Mencintai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berarti condongnya hati seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan kecondongan ini terlihat dia lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada siapapun dari seluruh makhluk atau apapun dari benda di dunia ini. 

Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia bahkan sampai diri sendiri.

Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari pada emas, perak dan seluruh alam semesta dan kekayaannya.

 
 
عنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
 
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku ia lebih cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.”  HR. Bukhari dan Muslim.

Maksud “tidak beriman” adalah tidak sempurna keimanannya dengan keimanan yang wajib, yang dengan keimanan tersebut dia terlepas dari siksa neraka dan dimasukkan kepada surga dengan kehendak Allah Ta’ala.
 
 
 Kenapa disebutkan orangtua dan anak, simak jawabannya:
 
 
فوالدا الشخص اللذان كانا سبباً في وجوده وقد قاما بتنشئته وتربيته والإحسان إليه، حتى بلغ مبلغ الرجال وصار رجلاً سوياً، وكذلك أولاده الذين تفرعوا منه، وهو يحبهم ويشفق عليهم، لا يؤمن حتى يكون رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إليه منهم، وذلك لأن المنفعة التي حصلت من الوالدين هي أنهما كانا سبب وجوده وقاما بتنشئته، لكن المنفعة التي حصلت له بسبب الرسول صلى الله عليه وسلم أعظم، وهي الهداية للصراط المستقيم، والخروج من الظلمات إلى النور، فصارت محبته تفوق محبة الوالدين والأولاد. [شرح سنن أبي داود ـ عبد المحسن العباد 27/ 67]
 
 
Artinya: “Kedua orangtua seseorang yang keduanya merupakan sebab adanya dia, dan keduanya telah mengurusnya, mendidiknya dan berbuat baik kepadanya sampai seseorang tersebut menjadi orang dewasa yang sempurna, demikian pula anak-anaknya yang merupakan cabang darinya, dia mencinti mereka, kasih sayang terhadap mereka, tidak beriman seseorang sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dia cintai daripada mereka seluruhnya, yang demikian itu karena kebaikan yang di dapat dari kedua orangtua adalah karena keduanya merupakan sebab adanya mereka berdua dan karena keduanya telah mengurusnya, akan tetapi kebaikan yang dia dapatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam lebih agung, yaitu petunjuk ke jalan yang lurus, dan keluar dari kegelapan menuju cahaya, oleh sebab inilah kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallamlebih tinggi daripada kecintaan kepada orangtua dan anak-anak.” Lihat syarah sunan Abu Daud oleh Syeikh Al Muhaddits Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah, 27/67 (syamila).

 
 
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – «الآنَ يَا عُمَرُ»
 
 
Abdullah bin Hisyam meriwayatkan bahwa kami pernah bersama nabi muhammad shallallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengandeng tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika itu Umar berkata Kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku,” lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammenanggapinya: “Tidak, demi jiwaku Yang  berada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu,” lalu Umar berkata: “Sesungguhnya sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”, lalu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekarang Wahai Umar (sempurna imanmu).” HR. Bukhari.

Kenapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dicintai?

Sebagian jawaban menarik dikemukakan oleh Imam An Nawawi rahimahullah:
 
 
وبالجملة فأصل المحبة : الميل إلى ما يوافق المحب ، ثم الميل قد يكون لما يستلذه الإنسان ويستحسنه ، كحسن الصورة والصوت والطعام ونحوها ، وقد يستلذه بعقله للمعاني الباطنة كحب الصالحين والعلماء وأهل الفضل مطلقا ، وقد يكون لإحسانه إليه ودفع المضار والمكاره عنه.
 
 
وهذه المعاني كلها موجودة في النبي صلى الله عليه وسلم لما جمع من جمال الظاهر والباطن ، وكمال خلال الجلال وأنواع الفضائل ، وإحسانه إلى جميع المسلمين بهدايته إياهم إلى الصراط المستقيم ودوام النعم والأبعاد من الجحيم
 
 
Artinya: “Ringkasnya, maka asal muasal kecintaan adalah kecondongan kepada apa yang disepakati orang yang dicintai, kemudian… kecondongan;  
1. kadang terjadi untuk sesuatu yang dianggap baik dan enak oleh manusia, seperti baiknya rupa, suara, enaknya makanan dan semisalnya. 
2. Dan terkadang terjadi untuk sesuatu yang dianggap baik oleh akalnya dan perasaannya akibat makna-makna yang ada dalam perasaan, seperti kecintaan kepada orang shalih, para ulama, orang-orang terhormat secara umum. 
3. Dan terkadang terjadi karena kebaikan orang tersebut kepadanya, menolak akan bahaya dan keburukan atasnya.
Dan semua hal ini ada pada diri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena terkumpul di dalam diri beliau berupa;  
1. Kebagusan lahir dan batin. 
2. Kesempurnaan sifat yang baik dan bermacam keutamaan dari tingkah laku yang mulia. 
3. Dan kebaikan beliau kepada seluruh kaum muslim dengan memberikan pertunjuk kepada mereka kepada jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan nikmat (surga) dan jauh dari api neraka. Lihat kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 2 Rabiul Awwal 1433H, Dammam KSA