Rasulullah dokter teladan

Syarmadel bin Qubats Al-Ka’bi dahulu kala terkenal sebagai seorang dokter di kalangan Arab, yang tinggal di daerah Najran. Ketika ia tahu Rasulullah memiliki pengetahuan tentang kedokteran, ia bergegas mendatanginya, kemudian mengujinya dengan mengajukan berbagai pertanyaan tentang penyakit dan cara pengobatannya. Rasulullah saw pun mampu menjawab semua pertanyaan. Namun, saat rasul balik bertanya tentang satu penyakit, Syarmadel terkejut karena tak bisa menjawabnya. Lalu, ia berkata, “ Wahai Rasulullah, Demi Bapak dan Ibuku, aku adalah seorang dukun dan tabib di kalangan kaumku, apa yang harus aku lakukan? Lalu Rasul menjawab,” bedahlah uratnya, tusuklah jika terpaksa dan gunakanlah sana (sejenis tumbuhan) dan janganlah engkau mengobati seseorang sebelum mengetahui jenis penyakitnya.”

Hingga tahun 1996, ilmu kedokteran modern masih menyatakan jumlah sendi 340. Namun, setelah diteliti lagi ternyata ada susunan sendi yang menyatu, jika dipisah-pisah lagi, jumlahnya menjadi 360, sesuai dengan hadist nabi.

Syarmadel langsung menunduk dan mencium lutut Rasul, kemudian memeluk Islam, dan berkata, ”Wahai Muhammad saw, demi zat yang telah mengutusmu dengan hak, engkaulah yang lebih pandai dari aku dalam kedokteran, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusanNya. Dari kisah inilah, tak bisa disangkal bahwa nabi Muhammad saw adalah seorang dokter. Meski tak ada satu kisah pun yang menceritakan dari mana nabi belajar medis. Tentu saja, sebagai utusan Allah, nabi memiliki ilmu mukasyafah, yang bersifat batiniah. Hanya Allahlah yang mengajarkan ilmu ini. “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Karunia Allah sangat besar atasmu (QS. An-Nisa: 113)

Informasi tentang medis dan anatomi tubuh manusia banyak ditemukan dalam berbagai hadist nabi, yang kemudian dibuktikan dalam ilmu kedokteran modern saat ini. Misalnya, soal sendi manusia yang disebutkan nabi berjumlah 360. Hingga tahun 1996, ilmu kedokteran modern masih menyatakan jumlah sendi 340. Namun, setelah diteliti lagi ternyata ada susunan sendi yang menyatu, jika dipisah-pisah lagi, jumlahnya menjadi 360, sesuai dengan hadist nabi. Informasi lain yang menakjubkan, misalnya soal fase-fase penciptaan manusia. Seorang pakar embrio dari Kanada, Kate Moore sempat penasaran dan ingin membuktikan secara ilmiah apa yang ditulis dalam Al-quran dan Hadist, tentang proses embrional manusia yang mencapai lima periode, mulai dari tahap saripati tanah, air mani, segumpal darah, segumpal daging dan terakhir tulang belulang yang dibalut dengan daging.

Proses identifikasi kelamin janin pun, sudah dijelaskan dalam sebuah hadist, yaitu setelah air mani mencapai umur empat puluh dua malam di dalam rahim ibunya. Setelah berbagai pengujjian laboratorium inilah, Kate Moore mendapat kebenaran, sehingga ia tersungkur takjub dan masuk islam Berbagai bukti ilmiah ini menambah kadar keyakinan terhadap kesempurnaan Islam. Jejak tauladan yang ditinggalkan Nabi pun, jadi rujukan yang tak lekang ditelan masa. Termasuk, bagaimana nabi menjelaskan soal kesehatan dan pengobatan.

Filsafat thibbun nabawi, seperti diulas Abdul Basith Muhammad Sayyid dalam bukunya, Ath-Thib Al ‘Wiqa’i minal Quran was-Sunah mengacu pada tiga hal, yaitu, pertama, membersihkan dari unsur khurafat dan sihir: kedua, lebih mementingkan tindakan pencegahan penyakit; ketiga, mempraktekan tindakan pengobatan saat dibutuhkan. Cara hidup nabi yang sehat sudah banyak diulas. Seperti diungkapkan oleh Anas ra, “Rasulullah saw berkulit cerah, seakan-akan keringatnya adalah mutiara, jalannya tegap, tidak pernah menyentuh sutera, dan tidak ada yang lebih lembut dari telapak tangan nabi saw. Aku tidak pernah mencium minyak wangi misik dan ambar yang lebih wangi dari aroma beliau (Musnad Ahmad).

Dalam berbagai hadist, nabi menyulas soal kebersihan sangat detail, baik kebersihan fisik, maupun lingkungan. Ia mengajarkan kepada umatnya, mulai memotong kuku, membersihkan ruas jari, mencabut bulu ketiak, bersiwaq hingga bagaimana cara beliau makan. Bahkan, untuk soal makan saja, nabi merincinya, karena nabi berkata pada istrinya, “wahai Aisyah menahan diri adalah obat, perut adalah sarang penyakit, dan biasakan setiap anggota badan sesuai kemampuannya.” Beberapa anjuran dalam soal makan dan supaya terhindar dari penyakit, misalnya melarang meniup makanan atau bernapas dalam gelas, tidak pernah tidur dengan tangan masih ada bekas makanan dan gigi ada bekas makanan, tidak makan kecuali setelah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, mengkonsumsi buah-buahan dan biji-bijian serta madu, berpuasa dan berolahraga.

Fakta-fakta di atas menunjukkan betapa Rasululloh ternyata juga mengerti dan paham soal kesehatan. Islam sebagai sebuah pedoman hidup yang paripurna ternyata tidak hanya mengatur persoalan nilai-nilai saja, namun ternyata juga memberikan panduan yang rinci bagi umatnya dalam menyelesaikan problem kesehatannya. Pada edisi berikutnya akan diulas tentang pedoman-pedoman dan syariat pengobatan yang seharusnya dipahami oleh umat Islam. Karena tidak sedikit muslim yang terjebak kesyirikan dan kemurtadan ketika berikhtiar mencari solusi bagi problem kesehatannya. Alih-alih mendapatkan berkah kesehatan, banyak kaum muslim malah terjerembab dalam praktek kemusyrikan dan bahkan tidak jarang yang tergadaikan aqidahnya alias murtad. Naudzubillah ……….