Sekedar berbagi

Semut tidak terhutang dan tidak suka berhutang. Sebaliknya, semut gemar mendermakan apa yang dimiliki kepada siapa saja yang membutuhkan makanan. Fenomena ajaib ini dilatarbelakangi adanya satu organ istimewa pada semut. Yakni sebuah kantong ajaib yang terdapat di pintu masuk perut semut. Mungkin kita bisa menyebutnya dengan ‘dompet sosial’. Keberadaan kantong ini menjelaskan aspek psikologi dan akhlak dalam kehidupan semut. Kantong ini bukan lambung semut. Sebab, kantong ini tidak mengandung kelenjar-kelenjar pencernaan, tapi hanya berfungsi untuk menyimpan makanan yang ditumpuk di dalamnya dalam wujud cairan manis supaya tidak membusuk. Karenanya, kita juga bisa menyebut kantong ini dengan ‘teko gula’ atau ‘kaca kulit’.

Pakar semut, Maurice Maeterlinck, mengatakan, “Penelitian dan pengamatan telah menunjukkan bahwa tak dapat disangkal semut merupakan makhluk di dunia ini yang paling cerdik, paling dermawan, paling berani, paling tulus dan paling suka mementingkan orang lain. Ia bisa memberikan semua yang dimiliki tanpa perlu merenung atau berpikir panjang. Selain itu, ia juga tak pernah menuntut kesetiaan (baca: balas budi). Semut tidak merasa memiliki sesuatu, bahkan tidak pula isi dalam tubuhnya. “Dompet sosial” yang menempel pada tubuhnya pun sejatinya untuk tabungan berbuat baik. Ia sudah cukup merasa sangat bahagia bila mampu memberi setiap yang membutuhkan makanan dari kantong ini.”

Sudah banyak penelitian dilangsungkan pada perilaku semut terkait “dompet sosial” ini dan bagaimana semut berinteraksi dengan yang lain melalui kantong ini. Para ilmuwan sampai pada satu hasil yang mencengangkan akal dan memunculkan kekaguman serta ketakjuban pada makhluk kecil ini yang banyak kita jumpai di sekeliling kita, bertempat tinggal di rumah kita dan mengerubungi kita saat senggang. Pagi dan sore makhluk ini berseliweran di hadapan kita seolah-olah ingin mengarahkan perhatian kita pada sebagian keindahan kreasi Allah, ketelitian-Nya, tanda kemahiran-Nya dalam menciptakan serta bukti keagungan-Nya. Juga pada sebagian akhlak yang disandangnya dan perilaku yang Allah tetapkan padanya, di mana manusia pun tidak sanggup melestarikannya, bahkan juga tidak bisa menyerukannya.

Telah diungkap, semut-semut dalam satu sarang, semuanya makan dari ruang penyimpanan dan dengan jumlah makanan yang selalu disediakan di hadapan penghuni sarang. Tak ada kekhawatiran seekor semut kelaparan, sedang lainnya kekenyangan. Dalam hal makan, semua penghuni sarang mendapat perlakuan sama. Adapun “dompet sosial” tempat semut menyimpan makanan, itu dipersiapkan untuk memberi makanan semut yang bukan penduduk sarangnya, baik dari satu koloni maupun tidak, yang jauh maupun dekat, yang telah dikenal maupun yang masih asing. Bahkan, akhlak baik dan keindahan perilaku semut sampai mendorongnya mendermakan makanan dari “dompet sosialnya” pada semut musuh atau semut yang menyerang.

http://kisahmuslim.com/fenomena-kehidupan-sosial-semut/