. Wallahul musta’an, Allah l lah satu-satunya tempat meminta pertolongan.

Gempa TsunamiSangat disayangkan kaum muslimin banyak yang tidak sadar, bahkan mereka meremehkan dosa. Jangankan dosa kecil, dosa besar saja begitu mereka gampangkan. Padahal Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar kita tidak meremehkan perbuatan dosa kecil sekalipun. Sebagaimana sabda beliau n yang tersampaikan pada kita lewat sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

إِيَّاكُمْ وَ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bila berkumpul pada diri seseorang akan membinasakannya.”
(HR. Ahmad, 1/403, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam catatan kakinya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad)

Sahl bin Sa’d z mengabarkan hal yang sama. Beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ، كَقَوْمٍ نَزَلُوْا فيِ بَطْنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوْبِ مَتَى يُؤْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

“Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil! Ibaratnya seperti satu kaum yang singgah di sebuah perut lembah. Masing-masing dari mereka pergi mencari ranting untuk menyalakan api, lalu datang seseorang membawa sebuah ranting. Seorang lagi juga datang membawa sebuah ranting. Demikian seterusnya hingga mereka dapat menyalakan api yang mematangkan roti-roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika pelakunya dihukum niscaya akan membinasakannya.”
(HR. Ahmad, 5/331, dishahihkan sanadnya di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 389)

Benar sekali ucapan sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika menyatakan: “Kalian sekarang melakukan perbuatan dosa yang di mata kalian perbuatan itu lebih tipis daripada rambut (sangat remeh, pent.). Padahal dulu di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kami menganggapnya termasuk perkara yang akan membinasakan.”
(HR. Al-Bukhari no. 6127)

Bilal bin Sa’d2 rahimahullahu menasihatkan: “Janganlah engkau memandang kepada kecilnya suatu maksiat, akan tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat.”3
(Diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam kitabnya Az-Zuhd hal. 460)

Karena itu tak patut kita meremehkan dosa dan maksiat, apapun dosa dan maksiat tersebut. Tapi sebaliknya kita selalu takut untuk berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalaupun tergelincir ke dalamnya, segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menutupnya dengan kebaikan, agar hati dapat bersih kembali dari titik-titik noda.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أََخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sesungguhnya jika seorang hamba berbuat kesalahan/dosa dititikkan pada hatinya satu titik hitam. Namun bila ia menarik diri/berhenti dari dosa tersebut, beristighfar dan bertaubat, dibersihkan hatinya dari titik hitam itu. Akan tetapi bila tidak bertaubat dan malah kembali berbuat dosa maka bertambah titik hitam tersebut, hingga mendominasi hatinya. Itulah ar-ran (tutupan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam ayat: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14)”
(HR. Ahmad, 2/297, At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain no. 1430)

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tertutupnya hati karena dosa dan maksiat. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

2 Beliau adalah seorang tabi’in, murid shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tinggal di Syam. Kata Abu Zur’ah Ad-Dimasyqi, “Bilal bin Sa’d di Syam semisal Al-Hasan Al-Bashri di Irak.” (Tahdzibul Kamal, 4/292)
3 Engkau bermaksiat kepada Sang Pencipta, Penguasa alam semesta ini, Pemilik kerajaan langit dan bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Permata Salaf ..
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al-I’tisham, 1/112)